Rusuh Arema Persebaya

Korban Meninggal Tragedi Kanjuruhan Tambah Jadi 131 Orang, 12 di Antaranya Wafat di Non Faskes

Penambahan data korban yang meninggal itu terjadi setelah validasi data dari korban yang dibawa ke non fasilitas kesehatan (faskes).

Editor: Yaspen Martinus
SURYAMALANG
Korban meninggal akibat ricuh suporter Arema FC di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, bertambah menjadi total 131 orang. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Korban meninggal akibat ricuh suporter Arema FC di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, bertambah menjadi total 131 orang.

Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo menyatakan, data tersebut diketahui setelah penyidik melakukan koordinasi dan validasi data bersama sejumlah rumah sakit dan Dinas Kesehatan setempat.

"Ya (korban meninggal dunia 131 orang), setelah semalam dilakukan coklit bersama Kadinkes, tim DVI dan direktur RS," kata Dedi saat dikonfirmasi, Rabu (5/9/2022).

Dedi menuturkan, penambahan data korban yang meninggal itu terjadi setelah validasi data dari korban yang dibawa ke non fasilitas kesehatan (faskes).

Total, kata Dedi, korban yang meninggal dunia di non faskes mencapai 12 orang.

Sedangkan korban yang meninggal dunia di rumah sakit paling banyak berada di RS Wafa Husada, sebanyak 53 orang.

Baca juga: Jokowi Digugat ke PN Jakpus karena Diduga Pakai Ijazah Palsu, Stafsus: Dapat Dibuktikan dengan Mudah

"Penambahan data yang meninggal di non faskes, karena tim mendatanya korban yang dibawa ke RS," jelasnya.

Sebelumnya, kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang antara suporter dengan aparat, terjadi usai Arema FC takluk 3-2 dari sang tamu, Persebaya Surabaya, Sabtu (1/9/2022) malam.

Baca juga: Belum Mau Diperiksa KPK, Gubernur Papua Lukas Enembe Syok dan Stres Jadi Tersangka

Setelah itu, suporter mulai masuk ke lapangan dan diadang oleh aparat keamanan. 

Kerusuhan terjadi akibat ribuan dari suporter Aremania turun ke lapangan, begitu di lapangan, mereka diadang aparat.

Dalam penanganan itu, polisi menggunakan gas air mata untuk mengurai suporter, yang diduga menjadi penyebab banyaknya korban jiwa berjatuhan.

Baca juga: Legislator Nasdem Bilang Usia 21 Tahun Harusnya Bisa Jadi Capres, Asal Jangan Cuma Lulus SMA

Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta mengatakan, justru penggunaan gas air mata sudah sesuai prosedur.

Pihak kepolisian menggunakan gas air mata, karena suporter sudah bertindak anarkis dan masuk ke area lapangan.

Setelah penembakan gas air mata, suporter berhamburan ke pintu 12, dan membuat area itu mengalami penumpukan orang.

Baca juga: Kasus Ferdy Sambo Segera Disidang, Mahfud MD: Kapolri Sangat Serius Sejak Awal

“Saat terjadi penumpukan, itu jadi banyak yang mengalami sesak napas.”

“Seandainya suporter mematuhi aturan, peristiwa ini tidak akan terjadi, semoga tidak terjadi lagi peristiwa semacam in,” papar Nico Afinta saat konferensi pers, Minggu (2/20/2022). (Igman Ibrahim)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved