Berita Jakarta

PERUMDA Pasar Jaya Beberkan Alasannya Ingin Revitalisasi Pasar Induk Kramatjati Jakarta Timur

Revitalisasi diperlukan karena kondisi Pasar Induk Kramatjati cukup kumuh, padahal pasar ini menjadi pusat distribusi logistik di wilayah Jabodetabek.

Warta Kota/Joko Supriyanto
Dirut Perumda Pasar Jaya Arief Nasrudin merasa kondisi pasar yang kurang tertata dan kumuh tidak dapat dibiarkan untuk melayani masyarakat Jabodetabek, Rabu (5/1/2022). Foto ilustrasi: Stok bawang putih di pedagang Pasar Induk Kramatjati, Rabu (28/3). 

WARTAKOTALIVE.COM, GAMBIR - Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Arief Nasrudin membeberkan alasannya ingin merevitalisasi Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur pada tahun 2022 ini.

Arief menyebut, revitalisasi diperlukan karena kondisi Pasar Induk Kramatjati cukup kumuh, padahal pasar tersebut menjadi pusat distribusi logistik di wilayah Jabodetabek.

“Kita ketahui bersama penataan Pasar Induk seperti apa, dan saya sering dikomplain karena penataan itu. Kita (Pasar Induk) dikunjungi (orang) dari berbagai daerah, terakhir kemarin itu dengan Bank Indonesia pada akhir bulan Desember 2021,” kata Arief pada Rabu (5/1/2022).

Hal itu dikatakan Arief saat berdialog dengan pedagang sayur dan buah Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur yang difasilitasi Fraksi Gerindra DPRD DKI Jakarta, di Gedung DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Dalam kesempatan tersebut, Arief merasa kondisi pasar yang kurang tertata dan kumuh tidak dapat dibiarkan untuk melayani masyarakat Jabodetabek.

“Itulah kenapa saya berpikir, Pasar Jaya harus berani ambil aksi karena sebenarnya banyak juga pedagang atau pasar yang memang belum waktunya mengajukan revitalisasi (tapi kemudian direvitalisasi),” ujar Arief.

Baca juga: Tidak Hanya Sudah Kumuh, Ini Alasan Lain Pasar Jaya Ingin Rrevitalisasi Pasar Induk Kramat Jati

Baca juga: Masih Kantongi SHPTU Hingga 2024, Pedagang Pasar Induk Kramat Jati Tolak Revitalisasi

Dalam kesempatan itu, Arief mengamini kondisi Pasar Induk Kramatjati memang masih kokoh.

Namun secara penataan dianggap kurang layak dengan bau sampah yang begitu menyengat, atap bocor di mana-mana, cat dinding sudah tidak cerah lagi, lantai keramik rusak dan sebagainya.

“Jadi cukup banyak masalah di Pasar Induk, kemudian kita coba menata itu semua. Yuk dibuat sosialisasi kepada para pedagang seperti apa responnya, karena kami berpikirnya untuk kebaikan bersama,” jelas Arief.

Kata dia, persaingan bisnis pasar tradisional di masa mendatang bakal semakin sengit.

Dia khawatir akan banyak pasar induk baru milik swasta bertebaran, karena dalam regulasi memang diizinkan.

Baca juga: VIDEO Pedagang Pasar Induk Tangerang Ungkap Harga Cabai Meroket Tembus Rp 120 Ribu

“Saya melihatnya ke depan pak, nggak sekarang. Ke depannya persaingan kita akan lebih besar, saya takut akan timbul pasar induk-pasar induk yang bukan dikelola pemerintah. Di Perda soal perpasaran, itu boleh pasar induk dibuat swasta,” imbuhnya.

“Kemudian kapan kita bisa bersaing kalau kita bertemu dengan pesaing seperti ini? Sementara tanggung jawab kami mengelola pedagang-pedagang kecil di Jakarta,” lanjutnya.

Jika kondisi pasar seperti ini terus didiamkan, kata Arief, bukan tidak mungkin konsumen Pasar Induk Kramatjati akan berpaling ke pasar induk yang dikelola swasta.

Tentunya pasar induk yang dikelola swasta lebih baik dari sarana dan prasarananya.

Baca juga: JADWAL SIM Keliling Kamis 6 Januari 2022 DKI Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi

“Apa yang kami sampaikan saat ini, tidak ada niat untuk menzolimi (pedagang). Tidak ada maksud membakar-bakar atau mengadu domba, karena Bapak-Ibu semua bagi kami berperan,” imbuhnya.

Selain itu, kata dia, kondisi sejumlah pasa tradisional termasuk Pasar Induk Kramatjati dianggap belum mencerminkan refleksi wajah Jakarta.

Sebagai daerah yang menyandang status Ibu Kota Negara, harusnya pasar menjadi tempat yang nyaman dan aman dalam bertransaksi.

“Ide ini tercetus sebelum Covid-19 pak, karena memang tatanan dan tata kelola pasar induk pada saat ini belum mencerminkan sebuah refleksi mukanya Jakarta,” ungkapnya.

Baca juga: GANJIL Genap DKI Jakarta Kamis 6 Januari 2022, Simak Daftar Titik Lokasinya Berikut Ini

Seperti diketahui, ratusan pedagang yang tergabung dalam Forum Silaturahmi dan Musyawarah Pedagang Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur menolak proyek revitalisasi pasar dalam waktu dekat.

Alasannya mereka masih mengantongi Surat Hak Pemakaian Tempat Usaha (SHPTU) yang berlaku sampai 2024 mendatang.

“Beberapa waktu lalu kami rapat akbar, kami sepakat tetap satu pendirian bahwa apa yang menjadikan kami menolak revitalisasi, satu SHPTU itu berakhir pada 17 Desember 2024,” kata Ketua Forum Silaturahmi dan Musyawarah Pedagang Pasar Induk Kramatjati, Ukraini pada Rabu (5/1/2022). (faf)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved