Kolom Trias Kuncahyono
Boeng Besar
Setiap kali memasuki bulan Agustus, selalu teringat akan dua tokoh besar negeri ini, dua pahlawan besar kita: Bung Karno dan Bung Hatta.
Itulah komitmen kemanusiaan Kedua Bung Besar. Komitmen seperti itu hanya bisa dicapai kalau “seseorang sudah bisa ‘melampaui dirinya’.”
Sudah tidak berpikiran tentang keperluan duniawi bagi pribadinya sendiri. Tetapi, selalu menanam kebajikan untuk kehidupan dan masa depan bangsanya.
Itulah politik kemanusiaan, derajat tertinggi kesempurnaan hidup beriman.
Derajat politik kemanusiaan jauh lebih tinggi dibanding politik yang sekadar mencari kekuasaan; apalagi dengan menghalalkan segala cara, seperti yang sekarang ini terjadi tak peduli kondisi negeri seperti apa.
Segala cara dilakukan sekadar untuk mencari dan mendongkrak popularitas, membangun citra demi persiapan merebut kekuasaan.
Maka itu benar kata Bung Karno, “Jasmerah”, jangan sekali-kali melupakan sejarah; sejarah para Bapak Bangsa, sejarah tujuan mendirikan negeri ini.
Bagaimana mereka menyingkirkan, bahkan membuang kepentingan diri, kelompok, golongan, partai, agama, suku, etnis dan sebagainya demi kepentingan yang lebih besar: bangsa dan negara.
Kata Bung Karno, “…Kita hendak mendirikan suatu negara ‘semua buat semua’. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi, ‘semua buat semua’….”
Maka itu, Kata BM Diah, Bung Karno menyenangi tema ini. “Jika ditanya pada kamu, wahai bangsa Indonesia, berapa jumlah kamu sekalian?” Maka Bung Karno menganjurkan agar dijawab pertanyaan itu demikian, “Kami adalah SATU.”
Masihkah Kita, satu dan bersatu? ***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/boeng-besar-14.jpg)