Virus Corona

Epidemiolog UI Tuding Pemerintah Berupaya Tekan Testing Covid-19 demi Pilkada Serentak 2020

Padahal, untuk dapat mengetahui penularan Covid-19 yang sesungguhnya, testing harus dilakukan secara masif di seluruh wilayah.

Kompas TV
Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono dalam kanal YouTube Kompas TV, Kamis (28/5/2020). 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Pandu Riono, epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) menuding pemerintah berupaya menekan testing Covid-19 di sejumlah daerah yang menggelar Pilkada Serentak 2020.

Menurut Pandu, upaya itu dilakukan untuk menciptakan kondisi seakan-akan suatu daerah masuk zona hijau dan aman dari penularan Covid-19.

Padahal, Pandu menilai penularan Covid-19 masih terjadi di seluruh Indonesia.

Baca juga: Dalam Waktu Dekat Bareskrim Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Kebakaran Gedung Kejaksaan Agung

Hal itu disampaikan Pandu dalam webinar bertajuk 'Mengapa Pilkada Perlu Ditunda', yang disiarakan kanal YouTube CSIS Indonesia, Rabu (14/10/2020).

"Supaya tidak kelihatan bahwa pandemi itu menjadi tinggi, banyak petahana yang mau ikut lagi, itu berusaha menekan testing," kata Pandu.

"Sejak awal kita mau melakukan pilkada seperti itu, sehingga seakan-akan wilayah itu hijau, tapi hijaunya artifisial karena menekan jumlah testing," ungkapnya.

Baca juga: Ini Alasan Ada Anggota DPR Tak Dapat Naskah RUU Cipta Kerja Saat Rapat Paripurna Pengesahan

Pandu menambahkan, angka tes Covid-19 di Indonesia masih sangat rendah.

Bahkan, angka tes Covid-19 di Tanah Air masih jauh tertinggal dibandingkan negara lain.

Padahal, untuk dapat mengetahui penularan Covid-19 yang sesungguhnya, testing harus dilakukan secara masif di seluruh wilayah.

Baca juga: Jamin Keamanan Pengunjung, Dewan Pariwisata Hong Kong Luncurkan Standarisasi Protokol Kesehatan

"Jadi testing kita kan sangat rendah, itu yang menjadi masalah, kalau testingnya rendah ya kasusnya rendah," jelas Pandu.

Sementara, jumlah kabupaten/kota yang berstatus zona merah atau berisiko tinggi penyebaran Covid-19 menurun sangat tipis per 11 Oktober 2020.

Jumlah wilayah yang masuk zona merah menurun menjadi 53 Kabupaten/kota, dari sebelumnya 54.

Berikut ini daftar 53 kabupaten/kota zona merah, dikutip Wartakotalive dari laman covid19.go.id:

SUMATERA UTARA

1. BATU BARA

2. KOTA SIBOLGA

SUMATERA SELATAN

3. MUSI BANYUASIN

4 PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR

SUMATERA BARAT

5. KOTA PADANG

6. DHARMASRAYA

7. AGAM

8. KOTA BUKITTINGGI

9. SIJUNJUNG

10. TANAH DATAR

11. PESISIR SELATAN

SULAWESI TENGGARA

12. KOLAKA UTARA

13. KOTA KENDARI

SULAWESI SELATAN

14. KOTA PARE PARE

RIAU

15. KOTA PEKANBARU

16. SIAK

17. KUANTAN SINGINGI

PAPUA BARAT

18. MANOKWARI

19. KOTA SORONG

PAPUA

20. JAYAPURA

21. KOTA JAYAPURA

22. SARMI

23. BIAK NUMFOR

NUSA TENGGARA TIMUR

24. NGADA

MALUKU

25. KOTA AMBON

KALIMANTAN TIMUR

26. KOTA SAMARINDA

27 .KOTA BONTANG

28. KUTAI KARTANEGARA

29. KUTAI TIMUR

KALIMANTAN SELATAN

30. HULU SUNGAI TENGAH

JAWA TENGAH

31. KOTA PEKALONGAN

32. KOTA TEGAL

33. BLORA

34. PATI

35. PEKALONGAN

36. KEBUMEN

37. SUKOHARJO

38. WONOSOBO

JAWA BARAT

39. BEKASI

40. KUNINGAN

41. KARAWANG

JAMBI

42. TANJUNG JABUNG BARAT

DKI JAKARTA

43. JAKARTA SELATAN

44. JAKARTA BARAT

45. JAKARTA TIMUR

46. JAKARTA UTARA

BANTEN

47. KOTA TANGERANG SELATAN

48. TANGERANG

BALI

49. GIANYAR

50. KOTA DENPASAR

ACEH

51. PIDIE JAYA

52. KOTA LHOKSEUMAWE

53. ACEH SINGKIL. (Fransiskus Adhiyuda)

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved