lifestyle
Stop Bullying Anak Bibir Sumbing untuk Jaga Kesehatan Mentalnya
Anak-anak dengan bibir sumbing atau celah langit-langit mulut tak jarang mendapatkan perlakukan berbeda.
Penulis: Ign Agung Nugroho | Editor: LilisSetyaningsih
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Anak-anak dengan bibir sumbing atau celah langit-langit mulut tak jarang mendapatkan perlakukan berbeda.
Bahkan, mereka mengalami bullying ketika berusaha berbaur bersama teman-teman sebayanya.
Dan lebih diperparah lagi, keluarga, seperti saudara atau orangtua menganggap, anak dengan bibir sumbing itu memalukan atau aib.
Perlakuan berbeda ini, dapat membuat kesehatan mental anak terganggu dan merasa tidak dicintai.
Baca juga: Kolaborasi Smile Train, Pusdokkes Polri, dan Perapi Gelar Operasi Bibir Sumbing Gratis 1.000 Anak
Baca juga: Selebgram dan Kreator Konten Tiffani Afifa Ajak ARMY BTS Ikut Donasi Untuk Operasi Bibir Sumbing
Mengacu data dari Smile Train, terdapat 540 bayi di dunia dan 1 dari 700 bayi di Indonesia terlahir dengan kondisi sumbing.
Nah, jika tidak ditangani dengan segera, berpotensi memberi dampak pada fisik, tetapi juga dari segi psikis.
Hanlie Muliani, M.Psi, Psikolog Klinis, Sahabat Orang Tua & Anak (SOA) Parenting & Education Support Center mengatakan, perbedaan fisik ini, membuat seorang anak mengalami penolakan dari lingkungan terdekat.
"Hal ini akan membuat anak tidak percaya diri, bahkan tidak jarang anak juga merasa cemas dan menyerah terhadap masa depannya," kata Hanlie di acara webinar bertajuk 'Stop Bullying Bibir Sumbing!', akhir pekan lalu.
Baca juga: Bibir Sumbing Bukan Sekedar Menyelesaikan Masalah Estetika pada Bibir Anak
Baca juga: Saat Pandemi Virus Corona, Operasi Bibir Sumbing pada Anak-anak Terpaksa Ditunda
Ia memaparkan, adanya perbedaan fisik, anak dengan bibir sumbing mengalami dampak psikis yang bisa berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.
Misalnya, si anak merasa tidak seberuntung anak-anak lain, merasa diperlakukan tidak adil, hingga mengalami penolakan dari lingkungan sekitar berupa intimidasi, ejekan bahkan pengucilan,
Menurut Hanlie, kondisi ini terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat akan apa itu bibir sumbing dan bagaimana harus menyikapinya.
"Jika dibiarkan terus menerus, anak dapat merasa minder, putus asa, dan kecewa dengan kehidupannya," ucap Hanlie.
Baca juga: Sambut Ramadan, SnackVideo dan SmileTrain Ajak Berdonasi untuk Anak-anak Penderita Bibir Sumbing
Lantas, apa yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan mental anak penderita bibir sumbing?
Hanlie menjelaskan, hal pertama yang harus dilakukan orangtua adalah mendukung anak.
"Sebagai orangtua tidak ikut merundung, menyingkirkan, atau diumpet-umpetin gitu anaknya agar anak merasa ia dicintai,” ujar Hanlie.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20160624siloam-gelar-operasi-bibir-sumbing_20160624_131047.jpg)