Kolom Trias Kuncahyono
Ka El Be
Politik riil adalah pertarungan kekuatan. Pertarungan kekuatan untuk memperoleh kekuasaan, tidak jarang kekuasaan diperoleh lewat kekerasan.
Meskipun pada akhirnya mereka tidak menikmati kekuasaan. Mereka dibunuh.
Cara ini disebut sebagai cara seorang pengecut: menusuk dari belakang.
Yang dilakukan Ken Arok, misalnya, tindakan anti-moralitas yakni meraih, merebut kekuasaan dengan membunuh pemegang dan pemilik kekuasaan.
Menurut Bertrand Russel (1946) anti-moralitas dalam mencapai kekuasaan merupakan inti dari pemikiran Machiavelli.
Itu yang dilakukan Ken Arok. Kekuasaan, memang, telah membutakan mata dan mata hati Ken Arok.
Lalu bagaimana dengan Ka El Be? Kongres Luar Biasa?
Di jagat politik Indonesia hal semacam itu—yang namanya bisa berbeda-beda misalnya KLB, Munaslub, atau yang lain—yang biasanya dikatakan sebagai bagian dari “dinamika politik”, bukan hal langka dan baru.
Hanya cara yang dipilih berbeda: cara Ken Arok, cara Jaka Tingkir, cara Sutawijaya, cara Pangeran Mangkubumi dan Mas Said atau cara Brutus atau cara yang lain lagi.
Kisruh partai politik yang berujung pada lahirnya partai baru, juga tidak sekali terjadi.
Sebab, sebenarnya, perebutan kekuasaan adalah universal dalam ruang dan waktu dan merupakan fakta pengalaman yang tidak bisa dibendung. Mengapa?
Sebab, politik selalu kembali ke sifat manusia, atau “dorongan bio-psikologis” untuk hidup, berkembang biak, dan mendominasi.
Apalagi, kekuasaan selalu dikatakan tremendum (kata latin tremendum berarti: mendahsyatkan atau menggentarkan) dan fascinosum (kata latin fascinans berarti mengasyikkan atau menggemarkan).
Karena itu, Machiavelli berkesimpulan betapa mustahilnya membangun kekuasaan atas dasar moral.
Baginya, politik dan moral merupakan dua bidang yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya.
Bahkan, menurut Machiavelli, dalam urusan politik perhatian terhadap norma-norma moral tidak pada tempatnya. Yang diperhitungkan hanyalah sukses.
Meskipun demikian, Machiavelli berkeyakinan bahwa kekuasaan yang hanya berdasarkan kebrutalan dan kelicikan dengan sendirinya rapuh adanya.
Maka adalah wajar kalau ada pertanyaan, adakah politik sekarang ini demi merayakan kemanusiaan?
Artinya, tujuan berpolitik bukan demi kekuasaan pada dirinya sendiri, melainkan demi merayakan kemanusiaan, terutama kelompok massa yang dimarginalisasikan oleh kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dan diskriminasi.
Harus diakui bahwa dalam praktiknya selama ini tidaklah demikian. Tujuan politik adalah untuk memenuhi nafsu, memuaskan nafsu kekuasaan belaka. Maka, terjadilah perebutan kekuasaan. ***
Baca Kolom Trias Kuncahyono selengkapnya, klik: Ka El Be
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/trias-0703.jpg)