Warga Jabodetabek Disarankan Tak Beraktivitas di Luar Rumah pada Pagi Hari, Apalagi Berolahraga

Partikulat (PM2.5) adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron (mikrometer).

Editor: Yaspen Martinus
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Data menunjukkan PM 2.5 dapat mengurangi harapan hidup di Jakarta hingga 5,7 tahun karena polusi udara. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Partikulat (PM2.5) adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron (mikrometer).

Jika terhirup dan masuk ke dalam paru-paru, maka tubuh akan mengalami inflamasi.

Selain dapat menimbulkan gangguan pernapasan, polusi ini dapat menyebabkan prematur dan penurunan kecerdasan.

Baca juga: Pohon Ternyata Tidak Berdampak Signifikan Perbaiki Kualitas Udara Perkotaan

Bahkan, data menunjukkan 2.5 dapat mengurangi harapan hidup di Jakarta hingga 5,7 tahun karena polusi udara.

Hal ini dipaparkan oleh Co-founder & Chief Growth Officer Nafas Piotr Jakubowski.

Namun siapa sangka? Ternyata kualitas udara paling buruk terjadi pada pagi hari.

Baca juga: Tak Ada Nama Soeharto di Keppres Hari Penegakan Kedaulatan Negara, Mahfud MD: Ini Bukan Buku Sejarah

Padahal, menurut Piotr, 75 persen responden dari penelitian Katadata percaya pagi hari memiliki udara terbaik dan segar.

Hal ini dikarenakan masih belum banyak mobil dan motor di jalanan.

Selain itu, udara masih terasa sejuk, kondisi lalu lintas masih sepi, sehingga minim polusi udara.

Baca juga: 80 WNI dan Tiga WNA Tiba di Indonesia dari Ukraina, 14 Orang Masih di Bukares karena Covid-19

Karena itu, tidak mengherankan bila animo masyarakat besar berolahraga pada pagi hari, yaitu sekitar jam pukul 05.00-09.00 WIB, termasuk saat pandemi Covid-19.

Padahal, berdasarkan hasil riset Nafas sepanjang 2021, AQI Jabotabek pada pagi hari antara pukul 04.00 dini hari hingga pukul 09.00 WIB masih cukup tinggi, yaitu sekitar 100-160. Hal itu menunjukkan kualitas udara relatif tidak baik.

"Ini artinya, pagi hari bukan waktu terbaik untuk berolahraga."

"Justru saat itu masyarakat di Jabotabek disarankan tidak melakukan aktivitas di luar rumah," beber Data Scientist Nafas Prabu Setyaji. (Aisyah Nursyamsi)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved