Selasa, 2 Juni 2026

Erupsi Gunung Semeru

Erupsi, Status Gunung Semeru Masih Bersatus Waspada

Awan panas guguran (APG) meluncur dari Gunung Semeru, dengan jarak luncur sekitar 4,5 kilometer, Sabtu (16/1/2021) pukul 17.24 WIB.

Tayang:
ISTIMEWA/bnpb.go.id
Terjadi Awan Panas Guguran (APG) Gunung Semeru dengan jarak luncur kurang lebih 4,5 kilometer pada Sabtu (16/1/2021) sore pukul 17.24 WIB. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Awan panas guguran (APG) meluncur dari Gunung Semeru, dengan jarak luncur sekitar 4,5 kilometer, Sabtu (16/1/2021) pukul 17.24 WIB.

Menurut laporan pengamatan visual sementara, terlihat asap meluncur ke arah tenggara, yang diduga dari dari kawah Jonggring Kaloko berwarna kelabu pekat dalam volume besar.

Sedangkan untuk hujan abu vulkanik diperkirakan mengarah ke utara, menyesuaikan arah angin.

Peristiwa tersebut juga dikonfirmasi oleh Bupati Lumajang Thoriqul Haq.

Perkiraan awal, lokasi tersebut berada di daerah sekitar Desa Sumber Mujur dan Desa Curah Koboan.

"Gunung semeru mengeluarkan awan panas, dengan jarak 4.5 kilo."

Baca juga: Total 50 Potongan Besar dan 46 Kantong Serpihan Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 Diangkat dari Laut

"Daerah sekitar Sumber Mujur dan Curah Koboan, saat ini menjadi titik guguran awan panas," jelas Bupati Thoriqul, dikutip dari laman bnpb.go.id.

Mengenai status gunung, saat ini Gunung Semeru masih berada pada level II atau 'Waspada.'

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sedang melakukan evaluasi lebih lanjut.

Baca juga: Stok Menurun, Masyarakat Diminta Tidak Takut Donor Darah Selama Pandemi Covid-19

Sementara, masyarakat yang bermukim di sekitar Desa Sumber Mujur dan Desa Curah Koboan dan sekitarnya diminta waspada dalam menghadapi potensi bencana yang dapat ditimbulkan.

Khususnya, masyarakat di sekitar daerah aliran Sungai (DAS) Curah Kobokan, agar tetap waspada dalam menghadapi adanya intensitas curah hujan yang tinggi.

Sebab, hal itu dapat memicu terjadinya banjir lahar dingin.

Baca juga: 31 Ribu Vaksinator Disiapkan untuk Suntik 181,5 Juta Penduduk, Target Setahun Rampung

Tim gabungan lintas Kementerian/Lembaga masih dalam proses pengembangan informasi dan belum ada keterangan adanya korban jiwa atas peristiwa tersebut.

Sebelumnya Wartakotalive memberitakan, Gunung Semeru kembali erupsi pada Sabtu (16/1/2021) sekitar pukul 17.24 WIB.

Erupsi Semeru mengeluarkan materi vulkanik dengan jarak luncur sekitar 4,5 kilometer.

Aktivitas vulkanik itu hingga kini masih berlangsung.

"Telah terjadi Awan Panas Guguran (APG) Gunung Semeru dengan jarak luncur kurang lebih 4,5 KM pada Sabtu (16/1) pkl 17.24 WIB," tulis akun Twitter @BNPB_Indonesia.

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mendorong pembuatan jalur evakuasi bagi warga dan hewan ternak.

Hal itu sebagai mitigasi adanya ancaman guguran lahar panas dari aktivitas Gunung Semeru agar segera dibangun.

Baca juga: Mengaku Sakit, Dirut RS UMMI Bogor Ternyata Sehat Saat Didatangi Polisi, Langsung Diperiksa di Rumah

Hal itu dikatakan Doni saat meninjau lokasi terdampak guguran lahar Gunung Semeru di Desa Supiturang, Dusun Curah Koboan, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Kamis (3/12/2020).

Doni sudah meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendukung pembangunan jalur evakuasi, sebagai bagian dari pengurangan risiko bencana alam.

“Kami dari BNPB sudah berkoordinasi dengan Kementerian PUPR," kata Doni.

Baca juga: UPDATE Kasus Covid-19 Indonesia 16 Januari 2021: Rekor Baru Beruntun, Pasien Positif Tambah 14.224

Selain jalur evakuasi, Doni juga mendorong agar pembuatan jalur aliran lahar dapat dibangun kembali.

Sehingga apabila terjadi guguran lahar tidak berdampak pada permukiman peduduk.

“Membangun sebuah jalur evakuasi yang bisa memudahkan masyarakat untuk menuju ke tempat yang aman."

Baca juga: Dianggap Bohong Soal Kondisi Kesehatan Mertuanya, Menantu Rizieq Shihab Dicecar 48 Pertanyaan

"Termasuk juga membangun kembali aliran lahar agar tidak mengarak ke permukiman penduduk,” imbuhnya.

Jalur evakuasi tersebut menjadi penting, sebab hingga sejauh ini sudah ada rambu evakuasi, akan tetapi jalur evakuasi belum memadai.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga melaporkan bahwa selain jalur evakuasi, pengerukan jalur aliran lahar juga harus menjadi prioritas.

Baca juga: Perlu Kajian, Pemerintah Belum Buka Vaksin Covid-19 Jalur Mandiri Alias Berbayar

Sebab, berdasarkan data yang dihimpun, ketebalan sedimentasi dari jalur aliran lahar sudah mencapai 15 meter.

Sehingga pihaknya tidak ingin kemudian muncul permasalahan baru apabila terjadi aktivitas erupsi Gunung Semeru.

“Jalur evakuasinya harus dipastikan. Masyarakat harus terkonfirmasi. Tanda-tanda evakuasi harus dipasang di banyak titik,” kata Khofifah.

Baca juga: Erick Thohir Ingin 15 Persen Direksi BUMN Diisi Perempuan, 5 Persen Berumur di Bawah 40 Tahun

“Jalur aliran lahar. Ini sedimentasinya sudah sekitar 15 meter, jadi kan harus dikeruk."

"Sehingga kalau ada material gunung yang meluber, maka kita tidak berharap itu kemudian meluber ke permukiman penduduk,” jelasnya.

Dalam keterangan sebelumnya, Gubernur Khofifah juga meminta agar layanan komunikasi terkait perkembangan informasi aktivitas Gunung Semeru dapat dilakukan dengan baik.

Baca juga: Masyarakat Tak Bisa Sesuka Hati Pilih Merek Vaksin Covid-19, Ini Alasannya

Agar,  tidak muncul adanya kabar tidak benar yabg dapat meresahkan warga.

“Ada komunikasi yang harus dipastikan sampai dengan benar dan cepat kepada masyarakat,” kata Khofifah.

Sebagaimana informasi sebelumnya, Gunung Semeru mengeluarkan guguran lahar panas dari aktivitas vulkanik pada Sabtu (28/11/2020) dini hari.

Baca juga: CARA Registrasi Vaksinasi Covid-19 untuk Nakes Via WhatsApp, Kirim Pesan ke Nomor 081110500567

Peristiwa tersebut telah berdampak pada 1.298 warga yang tinggal di 5 desa, 2 kecamatan di Kabupaten Lumajang.

Guna memberikan dukungan untuk percepatan penanganan erupsi Gunung Semeru, BNPB menyerahkan bantuan berupa Dana Siap Pakai (DSP) senilai 500 juta.

Selain itu, BNPB juga memberikan dukungan lain untuk penanganan pengungsi berupa 3 unit tenda pengungsi, 1 unit flexibel tank, dan 5.000 swab tes antigen.

Baca juga: Dukung Program Vaksinasi Covid-19, Ada Alat Suntik di Perut Pesawat Garuda Indonesia

Juga, 500 paket perlengkapan bayi, 1.200 tambahan gizi, 1.200 paket lauk pauk, dan 1.200 makanan siap saji.

Serta, 4.000 masker kain, 950 matras, 1.480 selimut, dan 12 unit lampu air garam.

Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Kepala BNPB Doni Monardo kepada Bupati Lumajang Thoriqul Haq.

Baca juga: Sabtu Sore, Tim SAR Kembali Kumpulkan 17 Kantong Bagian Tubuh Korban SJ 182

Juga, disaksikan oleh Anggota Komisi VIII DPR M Ali Taher dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang turut hadir dalam peninjauan.

Berikut ini beberapa potensi ancaman bencana Gunung Semeru yang patut diwaspadai masyarakat menurut PVMBG:

- Lontaran batuan pijar di sekitar puncak.

Baca juga: Mantan Karyawan PT Djakarta Lloyd: Pak Erick Thohir, Tolong Bayar Tunggakan Hak Kami Selama 8 Tahun!

- Material lontaran berukuran abu dapat tersebar lebih jauh tergantung arah dan kecepatan angin.

- Potensi ancaman awan panas guguran dan guguran batuan dari kubang atau ujung lidah lava ke sektor tenggara dan selatan dari puncak.

- Jika terjadi hujan dapat mengakibatkan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di daerah puncak. (CC)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved