VIDEO Dikritik Kak Seto, Pemkot Tangsel Sebut Kasus Penganiayaan Tak Hapus Predikat Kota Layak Anak

Khairati mengatakan kasus tersebut tak turut berimbas terhadap merosotnya predikat kota layak anak yang disandang Pemkot Tangsel

Penulis: Rizki Amana | Editor: Murtopo

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Rizki Amana

WARTAKOTALIVE.COM, SERPONG - Aksi kekerasan anak oleh ayah kandung sekaligus tersangka Wahyu Hadoko (35) terhadap putri kandungnya berusia 5 tahun banyak disoroti kalangan masyarakat. 

Aksi tersebut viral setelah sejumlah akun media sosial (medsos) mengunggah video kekerasan anak di bawah umur itu pada Kamis, 20 Mei 2021.

Diketahui, aksi kekerasan itu terjadi di kawasan Living Kost Kampung Dongkal, Pondok Jagung Timur, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). 

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DPMP3AKB) Kota Tangsel, Khairati mengatakan kasus tersebut tak turut berimbas terhadap merosotnya predikat kota layak anak yang disandang wilayah kerjanya. 

Baca juga: Dikritisi Kak Seto, Pemkot Tangsel Sebut Kasus Penganiayaan Anak Tak Hapus Predikat Kota Layak Anak

Baca juga: Gagal Deteksi Dini Kasus Penganiayaan Anak, Pemkot Tangsel Sebut Pandemi Covid-19 Alasannya

Pasalnya terdapat sejumlah indikator penilaian dalam predikat tersebut hingga disandang oleh kota yang dipimpin Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie dan Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan tersebut. 

"Jadi kalau kota layak anak itu ada 24 indikator. Jadi tidak kekerasan saja yang dinilai kota layak anak. Jadi kota layak anak itu beberapa indikatornya termasuk hak sipilnnya anak, kemudian penghasuhan anak, kemudian fasilitas, kemudian partisipasi anak," katanya kepada Wartakotalive.com saat ditemui di Mapolres Tangsel, Serpong, Sabtu (29/5/2021).

"Tapi satu kasus kekerasan anak ini adalah bagian dari 24 kriteria penilaian kota layak anak, bukan berarti kota layak anak tidak ada kekerasan. Salah satu indikatornya Kota Layak Anak yang berhasil, kekerasan berkurang diminimalisirkan, dicegah," lanjutnya. 

Baca juga: VIDEO Penangkapan Pelaku Penyiksaan Anak di Tangerang Selatan, Warga Kesal dan Coba Pukul Tersangka

Baca juga: Kasus Penganiayaan Anak di Serpong Utara Mencoreng Kota Tangsel Sebagai Kota Layak Anak

Kendati demikian dirinya mengakui kota layak anak yang disandang Kota Tangsel tak dipungkirinya masih memiliki sela terjadinya aksi kekerasan terhadap anak. 

Menurutnya dalam mengantisipasi aksi kekerasan anak perlu adanya sinergitas seluruh unsur masyarakat pada setiap lingkungannya. 

"Dan ini mungkin akan menjadi PR (Pekerjaan Rumah) kita bersama bahwa untuk terhadap anak ini adalah tanggung jawab kita bersama. Jadi tidak hanya dari pemerintah, kita minta partisipasi dari masyarakat, partisipasi pengusaha, juga termasuk dari media," ucap Khairati.

Baca juga: Terduga Pelaku Penganiayaan Anak Mengaku Hanya Settingan untuk Dikirim ke Sang Istri

"Kan kasus ini kalau cepat terlihat atau cepat terdeteksi cepat tertangani dengan baik. Jadi syaratnya kepedulian masyarakat tentang lingkungan, ini yang akan terus kita tanamkan di masyarakat," sambungnya. 

Diwartakan sebelumnya, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi atau yang akrab disebut Kak Seto mencoreng nama baik wilayah Kota Tangsel. 

Baca juga: Polisi Selidiki Dugaan Keterlibatan Ibu Tiri Terkait Kasus Penganiayaan Anak di Duren Sawit

Pasalnya, Kota Tangsel telah mendapat gelar dan rekor Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) pertama sebagai Kota Layak Anak. 

"Kembali saya mengingatkan Pemkot Tangsel yang sebagai kota pertama di Indonesia sudah dapat rekor MURI yang seluruh RT-nya sudah dilengkapi dengan seksi perlindungan anak," katanya saat ditemui di Mapolres Tangsel, Serpong, Selasa (25/5/2021). (m23) 

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved