Perang Rusia Ukraina
DPN Permahi Gelar Webinar Perang Rusia-Ukraina
Ruman mengatakan, dari sisi aspek hukum internasional terdapat tiga pokok penting yang perlu diperhatikan bersama dalam kasus Rusia dan Ukraina.
Fahruroji menceritakan, secara singkat perang tersbut bisa dibaca dari sejarah domestik pasca naiknya Vicron Yanukovich yang pro-rusia dan adanya aksi Euromaidan dan revolusi yang di dukung Uni Soviet.
Ada juga negara yang lepas dan masuk kedalam federasi Rusia serta terjadinya pergolakan di wilayah Ukraina Timur seperti Donbass yang memiliki milisi anti Kiev yang di dukung Rusia.
"Secara Regional dan Internasionalnya dititik beratkan pada Hubung Rusia Ukraina terpecah sejak retaknya Uni Soviet, ada Ancaman perluasan NATO ke Benua Timur dan beberapanegara yang ex Blok masuk kedalam NATO. Serangan Militer dari Rusia ke Ukraina disebabkan oleh tidak dipatuhinya Memorendum Minsk (24 September 2014) dan permohonan dari Republik Rakyat Luhansk dan Donetsk," katanya.
Baca juga: Dunia Islam Pahami Operasi Militer Rusia di Ukraina, Karenanya Tak Ada Negara Arab Jatuhkan Sanksi
Di tempat yang sama, Dosen Hukum Internasional yang juga Akademi Hukum Rusia Kementerian Yustisia Federasi Rusia, Raymond Junior mengatakan bahwa dari segi politik AS dan barat telah membentuk diplomatik anatar negara-negara untuk membatasi Rusia.
Sedangkan respon Rusia dalam bidang politik adalah, menggalang kekuatan ODKB/CSTO, Revitalisasi BRICS, SCO.
"Jika kurang efektif, Rusia akan TurnTo east artinya Povorot Na Vostok (Menoleh Ke Timur) dan Vozvqrsheniye Na Vostok (Kembali ke Timur). Adapun untuk Ukraina, akan dibantu oleh negara barat dalam persenjataan dan menciptakan Ukraina sebagai negara Palestina ke II," katanya.
Baca juga: Putin Bangga Serangan Siber dan Sanksi ke Rusia oleh Barat, Gagal Total
Raymond mengatakan, dalam memahami permasalahan perang ini harus memiliki referensi dan pembelajaran yang baik. Tidak bisa hanya mengutip dari media baik itu sudut pandang Rusia ataupun Ukraina. Kalaupjm jika menilisik dari Hubungan Ekonomi, apabila Rusia dikeluarkan dalam G20 tentunya akan berubah menjadi G19.
"Pada akhirnya kegiatan ini akan memiliki 2 pilihan yaitu Baik atau Buruk. Mengingat, Rusiamerupakan negara yang memiliki pemasokan terbesar atas gandum," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/sebuah-bangunan-rusak-setelah-serangan-Rusia-di-Kyiv-pada-29-April.jpg)