Kolom Trias Kuncahyono
Ka El Be
Politik riil adalah pertarungan kekuatan. Pertarungan kekuatan untuk memperoleh kekuasaan, tidak jarang kekuasaan diperoleh lewat kekerasan.
- untuk menambah kekuasaan, dan
- untuk menunjukkan kekuasaan.
Tetapi, sebelum ketiga hal tersebut, hal pertama yang harus dilakukan adalah merebut, meraih kekuasaan.
Bagaimana memperoleh kekuasaan? “Lakukanlah segala cara!” Begitu pesan Niccolo Machiavelli (1469-1527).
Karena itu, menurut Machiavelli, kekuasaan harus dilepaskan dari moral dan teologi.
Kekuasaan dan etika politik adalah dua dunia yang berbeda.
Filsafat politik dan etika politik dianggap dunia ideal yang tidak mencerminkan realitas politik yang keras itu.
Jadi, Machiavelli berkeyakinan bahwa tidak ada hukum yang bisa memaksakan, kecuali kekuasaan.
Karena itu, kekuasaan atau memiliki kekuasaan menjadi tujuan utama dan diraih dengan segala cara.
Itulah tujuan politik kekuasaan.
Maka dari itu, Morgenthau berpendapat bahwa orang yang sifatnya murni politik akan menjadi binatang buas.
Sebab seperti pepatah lama, Mater saeva Cupidinum yang secara bebas dapat diartikan, nafsu itu bisa menjadi sangat kejam. Apalagi nafsu berkuasa.
Nafsu berkuasa yang berlebih itu seringkali membuat seseorang buta atau menjadi tidak rasional dan bodoh.
Tidak mampu mengukur dirinya; baik dari sisi kompetensi maupun akseptabilitasnya.
Bahkan lebih dari itu, tidak jarang dia akan berbuat segala sesuatu yang melanggar etika dan moral guna menjatuhkan lawannya demi meraih kemenangan, seperti dikatakan Machiavelli.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/trias-0703.jpg)