Libur Lebaran

Budi Karya Sumadi Kesal KCI tidak Terapkan Protokol Kesehatan untuk Penumpang KRL saat Libur Lebaran

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menilai, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) tidak profesional mengatur jumlah penumpang. Ini tentu mengesalkan.

Editor: Valentino Verry
dokpri
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, sedikit kesal melihat manajemen PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) tidak profesional mengatur jumlah penumpang. Hal ini bisa memicu penyebaran virus corona. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menilai, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) tidak profesional mengatur jumlah penumpang.

Menurutnya, pengaturan penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) terkait jumlah penumpang tidak dilakukan secara profesional sehingga terjadi penumpukan dan berpotensi menjadi klaster Covid-19.

"Penumpukan yang terjadi di sektor transportasi KRL ini tentunya sangat tidak kita harapkan," ucap Budi, Sabtu (15/5/2021).

Budi juga melakukan tinjauan ke Stasiun Manggarai, serta memantau langsung penumpang KRL yang akan melakukan perjalanan.

Baca juga: Budi Karya Sumadi Apresiasi Masyarakat yang tak Pulang ke Kampung Halaman selama Larangan Mudik

Baca juga: Budi Karya Sumadi Imbau Masyarakat tidak Mudik agar tak Terjadi Gelombang Covid-19 seperti di India

Dalam pantauan tersebut, Budi Karya melihat langsung penumpang kereta commuter yang padat sehingga tidak ada protokol kesehatan seperti pengaturan jarak serta pemeriksaan antigen secara random.

Selain itu, Budi juga memprediksi pada 16 Mei 2021, jumlah penumpang KRL akan meningkat sebesar 300 sampai 400 ribu orang tiap hari.

Ia juga mengatakan, kejadian penumpukan penumpang KRL ini menjadi pelajaran berharga untuk semua kita yang mengelola transportasi massal agar dapat melakukan protokol kesehatan secara disiplin.

Sementara itu, Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin menyebut, jumlah penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta hanya 10 persen dari sebelum adanya larangan mudik Lebaran 2021.

Menurut Awaluddin, hal ini karena selama pelarangan mudik Lebaran pada 6-17 Mei 2021 yang menggunakan angkutan udara hanyalah yang dikecualikan saja.

"Dengan adanya pengecualian penumpang tersebut, jumlah penumpang Bandara Soekarno-Hatta hanya 10 persen jika dibandingkan dengan sebelum adanya larangan mudik Lebaran 2021," ucap Awaluddin.

Selain itu, Awaluddin juga mengungkapkan, selama larangan mudik Lebaran 2021 Angkasa Pura II bersama seluruh stakeholder berkomitmen menerapkan protokol kesehatan setiap saat.

Sebagai informasi, periode larangan mudik Lebaran ditetapkan pada 6 – 17 Mei 2021.

Baca juga: Tolak Larangan Ziarah, Warga Jebol Pagar TPU Utan Kayu saat Libur Lebaran

Baca juga: Pengunjung Ragunan KTP DKI Jakarta Tembus 17.485 Orang saat Libur Lebaran

Pada periode tersebut, pelaku perjalanan yang dikecualikan dari larangan perjalanan lintas kota/kabupaten/provinsi/negara adalah pelaku perjalanan dengan keperluan mendesak untuk kepentingan non mudik.

Kemudian keperluan mendesak tersebut yakni bekerja/perjalanan dinas, kunjungan keluarga sakit, kunjungan duka anggota keluarga meninggal, ibu hamil yang didampingi satu orang anggota keluarga dan kepentingan persalinan yang didampingi maksimal dua orang.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved