Berita Nasional
Tak Bisa Bayar Utang, Garuda Indonesia Didepak Sementara dari Bursa Saham
Garuda Indonesia telah menunda pembayaran jumlah pembagian berkala sukuk yang telah jatuh tempo pada tanggal 3 Juni 2021
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, penundaan pembayaran kupon global sukuk tersebut memperhatikan kondisi perseroan yang terdampak signifikan imbas pandemi Covid-19.
Menurut dia, keputusan Garuda Indonesia untuk melakukan penundaan pembayaran ini merupakan langkah berat yang tidak terhindarkan dan harus ditempuh perseroan, di tengah fokus perbaikan kinerja usaha serta tantangan industri penerbangan imbas pandemi yang saat ini masih terus berlangsung.
"Oleh karenanya, kami turut menyampaikan apresiasi atas dukungan yang senantiasa diberikan para pemegang sukuk atas upaya yang tengah dioptimalkan Perseroan terhadap keberlangsungan dan masa depan bisnis Garuda Indonesia dimasa yang penuh tantangan ini," ujar Irfan dalam keterangan resminya, Jumat (18/6/2021).
Baca juga: Utang Luar Negeri RI Makin Meroket, Bank Indonesia: Untuk Mendukung Pembiayaan Program dan Proyek
Di sisi lain, Garuda Indonesia juga telah menunjuk Guggenheim Securities, LLC sebagai financial advisor yang akan mendukung langkah pemulihan kinerja usaha perseroan.
Khususnya melalui berbagai evaluasi strategi yang akan ditempuh dalam penyehatan kinerja fundamental perseroan bersama-sama dengan mitra strategis lainnya seperti PT Mandiri Sekuritas, Cleary Gottlieb Steen & Hamilton LLP, serta Assegaf Hamzah & Partners.
"Penunjukan financial advisor ini juga merupakan wujud keseriusan kami dalam memastikan langkah berkesinambungan Garuda Indonesia dalam pemulihan kinerja erseroan berjalan optimal khususnya didukung oleh mitra strategis yang memiliki kompetensi dan pengalaman yang mumpuni dalam mendukung upaya perseroan melewati masa sulit ini," paparnya.
Irfan menambahkan, di tengah ketidakpastian iklim bisnis industri penerbangan, pihaknya meyakini kapabilitas perseroan dalam meningkatkan resiliensi bisnis yang di dukung dengan kolaborasi bersama mitra strategis, merupakan aspek esensial untuk menunjang Garuda Indonesia terus menjadi maskapai penerbangan nasional atau national flag carrier Indonesia.
"Komitmen Garuda Indonesia untuk terus berkiprah sebagai national flag carrier Indonesia, dengan menjadi entitas bisnis yang berdaya saing, adaptif dan sehat serta mampu menjawab tantangan bisnis yang ada ke depannya," tutup Irfan.
Baca juga: Pemerintah Berencana Pajaki Sembako, Mardani: Langkah Panik Akibat Utang Menggunung
Sebagai informasi, Garuda Indonesia memang tengah menghadapi krisis keuangan dengan memiliki utang mencapai Rp 70 triliun dan terus bertambah sekitar Rp 1 triliun setiap bulannya.
Berdasarkan data Kementerian BUMN, beban biaya Garuda Indonesia mencapai 150 juta dollar AS per bulan, namun pendapatan yang dimiliki hanya 50 juta dollar AS. Artinya perusahaan merugi 100 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,43 triliun (kurs Rp 14.300 per dollar AS) per bulan.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bursa Hentikan Sementara Perdagangan Saham Garuda Indonesia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/garuda-indonesia-turut-menghadirkan-gelaran-promo-khusus-pada-peringatan-hut-ke-72.jpg)