Kolom Trias Kuncahyono

Boeng Besar

Setiap kali memasuki bulan Agustus, selalu teringat akan dua tokoh besar negeri ini, dua pahlawan besar  kita: Bung Karno dan Bung Hatta.

Istimewa
Bung Karno dan teks proklamasi. 

I

WARTAKOTALIVE.COM -- Setiap kali memasuki bulan Agustus, selalu teringat akan dua tokoh besar negeri ini, dua pahlawan besar  kita: Bung Karno dan Bung Hatta.

Mereka adalah Bapak Bangsa. Mereka adalah founding fathers bangsa ini. Mereka adalah proklamator.

Mereka-lah Sang Dwitunggal: dua orang yang menjadi satu kesatuan, yang menggerakan roda revolusi bangsa; yang bersama-sama sedari awal republik ini lahir, mereka selalu berdiri di garda paling depan  dalam perjuangan.

Mereka saling mengisi. Mereka berdua adalah tokoh yang membangkitkan dan menyatukan bangsa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan dengan tetes darah, harta, dan jiwa.

Perjuangan ini terus terpatri di lubuk hati paling dalam. Sosok Bung Karno sebagai politisi dan pejuang ulung, orator kampiun, mampu menggelorakan semangat bangsa dan menumbuhkan solidaritas bangsa untuk menjadi negara merdeka dan berdaulat.

Bung Karno, yang begitu kuat rasa kebangsaannya, amat kuat kharismanya, apalagi untuk rakyat banyak.  

Sementara itu, Bung Hatta adalah   seorang administrator ulung, disiplin tinggi, tertib,  dan diplomat andal yang kemampuannya tidak diragukan lagi di dunia internasional.

Bung Hatta berhasil menumbuhkan pada pribadinya, pilihan, dan komitmen asketisme, yakni asketisme seorang pemimpin.

Dan, kharisma Bung Hatta terpancar dari sosok pribadinya yang berintegritas tinggi serta kompeten.

Bung Hatta adalah sosok yang memegang teguh prinsip fortiter in re, suaviter in modo,   teguh dalam prinsip, lembut dalam cara.

Oleh karena itu, jika harus menyebut nama Bung Karno, tidak lengkap rasanya jika tidak menyebut nama Bung Hatta di belakangnya, begitu pula sebaliknya.

Menurut Prof Djokosoetono, Bung Karno dan Bung Hatta adalah personal integrating factors, yaitu faktor-faktor kepribadian seseorang yang mempersatukan bangsa.

Suasana kedaerahan pada waktu itu masih demikian kuat, sehingga dengan Dwitunggal Soekarno-Hatta, masyarakat Indonesia merasa mantap.

Orang Jawa tidak berkuasa secara mutlak karena ada orang Sumatera.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved