Viral Media Sosial
Status Anggota Banser Abu Janda Dianggap Cemarkan Nama Baik, Begini Penjelasan Komandan Densus 99
Kang Zaman mengingatkan agar seorang aggota Banser tidak hanya bangga dengan seragam lantas mengabaikan prinsip dasar yang sudah ditentukan.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-- Permadi Arya atau yang menjuluki dirinya Ustaz Abu Janda menjadi sorotan sejak beberapa hari ini akibat sejumlah pernyataan kontroversialnya.
Dua di antaranya soal dugaan tindakan rasisme terhadap pegiat HAM asal Papua, Natalius Pigai dan pernyataan yang menyebut Islam agama pendatang dari Arab serta Islam agama yang arogan.
Pernyataan Abu Janda menuai sorotan bahkan sejumlah tokoh baik dari Muhammadiyah hingga Nahdlatul Ulama ikut angkat bicara.
Di sisi lain, sejumlah warga NU menyayangkan sikap Abu Janda yang sering membawa bendera NU atau Banser.
Bahkan, sebagian warganet kerap mengejek Banser lantaran ada Abu Janda di dalam organisasi itu.
Baca juga: Bu Susi Diserang Buzzer usai Ajak Unfollow Akun Abu Janda,Disebut Tak Tahu Terimakasih kepada Jokowi
Seiring dua masalah terakhir yang mencuat, banyak yang mempertanyakan keanggotaan Abu Janda dalam tubuh Ansor-Banser hingga permintaan kepada petinggi Banser untuk menindak Abu Janda yang dinilai justru mencoreng nama baik organisasi.
Sejumlah akun membenarkan bahwa Abu Janda memang seorang anggoa Banser yang telah mengkuti diklat dasar.
Bahkan, di sejumlah kesempatan Abu Janda dipercaya sebagai mentor untuk mengisi pelatihan para kader Banser.
"Memang benar adanya. Sahabat @permadiaktivis1 memang lulusan Diklatsar Banser Kartika nawa 23 Kabupaten Magelang di Suropati Kajoran Magelang. Saya saksinya," tulis @KangSumadi_
Baca juga: Diancam Akan Dilaporkan Balik oleh Abu Janda, Haris Pertama Tak Gentar: Saya Melawan Orang Rasis
Baca juga: Ambroncius Nababan Tersangka, Jenderal Listyo Sigit Ditantang untuk Memproses Hukum Abu Janda
Sementara, akun Sumantri Suwarno menyebutkan bahwa Abu Janda sudah aktif di medsos sebelum aktif di Banser.
"Sahabat Permadi Arya benar anggota Banser, yang memang keanggotaannya terbuka selama bersedia mengikuti nilai-nilai Ansor Banser. Tetapi dia telah aktif di medsos sebelum menjadi anggota Banser, dan tentu pernyataan2nya bukan sikap organisasi. Semoga ada penyelesaian yang baik," tulisnya.
Polemik tentang keanggotaan Abu Janda di tubuh Banser pun masih tidak berhenti.
Seorang warganet dengan nickname ANO, meminta publik tidak meributkan soal keanggotaan Abu Janda dalam tubuh Banser.
"Ribut amat mempertanyakan apakah @permadiaktivis1 itu Banser, iya Permadi seorang Banser diklat Magelang yang sudah baiat dan bersetia pada nawa prasetia Banser dan NKRI. Jika sekarang dia ada masalah hukum dia akan tanggung itu, kalo soal moral value kalian tanya sendiri masing2," tulisnya.
Baca juga: Aksi Kemanusiaan Banser dan FPI di Lokasi Bencana, Sebrangi Laut hingga Terjang Bukit Berlumpur
Baca juga: Menag Gus Yaqut Hormat dan Bangga Ansor-Banser Terlibat Aksi Kemanusiaan di Lokasi Bencana
"Kemarin komandan Banser Habib @noeruzzaman sudah sarikan apaitu Banser dalam 2 twit, iya Permadi salah dan dia akan tanggung jawab hal itu. Ini masalah hukum, biar hukum yang uji hal tersebut. Jangan tiba2 pada jadi hakim, dan mendadak mempertanyakan dia Banser atau bukan," imbuhnya
"Jika ada pelanggaran pada @permadiaktivis1 terkait etika dan keBanseran biar bib @noeruzzaman
yang selesaiakan secara adat, jika ada masalah hukum biar @permadiaktivis1 hadapi, dan dia akan hadapi itu. Janganlah tiba2 semua jadi hakim atas diri orang lain hanya karena benci," tulisnya lagi
Penjelasan GP Ansor
Sementara itu, Ketua Bidang Politik dan Pemerintahan PP GP Ansor, Luqman Hakim menegaskan bahwa Abu Janda saat ini bukanlah pengurus Ansor-Banser.
Namun, ia tidak menampik apabila Abu Janda memanglah anggota Banser.
"Anggota Banser ada 7 jutaan di seluruh dunia. Mungkin saja Abu Janda salah satunya. Saat ini saya sedang tidak pegang data anggota Banser," jelasnya.
Sementara itu, Komandan Densus 99 Banser, Noeruzzaman dalam cuitannya menjelaskan soal bagaimana landasan sesungguhnya menjadi seorang Banser.
Baca juga: Ramai Bahasan Pam Swakarsa, Statemen Moeldoko sebut Banser Layak Jadi Angkatan Perang Cadangan Viral
Kang Zaman menyoroti soal kepatuhan terhadap prinsip dasar seorang anggota Banser.
Ia pun mengingatkan agar seorang aggota Banser tidak hanya bangga dengan seragam lantas mengabaikan prinsip dasar yang sudah ditentukan.
"Menjadi kader atau Anggota Ansor Banser itu bukan hanya seragam dan pakaiannya saja tapi juga harus memiliki 3 hal yaitu amaliyah/ritual ibadah, fiqrah/cara berfikir dan haraqah/cara bertindak sesuai dengan prinsip dasar," imbuhnya
"Prinsip dasar amaliyah, fiqrah dan haraqah Ansor dan Banser adalah tawasuth/moderat, tawazun (seimbang), i'tidal (adil), dan tasamuh (toleran) dan yg utama adalah akhlaqul karimah. Jd apbl ada org mengaku Ansor/Banser tp sikapnya tdk sesuai prinsip tsbt maka dia hanya ANSOR KTP," jelasnya.
Baca juga: Sri Mulyani Pungut Pajak Pulsa, Kartu Perdana hinga Token Listrik Mulai 1 Februari,Harga Bakal Naik?
Cuitan Abu Janda soal Islam agam Arogan
Permadi Arya atau yang kerap menjuluki dirinya sebagai Ustaz Abu Janda kembali membuat geram banyak warganet.
Masalahnya, Abu Janda kembali menyampaikan narasi kontroversial di akun Twitter pribadinya, @permadiaktivis1, Minggu (24/1) lalu.
Dalam cuitannya, Abu Janda menyebut Islam, sebagai agama pendatang yang arogan di Indonesia.
“Yang arogan di Indonesia itu adalah Islam, sebagai agama pendatang dari Arab, kepada budaya asli kearifan lokal. Haram-haramkan ritual sedekah laut, sampe kebaya diharamkan dengan alasan aurat.”
Ketika mendapatkan protes atas cuitannya, Abu Janda kembali menegaskan bahwa Islam memang agama yang berasal dari Arab.
Baca juga: Ratusan Orang Tepergok Dugem di Hotel California Jakpus, Irwandi Ancam Bakal Tutup Permanen
Baca juga: Megawati Bicara Banjir Kalsel, Rachland Demokrat: Bagaimana dengan Keppres yang Madam Tandatangani?
Ia lalu menyebut sejumlah agama asli asal Indonesia.
"Islam memang agama pendatang dari Arab, agama asli Indonesia itu sunda wiwitan, kaharingan dll. dan memang arogan, mengharamkan tradisi asli, ritual orang dibubarkan, pake kebaya murtad, wayang kulit diharamkan. kalo tidak mau disebut arogan, jangan injak2 kearifan lokal," tulisnya.
Baca juga: Satu Persatu Relawan dan Timses Jadi Komisaris, Warganet: Denny Siregar dan Abu Janda Menyusul
Baca juga: Beri Selamat kepada Budiman Sudjatmiko, Ferdinand Hutahaen Didoakan Segera Menyusul Jadi Komisaris
Cuitan tersebut ramai ditanggap warganet hingga sejumlah tokoh agama, baik dari Nahdhatul Ulama maupun Muhammadiyah.
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti meminta Abu Janda untuk belajar mengaji lebih dahulu agar tak keliru memahami ajaran Islam.
"Suruh belajar ngaji dulu lah dia. Biar ngajinya diperdalam dulu supaya enggak keliru memahami ajaran agama Islam," kata Mu'ti di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (29/1).
Sementara tokoh NU Akhmad Sahal menilai pemahaman Abu Janda salah kaprah.
"Twit @permadiaktivis1 yang bilang Islam sebagai arogan ini ngaco banget. Memang ada aliran Islam tertentu yang haramkan tradisi lokal, tapi muslim yang menentang aliran tersebut banyak sekali. Paham keislaman NU justru sangat ramah dengan tradisi lokal. Menyebut Islam argoan itu koplak!" tulis Sahal lewat @sahaL_AS.
Mantan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia, Tengku Zulkarnain bahkan meminta agar kepolisian kali ini berani memproses hukum Abu Janda.
Baca juga: Rumah Tangga Hancur karena Orang Ketiga, Anita Hara: Suami Saya Lebih Pilih Kuntilanak Pelakor
"Andaikata Abu Janda itu Muslim, dengan ucapannya itu dia jatuh murtad. Yang mengharamkan buka aurat atas wanita, Allah dan Rasul-Nya. Berani bilang Allah dan Rasul, dan Islam Arogan? Pak Polisi tidak bisa proses? Jgn sampai umat Islam menanganinya langsung," tulis Tengku Zulkarnain di akun Twitternya, Selasa (26/1/2021).
Tengku Zul menyebut, menghina suatu agama bukanlah merupakan delik aduan.
Tengku Zul pun khawatir, apabila polisi kembali mendiamkan Abu Janda, maka umat Islam akan hilang kesabaran.
Baca juga: Puji Pemotongan Gaji Kader PKS untuk Bencana, Tengku Zul Singgung Korupsi Bansos dan Partai Korup
Baca juga: Diserang Ribuan Buzzer Tiap Kritik Pemerintah, Sujiwo Tedjo:Jangan Bikin Kesan Pak Jokowi Antikritik
"Menghina Agama bukan Delik Aduan. Pasal 156 a KUHP mengancam 5 tahun penjara. Tapi jika Polisi masa bodoh tidak mau proses dan umat Islam hilang kesabarannya. Saya khawatir para Ulama tidak akan menyalahkan siapa saja pemuda Islam yang mau menyelesaikan kasus orang ini di luar hukum," katanya
Tengku Zul mempertanyakan maksud dari Abu Janda yang menyebut Islam adalah agama yang arogan.
"Agama Islam mengharamkan sesuatu itu utk orang Islam saja. Tidak ada paksaan bagi umat lain. Abu Janda bilang Islam Arogan? Salahkah jika Islam mengatur umatnya? UUD 1945 Pasal 29:1 dan 2 menjamin pelaksanaan Agama 100% Polisi mohon proses hukum orang ini, sebelum umat Islam marah," tulis Tengku Zul
Selain itu, Tengku Zul juga memita kepada Wakil Presiden KH Maruf Amin agar mendorong kepolisian memproses hukum Abu Janda yang dianggapnya sudah keterlaluan.
"Kepada YTH Bapak Yai @KHMarufAminn Mohon bapak perintahkan Polisi utk proses hukum Abu Janda. Kalau tidak saya khawatir, jika tdk diproses, akan ada umat Islam yang marah dan bertindak di luar hukum. Malu NKRI di mata dunia. Matur Nuwun, Yai...," tulisnya.
Baca juga: Disindir Dandhy Laksono soal Komisaris, Budiman Sudjatmiko Tak Terima, Ungkit Sebuah Momen Memalukan
Baca juga: DPC Gerindra Minta Anies Mundur, Ade Armando:Pendukungnya Kini Sadar Sang Gubernur Tidak Berkualitas
Sempat hina Natalius Pigai
Sebelumnya, Abu Janda juga ramai menjadi sorotan karena dianggap menghina Pegiat HAM Natalius Pigai.
Natalius Pigai awalnya menyindir mantan kepala BIN yakni AM Hendropriyono sebagai dedengkot tua. Dia menanyakan kapasitas Hendropriyono yang memberi ancaman kepada eks anggota FPI.
“Ortu mau tanya. Kapasitas bapa di negara ini sebagai apa ya, penasehat Pres, pengamat? Aktivis?, biarkan diurus gen abad ke 21 yang egaliter, humanis, demokrat. Kami tidak butuh hadirnya dedengkot tua. Sebabnya wakil ketua BIN dan Dubes yang bapak tawar saya tolak mentah-mentah. Maaf,” tulis Pigai.
Baca juga: PKS Nilai Desakan Agar Anies Mundur dari Jabatannya Terlalu Berlebihan
Abu Janda kemudian membalas cuitan Pigai. Dia menyebutkan rekam jejak Hendropriyono tak perlu diragukan.
Sehingga setiap saran dan pendapat yang dikeluarkan olehnya adalah hal yang baik untuk kehidupan berbangsa.
“Kapasitas Jend. Hendropriyono: Mantan Kepala BIN, Mantan Direktur BAIS, Mantan Menteri Transmigrasi, Profesor ilmu Filsafat Intelijen, Berjasa di berbagai operasi militer,” tulis Abu Janda di akun Twitternya.
“Kau Natalius Pigai apa kapasitas kau? sudah selesai evolusi belom kau?” tulis Abu Janda.
Baca juga: Diserang Ribuan Buzzer Tiap Kritik Pemerintah, Sujiwo Tedjo:Jangan Bikin Kesan Pak Jokowi Antikritik
Natalius Pigai kemudian menanggapi komentar Abu Janda yang dinilai telah menyerang fisiknya.
Menurut Pigai, sudah menjadi risiko bagi dirinya mendapat serangan dan hinaan. Seba selama ini dia membela umat Islam yang teraniaya.
“Bro Moti itu risiko dari keputusan kita membela umat Islam yang teraniaya, rakyat dan orang-orang lemah yang membutuhkan pertolongan karena kekuasaan yang tiran,” tulis Pigai dikutip akun twitternya, Selasa (5/1).
Dia mengatakan, sikap kritisnya terhadap pemerintah merupakan jalan terjal demi tegaknya HAM dan perdamaian.
“Kita juga pemimpin negara dan sudah memilih jalan terjal demi tegaknya demokrasi, HAM, perdamaian dan keadilan,” ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/permadi-arya-alias-abu-janda-kembali-membuat-kontroversi-dengan-menyebut-islam-agama-arogan.jpg)