Orang muda bisa terkena penyakit jantung, Ini Alasannya
Kematian mendadak kerap dihubungkan dengan kejadian kecelakaan dan penyakit jantung.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kematian mendadak kerap dihubungkan dengan kejadian kecelakaan dan penyakit jantung. Berbeda dengan kecelakaan yang sifatnya spontan, penyakit jantung sebenernya tidak bersifat spontan.
Jantung sudah memberikan tanda-tanda, namun seringkali diabaikan. Dan akhirnya fatal.
Apalagi ketika penyakit jantung tersebut merengut nyawa orang yang masih berusia muda. Pasti akan muncul di benak, 'kok bisa ya', dia kan rajin olahraga, dan lainnya.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Indonesia (Riskesdas) tahun 2018, angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah semakin meningkat dari tahun ke tahun dan semakin bertambah muda.
Baca juga: Good Doctor Komitmen Beri Layanan Konsultasi Dokter dan Obat Gratis untuk Pasien Covid yang Isoman
Baca juga: Resmi Diluncurkan, Aplikasi Good Doctor Jadi Mitra Kementerian Kesehatan Berbasis Telemedicine
Sedikitnya 15 dari 1000 orang atau sekitar 2.784.064 orang di Indonesia menderita penyakit jantung, sehingga penyakit jantung koroner menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Faktanya, satu dari 10 orang Indonesia meninggal karena penyakit ini (@KemenkesRI).
"Dahulu penyakit ini banyak menyerang kelompok usia lanjut, namun kini mulai mengancam kelompok usia yang lebih muda," kata Danu Wicaksono, Managing Director Good Doctor Technology Indonesia (GDTI) dalam siaran pers yang diterima Wartakotalive.com, Selasa (5/10/2021).
Berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi penyakit jantung koroner dan gagal jantung pada kelompok usia produktif (15—64 tahun) adalah 3,33 persen.
Sementara itu, Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi penyakit jantung pada kelompok usia yang sama mencapai 9,1 persen.
Baca juga: Anak dengan Kelainan Jantung Bawaan Memiliki Risiko yang Signifikan Terjadinya Malnutrisi.
Baca juga: GIGI Berlubang Jangan Anggap Enteng, karena Pengaruhi Kesehatan Jantung, Ginjal hingga Otak
Alasan utamanya adalah karena gaya hidup yang tidak sehat. Mulai dari makan makanan yang tidak sehat, minum alkohol, merokok, kurang aktivitas fisik hingga depresi.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2018, menunjukkan bahwa 95,5 persen masyarakat Indonesia kurang mengonsumsi sayur dan buah; 33,5 persen masyarakat kurang aktivitas fisik; 29,3 persen penduduk usia produktif merokok setiap hari; 31 persen mengalami obesitas sentral dan 21,8 persen mengalami obesitas pada orang dewasa.
Dengan meningkatnya kasus masyarakat Indonesia yang hidup dengan penyakit kronis akibat gaya hidup yang kurang gerak, manajemen stres yang buruk, dan pola makan yang tidak sehat, Danu mengimbau masyarakat untuk melakukan pendekatan preventif dengan mengadopsi teknologi kesehatan digital cerdas yang dirancang untuk membantu menjaga kesehatan mental dan fisik Anda.
Apalagi, dari perspektif kesehatan penduduk, tingginya angka penderita penyakit jantung juga meningkatkan biaya kesehatan negara secara keseluruhan.
Baca juga: Anak dengan Kelainan Jantung Bawaan dapat Disembuhkan dan Menjalani Kehidupan yang Normal
Baca juga: Tingkatkan Layanan Rumah Sakit Jantung Diagram Siloam Cinere Depok Buka Executive Clinic
Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menunjukkan adanya peningkatan biaya kesehatan untuk penyakit jantung dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2014, penyakit jantung membebani BPJS Kesehatan sebesar Rp 4,4 triliun, yang kemudian meningkat menjadi 7,4 triliun pada tahun 2016, dan selanjutnya terus meningkat pada tahun 2018, sebesar Rp 9,3 triliun.
Apabila kondisi ini terus berlanjut, akan berdampak besar terhadap sumber daya manusia (SDM) dan perekonomian Indonesia di masa depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/suasana-rs-siloam-depok.jpg)