Kolom Trias Kuncahyono
Boeng Besar
Setiap kali memasuki bulan Agustus, selalu teringat akan dua tokoh besar negeri ini, dua pahlawan besar kita: Bung Karno dan Bung Hatta.
Dwitunggal juga merepresentasikan persekutuan antara Soekarno yang mewakili sinkretisme Jawa dan Hatta yang mewakili merkantilisme Islam dari luar Jawa.
Walau berasal dari budaya Jawa, kata BM Diah (1981) tetapi dalam perjuangannya untuk melepaskan bangsanya dari belenggu penjajahan, Bung Karno menggunakan pikiran-pikiran, cita-cita, dan kehendak, impian-impian orang-orang besar di dunia.
Bung Karno bertukar pikiran dan menelaah perbuatan Jengis Khan, Abraham Lincoln, Thomas Jefferson, Rousseau, Marx, Lenin, Sut Yat Sen, Mahatma Gandhi…
Ia mencari ide dan perbandingan dengan bangsa-bangsa Arab, Tionghoa, Rusia, Amerika untuk menciptakan satu sintesa bagaimana membangkitkan bangsanya yang berkebudayaan majemuk, berkehidupan primordial, berwatak budak.
III
Sayangnya, sejarah tidak mengenal “andaikata”. Maka Cicero—Marcus Tullius Cicero—seorang negarawan, ahli hukum, dan juga cendekiawan Romawi kuno yang hidup antara 106-43 SM, mengatakan, historia vero testis temporum, lux veritatis, vitae memoria, magistra vitae, nuntia vetustatis, sejarah merupakan saksi zaman, cahaya kebenaran, kenangan akan hidup, guru kehidupan, dan pesan dari masa lalu.
Di balik sejarah ada nilai-nilai yang mau ditegakkan dalam kehidupan manusia seperti kebenaran, keberanian, kejujuran, daya juang, dan sebagainya.
Walau Dwitunggal, secara politis berakhir pada 1 Desember 1956—bahkan Bung Hatta mengatakan, “Dwitunggal telah berubah menjadi Dwitanggal” (Meutia Farida Hatta, 2015)—namun satu hal perlu dicatat bangsa Indonesia, pernah memperoleh suatu anugerah zaman.
Dwitunggal, memang sudah menjadi dwitanggal secara politis, tetapi komunikasi persaudaraan antara kedua tokoh besar—kata Jakob Oetama (2002) bersosok, berkarakter, berkepribadian, bervisi, memiliki komitmen, berintegritas, serta pergulatan dan suri tauladan—tidak pernah putus.
Meskipun dalam banyak hal berbeda pendapat dan pandangan dengan Bung Karno, tetapi Bung Hatta tetap bersahabat dengan Bung Karno.
Vera amicitia est inter bono, persahabatan sejati hanya terjadi di antara orang-orang yang tulus (baik).
Bung Hatta—setelah berada di luar pemerintahan, di luar pusaran kekuasaan—tidak tergoda untuk mengritik secara terang-terangan, lantang, “di tengah lapangan” pun pula sekadar cari perhatian, misalnya, terhadap Bung Karno yang masih menjadi presiden.
Seluruh perjalanan hidup Kedua Bung Besar dipersembahkan bagi bangsa dan negara, sampai akhir hayatnya.
Kedua tokoh besar bangsa ini benar-benar memegang prinsip seperti yang dulu dikatakan Cicero (106-43) negarawan Romawi, non nobis solum nati sumus, kita tidak dilahirkan untuk diri kita sendiri.
Sebab, dari kodratnya yang terdalam manusia bersifat sosial; dan tanpa hubungan dengan sesama ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat pembawaannya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/boeng-besar-14.jpg)