Minggu, 10 Mei 2026

Kesehatan

CEO Lifepack: Industri Farmasi Online dan Layanan Kesehatan Digital Naik Tajam, tapi Banyak Kendala

Makin hari industri farmasi online serta layanan kesehatan di Indonesia terus mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama di sisi digital.

Tayang:
Editor: Fred Mahatma TIS
Istimewa
ILUSTRASI Apotek online Lifepack. Makin hari industri farmasi online serta layanan kesehatan di Indonesia terus mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama dari sisi digital. Namun, kendala yang mengiringinya pun tak sedikit. 

Natali Ardianto CEO Lifepack & Jovee menilai, industri farmasi dan layanan kesehatan digital di Indonesia tumbuh dengan baik, namun masih banyak masalah yang perlu diselesaikan.

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Apotek online Lifepack dan Jovee -pusat rekomendasi vitamin dan suplemen terlengkap dan termurah di Indonesia- menghadirkan diskusi bersama CEO Lifepack & Jovee Natali Ardianto bertajuk 'Proyeksi Industri Farmasi & Layanan Kesehatan Digital di Indonesia'.

Diskusi ini bertujuan untuk melihat arah perkembangan serta menjawab berbagai permasalahan yang masih muncul terkait layanan kesehatan di Indonesia khususnya dalam perkembangannya di tahun 2021.

Natali Ardianto CEO Lifepack & Jovee menilai, industri farmasi dan layanan kesehatan digital di Indonesia tumbuh dengan baik, namun masih banyak masalah yang perlu diselesaikan.

“Industri farmasi di Indonesia merupakan salah satu industri dengan pertumbuhan yang sangat cepat di ASEAN, begitupun dengan layanan kesehatan digital," tuturnya.

"Dari laporan yang dikeluarkan oleh MTPconnect & Asialink Business, pendapatan dari layanan kesehatan digital di Indonesia pada tahun 2022 diprediksi mencapai 973 juta dollar,” imbuh Natali, Selasa (2/3/2021).

Baca juga: PSBB Berikan Kontribusi Positif, Apotek Online Lifepack Tumbuh Rata-rata 50 Persen per Bulan

Baca juga: Ekspansi ke Surabaya, Apotek Digital Lifepack Siap Layani Pasien Penyakit Kronis di Kota Pahlawan

Dipaparkan lebih lanjut, prediksi pertumbuhan ini harus diimbangi dengan produk dan inovasi yang tepat sesuai kebutuhan masyarakat, di mana masih terdapat beberapa masalah yang dihadapi di antaranya belum meratanya infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Lalu fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan apotek masih terkonsentrasi di pulau Jawa serta jaminan kelengkapan serta keaslian obat.

"Karena menurut World Health Organization (WHO), peredaran obat palsu di Indonesia masih sangat tinggi mencapai 25 persen. Inilah saatnya inovasi layanan kesehatan digital dibutuhkan untuk memecahkan masalah yang ada,” urainya.

Baca juga: Lifepack for Corporate Bantu Perusahaan dalam Efisiensi Biaya Kesehatan Karyawan, Ini Keuntungannya

Baca juga: BAHAYA Covid-19 Bagi Penderita Asma Terungkap dari Kepergian Aktris Rina Gunawan

Banyak kendala

Industri kesehatan di Indonesia masih menyimpan banyak masalah, yang paling utama adalah akses layanan kesehatan itu sendiri, dari mulai ketersediaan rumah sakit dan apotek.

Menurut data Kementerian Kesehatan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan per Februari 2021, jumlah rumah sakit di seluruh Indonesia sebanyak 2.925.

Pulau Jawa sendiri memiliki 1.244 rumah sakit, atau sekitar 45,9% dari seluruh rumah sakit yang ada di Indonesia.

Bahkan provinsi Kalimantan Utara menjadi Provinsi dengan jumlah rumah sakit terendah hanya memiliki 11 rumah sakit.

Tidak hanya belum meratanya layanan kesehatan seperti rumah sakit, apotek juga masih didominasi di pulau Jawa.

Di mana, berdasarkan data rekapitulasi Apotek Indonesia dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah apotek yang tersedia pada tahun 2018 adalah sebanyak 24.874 unit, dengan Jawa Barat sebagai daerah yang memiliki jumlah apotek terbanyak yaitu 4.298.

Baca juga: Mau Ambil KPR DP 0 Persen? Jangan Buru-buru, Simak Hal Ini Agar Tidak Terjebak

Baca juga: Pemerintah Pastikan Vaksinasi Covid-19 Tetap Lancar Dan Terus Pasok Vaksin Dari Luar Negeri

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved