Kolom Trias Kuncahyono

Ka El Be

Politik riil adalah pertarungan kekuatan. Pertarungan kekuatan untuk memperoleh kekuasaan, tidak jarang kekuasaan diperoleh lewat kekerasan.

Istimewa
Foto ilustrasi: Coup D'Etat 

WARTAKOTALIVE.COM - Politik riil adalah pertarungan kekuatan. Pertarungan kekuatan untuk memperoleh kekuasaan.

Maka itu,  dalam praktik, tidak jarang bahwa kekuasaan diperoleh lewat kekerasan.

Kemudian, hukum akan melegitimasi sesudahnya. Namun legitimasi tersebut berpengaruh terhadap ketulusan dukungan warga negara.

Contoh paling mutakhir adalah kudeta militer di Myanmar. Tanggal 1 Februari silam, militer di bawah pimpinan Jenderal Min Aung Hlaing mengambilalih kekuasaan dari pemerintahan sipil.

Tindakan militer itu ditentang rakyat yang hingga kini terus melakukan perlawanan.

Tahun 2013, Jenderal Abdel Fattah al-Sisi menyingkirkan Presiden Mohamad Morsi, presiden yang dipilih secara demokratis.

Tindakan Al-Sisi—ini yang beda dengan yang terjadi di Myanmar—didukung oleh rakyat, partai-partai politik yang menentang pemerintahan Morsi.

Tahun 1999, pemimpin militer Pakistan Jenderal Pervez Musharraf mendepak pemerintahan sipil pimpinan PM Nawaz Sharif, lewat kudeta.

Meskipun Nawaz Sharif digulingkan dengan cara yang tidak demokratis, tidak ada perlawanan terhadap kudeta Musharraf.

Orang-orang yang kecewa tidak mau repot-repot turun ke jalan baik untuk mendukung demokrasi atau sekadar menentang pengambilalihan militer.

Sebelumnya, Jenderal Zia ul-Haq mengkudeta Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto, lalu memberlakukan undang-undang darurat.

II

Patih Sengkuni (Gambar: Istimewa)

Dalam dunia politik, perebutan kekuasaan adalah sesuatu yang wajar. S

ebab, bila dilihat dari motif berpolitik, menurut Hans Joachim Morgenthau seorang ilmuwan politik Jerman-Amerika (1904-1980), pada dasarnya tujuan berpolitik adalah tiga:

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved