Pementasan Seni

Tarian Silek Harimau dan Lagu Kampuang Nun Jauh di Mato Berpadu Indah di Pagelaran Sabang Merauke

Gerakan tarian Silek Harimau yang dinamis menyimpan kekuatan yang luar biasa yang selalu disandarkan pada kesadaran berketuhanan.

Dokumentasi Pagelaran Sabang Merauke
Pagelaran Sabang Merauke memulai rangkaian pementasan spektakuler di Ciputra Artpreneur, kawasan Mega Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu-Minggu (12-13/11/2022). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Suara saluang terdengar begitu indah saat sejumlah penari pria memeragakan adegan perkelahian.

Suara seruling bambu tersebut kemudian diiringi suara talempong, alat musik khas Sumatera Barat

Suasana terasa semakin meriah ketika Kikan Namara menyanyikan Kampuang Nun Jauh di Mato diiringi tarian para penari pria berbadan kekar yang terus bergerak lincah mengikuti alunan talempong dan saluang.

Kikan Namara bekerja sebagai music director sekaligus lead vocal di Pagelaran Merah Putih. Pagelaran Sabang Merauke memulai rangkaian pementasan spektakuler di Ciputra Artpreneur, kawasan Mega Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu-Minggu (12-13/11/2022).
Kikan Namara bekerja sebagai music director sekaligus lead vocal di Pagelaran Merah Putih. Pagelaran Sabang Merauke memulai rangkaian pementasan spektakuler di Ciputra Artpreneur, kawasan Mega Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu-Minggu (12-13/11/2022). (Dokumentasi Pagelaran Sabang Merauke)

Tari tersebut bernama Silek Harimau, yang diambil dari filosofi harimau yang bergerak lincah, gesit dan begitu indah.

Gerakan tarian Silek Harimau yang dinamis menyimpan kekuatan yang luar biasa yang selalu disandarkan pada kesadaran berketuhanan.

Di tanah Minang, satu-satunya daerah di Indonesia yang menganut sistem kekerabatan matrilineal (garis keturunan dari ibu), para lelaki menjadi petarung yang siap mempertahankan marwah negeri.

Baca juga: Kikan Namara Siap Beraksi Bareng Band Cokelat, Bagaimana Jika Garap Lagi Pagelaran Sabang Merauke?

Baca juga: Ketika Tarian dan Lagu Daerah Disatukan di Pagelaran Sabang Merauke, Ada Tawa, Tangisan hingga Haru

Suara Kikan Namara yang merdu semakin 'menghidupkan' lagu Kampuang Nun Jauh di Mato ciptaan Oslan Husein pada 1931 itu.

Lirik lagu Kampuang Nun Jauh di Mato menceritakan tentang kerinduan tehadap kampung halaman yang jaraknya jauh dari keluarga dan sahabat di kampung.

Lagu tersebut menggambarkan tradisi orang Minangkabau yang senang merantau keluar daerah.

Pagelaran Sabang Merauke memulai rangkaian pementasan spektakuler di Ciputra Artpreneur, kawasan Mega Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu-Minggu (12-13/11/2022).
Pagelaran Sabang Merauke memulai rangkaian pementasan spektakuler di Ciputra Artpreneur, kawasan Mega Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu-Minggu (12-13/11/2022). (Dokumentasi Pagelaran Sabang Merauke)

Repertoar tersebut tersaji indah dan menjadi salah satu keistimewaan di Pagelaran Sabang Merauke yang digelar di Ciputra Artpreneur, kawasan Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, pada 12-13 November 2022.

Di sepanjang Pagelaran Sabang Merauke, puluhan lagu daerah diperdengarkan, dan semakin istimewa dengan pertunjukan tari dan gerak, hingga dihadirkan alat musik tradisional asli dari daerah di Indonesia.

Sebelum dinyanyikan Kikan Namara di Pagelaran Sabang Merauke, lagu Kampuang Nan Jauh di Mato telah dipopulerkan banyak penyanyi.

Baca juga: Pagelaran Sabang Merauke Wujud Mencintai Negeri hingga Upaya Merawat Kelestarian Budaya Indonesia

Baca juga: Kikan Namara Selalu Terharu hingga Meneteskan Air Mata Setiap Tampil di Pagelaran Sabang Merauke

Di era tahun 1990-an, ada penyanyi Betharia Sonata yang pernah menyanyikan kembali lagu Kampuang Nun Jauh di Mato ini.

Chiquita Meidy yang kala itu menjadi penyanyi cilik juga sempat menyanyikan Kampuang Nan Jauh di Mato.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved