Kolom Trias Kuncahyono

Boeng Besar

Setiap kali memasuki bulan Agustus, selalu teringat akan dua tokoh besar negeri ini, dua pahlawan besar  kita: Bung Karno dan Bung Hatta.

Istimewa
Bung Karno dan teks proklamasi. 

Maka, perjumpaan Bung Hatta dengan Bung Karno pada tahun 1932, telah menjadi suratan sejarah. 

Keduanya seolah-olah dipertautkan oleh alam. Bung Karno dan Bung Hatta justru dipertemukan oleh perbedaan, dalam banyak hal. Akan tetapi, keduanya saling melengkapi.

Ibarat kata, dua sisi sekeping mata uang; loro-loro ing atunggal, dua yang satu.

Mereka berjuang bersama, dan puncaknya adalah ketika membacakan teks proklamasi kemerdekaan bersama.

Bung Hatta yang mendiktekan teks proklamasi, Bung Karno yang menuliskannya. “..lebih baik Bung menuliskannya, aku mendiktekannya” (Mohammad Hatta, 2010).

Bung Karno yang membacakan, Bung Hatta yang mendampinginya.

Soekardjo Wijopranoto mengemukakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden harus merupakan satu Dwitunggal. Maka lahirlah Dwitunggal.

Bung Hatta dan Bung Karno (Foto: Istimewa)

II

Kata Ignas Kleden (2002), sulit dipungkiri bahwa Soekarno-Hatta adalah perpaduan yang sangat ideal untuk bangsa dan rakyat Indonesia. Yakni, perpaduan antara kharisma dan rasionalitas.

Sekalipun, kombinasi ini sangat sulit untuk kedua tokoh ini sendiri. Bung Karno seorang intelektual yang populis, dan Bung Hatta seorang intelektual yang estetis.

Latar budaya kedua tokoh besar ini pun  berbeda. Bung Karno yang berasal dari budaya Jawa banyak mengambil nilai-nilai kerajaan kuno tentang sosok raja Jawa.

Bung Hatta dari Tanah Minang yang punya budaya merantau, melihat dunia lebih luas, yang menuntunnya hingga ke Belanda.

Selama 11 tahun, Bung Hatta tinggal di Belanda untuk studi; memimpin organisasi orang-orang muda Indonesia yang belajar di Belanda, Perhimpunan Indonesia.

Bung Hatta menghadiri konferensi internasional di mana-mana di Eropa, memperkenalkan cita-cita, perjuangan, dan tujuan Indonesia Merdeka.  

Seorang Indonesianis, Clifford Geertz (1992) mengatakan bahwa Soekarno sebagai mistikus Jawa dan eklektikus kawakan dan Hatta sebagai puritan Sumatera telah saling melengkapi tidak hanya secara politis melainkan juga secara primordial.

Sumber: WartaKota
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved