Kolom Trias Kuncahyono
Om, Kami Serumah Positif
Menurut Sekjen PB Ikatan Dokter Indonesia, Dr M Adib Khumaidi, hingga akhir Juni 2021, total dokter yang meninggal akibat Covid-19 mencapai
Walau ada orang yang kehilangan hati dan lebih memikirkan diri sendiri, namun tetap saja masih banyak orang di masa sulit ini yang rela untuk berbagi dan melayani.
“Dalam kekurangan, kami membantu warga di erte kami yang menderita covid,” kata adik di desa, seorang pensiunan guru.
Cerita serupa juga, tumbuhnya rasa persaudaraan senasib sepenanggungan, dikisahkan oleh sejumlah kawan dari pelbagai pelosok negeri ini.
Di Surabaya yang memberikan makan secara gratis kepada siapa saja, sehari dua kali, pun pula dikirim secara gratis. Misalnya. Di Semarang juga ada.
Di kompleks kami pun, para ibu secara bergiliran mengirimkan makanan bagi warga yang menderita Covid-19.
Apa yang mereka lakukan barangkali sederhana. Tetapi, yang kelihatan sederhana itu, telah memberi isi dan makna hidupnya.
Sebab, kata orang Jawa, urip iki mung mampir ngombe, karena itu musti diberi isi dan makna, sehingga pancaran hidupnya penuh sifat ilahi.
Realitas hidup manusia memang realitas hidup bersama dengan yang lain.
Maka, hidup manusia senantiasa ada dalam suatu kenyataan relasional, terbuka pada sesama, saling menolong sesama penumpang perahu yang sama.
Manusia yang rendah hati memerlukan orang lain. Manusia yang rendah hati menyadari kerapuhannya.
Karena kerapuhannya, manusia tak mampu berdiri sendiri.
Dalam kerapuhan itu, teringat saya akan doa yang dikirimkan sahabat saya, Bung Paul.
Sepotong doa yang sangat mewakili gejolak hati saat ini: “De profundis clamavi ad te, Domine! Domine, exaudi vocem meam!”
Artinya: Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan! Tuhan, dengarlah suaraku! Kapan pandemi berakhir…***
Baca kolom Trias Kuncahyono selengkapnya: Om, Kami Serumah Positif
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/iluscovid.jpg)