Pendidikan
Ustadz Adi Hidayat Jelaskan Hadis Palsu yang Populer di Bulan Syaban, Hati-hati Ya Simak di Sini
Ustadz Adi Hidayat mengingatkan banyak hadis palsu tentang bulan Syaban termasuk amalan di dalamnya
Penulis: Dian Anditya Mutiara | Editor: Dian Anditya Mutiara
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Menjelang bulan Syaban pada 15 Maret 2021 atau 1 Syaban 1442 Hijriah banyak bermunculan hadist tentang amalan ibadah.
Ustadz Adi Hidayat dalam sebuah ceramah yang dikutip Wartakotalive.com dari Youtube Akhyar TV mengatakan banyak hadist palsu bermunculan tentang pertengahan bulan Syaban
Riwayat ini disampaikan ibnu Abu Sorbah : jika telah tiba malam pertenghaan Syaban maka hidupkan dengan banyak menunaikan shalat dan banyak lakukan puasa maka jika memohon pada Allah maka akan diampunih dosa-dosanya.
“Ini hadis palsu ya. Cacatnya ada seorang bernama Ibnu Abu Sorbah dianggap ulama orang ini sering memalsukan hadist," kata Ustadz Adi Hidayat.
Baca juga: 15 Maret Masuk Bulan Syaban, Perbanyak Istighfar Agar Diampuni Dosa-dosa dan Doa Habis Magrib
Ada juga hadis dhaif adalah kategori hadis yang tertolak dan tidak dapat dinyatakan kebenarannya berasal dari perkataan atau perbuatan Nabi
Adapun yang dhaif bisa ditemukan yang disandarkan pada Aisyara RA istri Rasulullah bahwa suatu hari dia kehilangan rasulullah suatu malam dimana waktu itu rasulullah menginap di rumah beliau diduga Rasulullah sedang ada di rumah istri yang lain.
ketika itu Aisyah melihat Rasulullah sedang berdoa kepada Allah SWT minta ampunan untuk muslim yang telah wafat di pemakaman bakhi maka Rasulullah berkata pada Aisyah bahwa hari itu Allah memberi pengampunan pada umatNya.
Baca juga: Keutamaan Ibadah Malam Nisfu Syaban Kata Ustadz Abdul Somad, Lakukan Setelah Shalat Magrib
"Namun hadist ini dhaif tapi sahihkan oleh ulama Syekh Muhammad Nasudin Albani," jelas Ustadz Adi Hidayat.
Hadist shahih itu adalah dari Abu Musa Al Asadi, Anda bisa temukan di silsilah Al Hadist Al Asadi kalimatnya sangat singkat bahwa Nabi Muhammad SAW mengatakan Allah SWT mengamati kepada hambaNya di malam pertengahan syaban dan mengampuni yang memohon ampunan bahkan sekalipun sebanyak bulu domba
Ini sama dengan hadist yang disampaikan sahabat nabi senior sebanyak 31 orang bahwa Allah akan memberikan ampunan bagi hamba-hamba yang memintanya di sepertiga malam setiap hari.
“Maka rugi bila Anda tak memintanya, hadist qudsi di bulan syaban di Al Asadi dikatakan ampunan itu di malamnya tapi kalau tiap hari di penghujung malam
Baca juga: Ustadz Adi Hidayat Jelaskan Dalil Menyesatkan Tentang Puasa Sunnah Rajab: Dibebaskan dari Neraka?
Amalannya Nabi Muhammad SAW tidak menyebutkan secara spesifik, kalalu para sahabat itu banyak beramal saja, ada juga yang melakukan tahajud, ada yang beristighfar
“Jadi kalau ada amalan yang spesifik menujukkan di malam itu maka disepakati oleh ulama disebut sebagai hadist palsu
Misal hadist yang mengatakan bangung di malam syaban tunaikan shalat sekian rakaat dibacakan dengan qulhu dsb
itu saking palsunya hadist itu kitab hadist paslu saja nggak ada. Itu dimunculkan kemudian
"Jadi kalau mau menghidupkan malam nifsu syaban silahkan saja lakukan shalat tahajud, baca Alquran, istighfar silahkan saja," imbuh Ustaz Adi Hidayat.
Kalau siangnya mau puasa boleh saja Ayyamul bidh, silahkan saja asal jangan disandarkan dengan hadist yang bermasalah
Termasuk yang fenomenal, imbuh Ustaz Adi Hidayat, bahwa pada saat pertengahan syaban buku amalan manusia ditutup
"Kalau ditutup artinya amalan kita nggak dicatat dan mustahil buku seorang hamba ditutup kecuali ketika dia telah wafat," kata Ustaz Adi Hidayat.
Jadi buku catatan itu tidak akan ditutup kebaikan sekecil apapun akan dicatat dan ditampilkan di akherat nanti
Jadi yang benar adalah pena yang diangkat yang tidak dituliskan itupun bukan di pertengahan Saban atau bulan Ramadan hanya dikhususkan pada tiga golongan tertentu yaitu :
1. Dari anak kecil sampai dia baligh jadi kalau ada anak kecil yang nggak shalat dia gak dihisab sama Allah sebelum dia baligh disitu penanya dianggap tapi buku catatan sudah dibuka
2. Orang yang terganggu kesadarannya sampai dia sadar kembali disebut dengan tidak waras itu tidak dihisab atau dihitung misalkan orang itu ambil mangga Anda jangan marah karena Allah tidak menghisabnya
3. Lalu golongan orang yang tidur sampai dia bangun jadi ketika dia kesiangan shalat subuh maka itu tidak dihisab
"Maka itu amalan Nifsu Saban bisa dilakukan tapi dalam batas wajar, silahkan lalkukan amalan sunah seperti yang sudah diajarkan," pungkasnya.
