Minggu, 3 Mei 2026

SMS Peringatan Dini Gempa 8,5 SR dan Tsunami Bikin Panik, BMKG Telusuri Sumber Eror

Dalam pesan singkat tersebut disebutkan gempa besar disertai tsunami akan terjadi pada 4 Juni 2021 pukul 10.14 WIB.

Tayang:
id.wikipedia.org/Antara
BMKG menelusuri pesan singkat (SMS) yang mengabarkan bakal terjadi gempa bumi dengan kekuatan 8,5 skala richter dan tsunami. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menelusuri pesan singkat (SMS) yang mengabarkan bakal terjadi gempa bumi dengan kekuatan 8,5 skala richter dan tsunami.

"Sedang ditelusuri di mana erornya," ujar Kepala Bagian Humas BMKG Taufan Maulana saat dikonfirmasi, Kamis (27/5/2021).

Dalam pesan singkat tersebut disebutkan gempa besar disertai tsunami akan terjadi pada 4 Juni 2021 pukul 10.14 WIB.

Baca juga: Gugatan Praperadilan RJ Lino Ditolak Hakim PN Jaksel, Kuasa Hukum Kecewa tapi Menghormati

Daerah yang akan dilanda gempa besar dan tsunami berdasarkan pesan singkat tersebut adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.

Taufan menduga munculnya pesan singkat tersebut karena ada gangguan dalam sistem.

Karena itu, BMKG, lanjut Taufan akan berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi.

Baca juga: Moeldoko: Di BPIP Juga Pernah Ada Pegawai Tak Lulus TWK, Kenapa di KPK Begitu Diributkan?

"Kemungkinan besar terjadi 'sistem error' bapak dan ibu, sedang kami telusuri dan berkoordinasi dengan kominfo RI," kata Taufan.

Sebelumnya, jagat media sosial Twitter mendadak heboh lantaran SMS peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah di Indonesia beredar.

Pesan itu berisikan peringatan dini tsunami yang informasinya tidak begitu rinci.

Baca juga: 51 Pegawai KPK Tak Lulus TWK Dipecat, Novel Baswedan: Tidak Semua Perjuangan Membuahkan Hasil

Hal tersebut menimbulkan kebingungan karena tidak ada penjelasan dari BMKG selaku pihak yang menyebarkan pesan itu.

"Saya terima sms dari kominfo bmkg seperti ini... Peringatan Dini Tsunami di JATIM NTB BALI NTT JATENG Gempa Mag:8.5 04-Jun-21 10:14:45WIB Lok:10.50LS 114.80BT Kdlmn:10Km::BMKG."

"Bisa dijelaskan ini apa ya?? Perkiraan gempa atau apa??," tulis akun Twitter @omingbudis, Kamis (27/5/2021).

Baca juga: Doni Monardo: BNPB Ibarat Kopassus, Sipil tapi Berjiwa Militan

Dalam pesan tersebut hanya tertulis nama-nama provinsi yakni Jawa Timur (Jatim), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Jawa Tengah (Jateng) yang akan dilanda gempa dengan kedalaman 10KM pada 4 Juni 2021.

Alhasil, pesan ini langsung viral dan BMKG langsung merespons pesan tersebut.

BMKG meminta maaf atas kesalahan peringatan dini mengenai isu tsunami tersebut.

Baca juga: Lepas Dua Jabatan, Doni Monardo Langsung Jalani Malam Pertama Bersama Istri

Kepala Humas BMKG Taufan menyebut ada kesalahan sistem informasi yang menyebabkan tersebarnya pesan berantai itu.

"Mohon maaf, ada error di sistem kami, saat ini sedang kami telurusi. Sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanan ini," katanya saat dikonfirmasi oleh wartawan.

Hingga saat ini, linimasa Twitter masih diramaikan oleh cuitan oleh masyarakat, khususnya Jawa dan Bali.

Baca juga: Elektabilitas Ganjar Tinggi, PDIP: Kalau Ibu Ketua Bilang Racing Puan Maharani, Pasti Kita Gaspol

Banyak pengguna ramai-ramai mengupload pesan tersebut untuk menanyakan ke BMKG terkait kebenaran pesan itu.

Terkait pesan peringatan dini tsunami itu, Tribunnews telah menghubungi Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika Dedy Permadi, untuk menanyakan ada tidaknya kaitan SMS tersebut dengan sistem dari Kominfo.

Namun, hingga berita ini ditulis, yang bersangkutan belum bisa dihubungi.

Potensi Gempa Megathrust di Selatan Jawa, Gelombang Tsunami 20 Meter Butuh 20 Menit Sampai ke Darat

Para ilmuwan di Institut Teknologi Bandung (ITB) memprediksi bakal ada gempa megathrust yang berpotensi memunculkan gelombang tsunami setinggi 20 meter di selatan Pulau Jawa.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah melakukan modelling terkait ancaman tersebut.

Dalam modelling tersebut, gelombang tsunami hanya butuh waktu 20 menit untuk mencapai ke daratan.

Muhammadiyah Bakal Gugat Pemerintah Jika Pilkada Serentak 2020 Jadi Klaster Baru Covid-19

"Tergantung sumber gempa sendiri, kalau jarak episentrumnya jauh lebih dari 200 kilometer lebih ya mungkin lama."

"Tapi kalau episentrumnya tidak jauh dari pantai, mungkin 20 menit sudah sampai ke daratan," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono, saat berbincang dengan Tribun, Jumat (25/9/2020).

Menurut Rahmat, modelling yang dilakukan BMKG tersebut sudah dilakukan sejak dahulu kala.

Satu Cleaning Service Kejagung Dikabarkan Simpan Rp 100 Juta dan Bisa Akses Lantai 6 Saat Kebakaran

Modelling tersebut berdasarkan sejarah dan catatan kejadian masa lampau di titik-titik gempa megathrust.

"Adanya modelling yang dilakukan itu sudah berdasarkan catatan sejarah masa lampau," ujar Rahmat.

Karena itu, lanjutnya, BMKG meminta semua pihak menyikapi potensi ancaman gempa dan tsunami besar tersebut secara bijak.

Gatot Nurmantyo: Saya Tidak Pernah Katakan Dicopot Sebagai Panglima TNI karena Nobar Film G30S/PKI

Sebab, wilayah Indonesia, kata dia, memang memiliki potensi bencana, khususnya gempa bumi dan tsunami.

Karena, dikelilingi lempeng tektonik mulai dari Barat Sumatera, Simeuleu, Nias, Enggano, lalu masuk ke Selatan Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Papua.

"Papua juga kan bisa terancam tsunami kalau ada gempa besar di Jepang, Amerika Latin."

Bakal Ikut Mundur dari KPK Seperti Febri Diansyah? Novel Baswedan: Saya Belum Tentukan Sikap

"Tapi itu sampainya kan lama, 13 jam lebih, 24 jam lebih kalau dari Amerika Latin, dari Cile."

"Beda dibandingkan tsunami di selatan Jawa yang hanya dalam hitungan menit sudah sampai, "papar Rahmat.

Gempa megathrust dan ancaman tsunami 20 meter ini, lanjut Rahmat, juga baru prediksi menggunakan data-data yang akurat, dan catatan sejarah masa lampau.

DAFTAR Zona Merah Covid-19 di Indonesia: Sempat Turun ke Angka 41, Kini Melonjak Lagi Jadi 58

Memang, kata Rahmat, gempa dan gelombang tsunami tidak bisa diprediksi kapan datangnya.

"Justru yang di Palu kita belum pernah prediksi malah terjadi," cetusnya.

Rahmat juga mengapresiasi hasil prediksi dan penelitian dari para ilmuwan ITB tersebut.

Ia berharap nantinya hasil penelitian tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan sistem early warning dalam hal kebencanaan. 

Siapkan Jaringan Sensor Gempa

BMKG sudah menyiapkan sistem peringatan dini atau early warning system terkait adanya prediksi ancaman gempa bumi megathrust dan tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa.

"Sudah kita siapkan sistem."

"Kita sudah menyiapkan jaringan sensor yang mampu mendeteksi dengan akurat."

Jokowi Perpanjang Masa Berlaku Paspor Jadi 10 Tahun, Penerapannya Tunggu Permenkumham

"Dan perangkat yang mampu menerima dengan pasti datangnya bencana gempa dan tsunami," beber Rahmat Triyono.

BMKG juga akan melakukan simulasi mitigasi bencana gempa bumi megathrust dan ancaman gelombang tsunami di beberapa titik, mulai dari barat Sumatera, Selatan Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku.

Simulasi tersebut dilakukan bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah(BPBD).

Korban Jiwa Akibat Covid-19 Tembus 10.105 Orang, Indonesia Masuk Peringkat 17 Dunia

Rahmat membantah agenda simulasi yang dilakukan tersebut berkaitan dengan keluarnya hasil penelitian ilmuwan ITB terkait ancaman gempa bumi megathrust dan tsunami 20 meter.

Kata dia, simulasi tersebut adalah agenda dua tahunan negara-negara di sekitar Samudra Hindia.

"Di seluruh daerah nanti tanggal 6 Oktober akan ada simulasi."

Bocah Palmerah Tawuran Dini Hari, Pelaku Termuda Masih Berumur 10 Tahun, KJP Terancam Dicabut

"Tapi itu tidak ada kaitannya dengan ancaman tsunami 20 meter."

"Itu sudah disiapkan jauh, lama, karena ini agenda dua tahun sekali," papar Rahmat.

Dalam simulasi tersebut akan dicoba mengenai antisipasi bencana gempa bumi megathrust dan tsunami 20 meter, serta dilakukan mulai pukul 10.00 WIB.

Politikus PDIP Ungkap Pinangki Geser Perabotan Tahanan Lain Agar Bisa Olahraga di Rutan Kejagung

Simulasi, imbuh Rahmat, diharapkan akan menguji sistem kebencanaan, action plan, dan respons serta SOP yang harus dilakukan saat ada bencana besar.

Nantinya juga akan dilakukan evaluasi dalam simulasi, agar terjadi kesinambungan antara BMKG pusat, BMKG daerah, BNPB, BPBD, juga sampai ke kepala daerah yang terdampak bencana.

"Jadi nanti pusdalops di daerah bisa tahu apa yang harus dilakukan ketika statusnya awas, statusnya waspada."

DAFTAR Harta Kekayaan Gibran Rakabuming Raka, Total Rp 21 Miliar, Punya Utang Rp 895.586.004

"Karena ini hanya 20 menit tsunami sampai ke daratan."

"Apa yang harus dilakukan, Pusdalops harus tentukan action plan, apakah minta kepala daerah lakukan evakuasi segera atau tidak."

"Jangan sampai nanti malah kebingungan harus lakukan apa," jelas Rahmat. (Willy Widianto/Fandi Permana)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved