Kolom Trias Kuncahyono
Ka El Be
Politik riil adalah pertarungan kekuatan. Pertarungan kekuatan untuk memperoleh kekuasaan, tidak jarang kekuasaan diperoleh lewat kekerasan.
Jika demikian, maka politik tidak bisa lagi disebut sebagai seni, seperti definisi selama ini.
Paling tidak menurut Otto von Bismarck (1815-1898) Perdana Menteri Prussia, politik adalah seni kemungkinan, yang bisa dicapai-seni terbaik berikutnya.
Politik disebut seni, karena membutuhkan kemampuan untuk meyakinkan melalui wicara dan persuasi, bukan manipulasi, bukan pula kebohongan, dan bukan melalui kekerasan (Haryatmoko: 2003), ancaman, teror, fitnah, berita hoax, memutar-balikan fakta, pengerahan massa dan sebagainya.
Berpolitik seperti itu, mengingkari mission sacre tugas suci politik yakni tanda dan sarana keselamatan; membawa kebajikan untuk banyak orang, bukan hanya untuk pribadi, keluarga, golongan, kelompoknya atau segelintir orang, namun untuk seluruh lapisan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya.
Kesalehan politik adalah kesalehan yang amat tinggi sebab ia mencakup kesalehan pribadi, kesalehan sosial, kesalehan lingkungan, dan kepedulian terhadap segenap bangsa dan kemanusiaan.
III
Di negeri kita, sejarah mengisahkan banyak cerita tentang bagaimana seseorang merebut kekuasaan.
Kisah Ken Arok (yang merebut kekuasaan dari Akuwu Tumapel Tunggul Ametung) berbeda dengan kisah Joko Tingkir.
Joko Tingkir membangun jalan untuk memperoleh kekuasaan (dengan melakukan rekayasa “pemberontakan”); juga berbeda dengan kisah Kisah Sutawijaya (menyingkirkan Adipati Jipang Arya Penangsang menjadi pintu memperoleh kekuasaan).
Lahirnya Kasultanan Ngayogyakarta contoh lain dari perebutan kekekuasaan.
Bermula dari perselisihan di antara anggota Keluarga Kasunanan Surakarta—Pangeran Mangkubumi, Susuhanan Pakubuwana III, dan Raden Mas Said—berujung ke perang saudara dan keterlibatan penjajah Belanda melalui VOC.
Akhir dari perang saudara itu, lahirlah Kasultanan Ngayogyakarta (Perjanjian Giyanti 1755), kemudian Kadipaten Mangkunegaran (Perjanjian Salatiga 1757), dan di waktu lain, lahir Kadipaten Pakualaman (1812, setelah Geger Spei).
Cara lain untuk merebut kekuasaan dilakukan oleh sekelompok Senator dengan membunuh Julius Caesar, zaman Romawi.
Di antara para Senator yang kerap disebut sebagai pembunuh Caesar adalah Brutus.
Selain Brutus, yang lain adalah Decimus Junius dan Gaius Cassius Longinus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/trias-0703.jpg)