Simak di video ini
Berikut ini kumpulan hadis palsu tetang amalan bulan Syaban
Hadits pertama
Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
” أتاني جبريل عليه السلام فقال هذه ليلة النصف من شعبان , ولله فيها عتقاء من نار بعدد شعور غنم بني كلب لا ينظر الله فيها إلى مشرك ولا إلى مشاحن ولا إلى قاطع رحم ولا إلى مسبل ولا إلى عاق لوالديه ولا إلى مدمن خمر ” . ضعيف جداً –
Nabi SAW bersabda: “Malaikat Jibril mendatangiku dan berkata: Ini adalah malam nishfu (pertengahan) Sya’ban, pada malam ini Allah membebaskan dari neraka (manusia) sejumlah bulu kambing suku Kalb.
Pada malam ini pula Allah tidak mau melihat kepada orang msyrik, orang yang bermusuhan (dengan sesama muslim), orang yang memutuskan tali kekerabatan, orang yang memanjangkan kainnya melebihi mata kaki, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan pecandu minuman keras.” Hadits ini lemah sekali.
Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qadir berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Tirmidzi dalam kitab shaum, juga Al-Baihaqi dalam kitab ash-shalat dari jalur Hajaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Katsir dari Urwah dari Aisyah.
Imam Tirmidzi berkata: Hadits ini tidak dikenal kecuali dari jalur Hajaj. Aku telah mendengar imam Muhammad (bin Ismail) yaitu imam Al-Bukhari melemahkan hadits ini dengan mengatakan: Yahya tidak mendengar hadits ini dari Urwah dan Hajaj tidak mendengarnya dari Yahya.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang sama sehingga nilainya juga hadits palsu.
Imam Ad-Daruquthni berkata: Sanadnya mudhtarib (goncang) tidak shahih. Imam Al-‘Iraqi berkata: Imam Al-Bukhari melemahkan hadits ini karena sanadnya terputus pada dua tempat dan ia menyatakan tidak ada satu pun sanad hadits ini yang shahih.
Imam Ibnu Dihyah berkata: Tidak ada satu pun hadits tentang malam nishfu Sya’ban yang shahih dan tidak ada seorang pun perawi yang jujur meriwayatkan hadits tentang shalat sunah (malam nishfu Sya’ban).
Hal itu hanya diada-adakan oleh orang yang mempermainkan syariat nabi Muhammad SAW dan senang memakai pakaian Majusi.” (Dha’if Jami’ Shaghir no. 1761).
Hadits kedua
عن أبي أمامة : “خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة : أول ليلة من رجب و ليلة النصف من شعبان و ليلة الجمعة و ليلة الفطر و ليلة النحر”. موضوع
Dari Abu Umamah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Lima malam yang pada saat tersebut doa tidak akan ditolak oleh Allah; malam pertama bulan Rajab, malam nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam idul Fitri, dan malam idul Adha.”
Ini adalah hadits palsu.
Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qadir menulis: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dan Ad-Dailami dari jalur Abu Umamah. Juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Ibnu Nashir, dan Al-‘Askari dari jalur Ibnu Umar. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: Semua jalur hadits ini cacat.”Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini palsu dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 2852.
Hadits ketiga
عن علي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : “إذا كانت ليلة نصف شعبان فقوموا ليلها ،وصوموا يومها ؛فإن الله تبارك وتعالى ينـزل فيها لغروب الشمس إلى السماء الدنيا فيقول : ألا من مستغفرٍ فأغفر له ؟ ألا من مسترزقٍ فأرزقه ؟ ألا من مبتلى فأعافيه ؟ ألا سائل فأعطيه ؟ ألا كذا ألا كذا ؟حتى يطلع الفجر”.
Dari Ali bin Abi Thalib berkata: Rasulullah SAW bersabda: Jika malam nishfu Sya’ban maka hendaklah kalian shalat malam dan berpuasa di siang harinya karena sesungguhnya Allah SWT turun ke langit dunia pada malam itu sejak matahari tenggelam.
Allah berfirman: Adakah orang yang meminta ampunan sehingga Aku pasti mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki sehingga Aku pasti memberinya rizki?
Adakah orang yang terkena musibah sehingga Aku pasti menyembuhkannya? Adakah orang yang meminta sehingga Aku pasti akan memberinya? Adakah orang yang begini? Adakah orang yang begitu? Demikianlah sampai terbit fajar.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Ini adalah hadits palsu.
Al-Hafizh Al-Bushiri dalam Misbahuz Zujajah fi Zawaid Ibni Majah menulis: Sanadnya lemah karena kelemahan Ibnu Abi Sabrah, nama lengkapnya adalah Abu Bakar bin Abdullah bin Muhammad bin Abi Sabrah.Imam Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma’in berkata: Ia adalah seorang pemalsu hadits.
Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini palsu dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 652 dan Dha’if Targhib wat Tarhib no. 623. (gomuslim)