Kolom Trias Kuncahyono

Lelaki dari Nippur

Salah satu warisan peradaban Mesopotamia Kuno yang amat bernilai bagi umat manusia adalah kumpulan hukum yang biasa disebut Codex Hammurabi.

Istimewa
Ilustrasi 

Ibn-e khaldoon (700-770AD), mengatakan, nafsu kuat penguasa untuk hidup mewah menyebabkan korupsi.

Kehidupan mewah mengharuskan mereka untuk menjadi korup. Mereka menghalalkan semua jalan dan segala cara untuk mendapatkan kemewahan itu.

Kalau kalian bertanya, apakah korupsi hanya dilakukan oleh para pejabat pemerintah, pejabat tinggi, pejabat atau pengurus partai, anggota parlemen, aparat penegak hukum, atau pengusaha-pengusaha kaya saja?

Tidak! Korupsi, dalam bentuk lain, juga dilakukan oleh orang-orang kecil.

Bukankah kalian mengenal adanya istilah calo, makelar, catut, atau yang mentereng broker dan sebagainya.

Seakan-akan mereka itu membantu, menjual jasa, tetapi apakah benar?

Mungkin, calo-calo, broker, perantara atau apapun namanya muncul di kantor-kantor pemerintah atau di tempat lain, karena ruwetnya birokrasi, yang mungkin memang dibuat ruwet.

Sebab, pegawai kecil, pegawai rendahan kan juga kepingin “mendapatkan bagian” (A Sudiarja, 2018).

Sebenarnya kalau kita semua mau jujur, “korupsi-korupsi” di tingkat bawah seperti juga pungutan pengurusan katepe, misalnya, adalah cerminan persoalan besar yang membelit negeri ini.

Itulah kebobrokan moral dan etika, penyimpangan, perusakan, nilai-nilai kebajikan dan prinsip-prinsip moral. Semua itu adalah korupsi.

Korupsi adalah perilaku antisosial, melanggar hukum, jelas tindakan tidak jujur ​​oleh individu yang berada dalam posisi bertanggung jawab (bahkan sekarang menjadi tindakan kelompok, mafia korupsi).

Itulah sebabnya ada yang berpendapat bahwa korupsi itu tindakan anti-kemiskinan, anti-pembangunan.

Korupsi, benar-benar menghancurkan, sesuai arti asal katanya: corrumpere (Latin) yang antara lain berarti menghancurkan, membinasakan, memusnahkan, menewaskan, merusak, memakan, memburukkan, dan melemahkan.

Maka itu, koruptor berarti perusak, pembusuk, penghancur, dan penyuap.

Koruptor (Ilustrasi)
Koruptor (Ilustrasi) (Istimewa)

Tetapi mengapa Guru, di negeri ini banyak koruptor? Tanya seorang murid.

Jawab Guru: di negeri ini ada orang yang menganggap korupsi adalah suatu mode, fashion, karena nggak ikut dianggap ketinggalan mode.

Itulah sebabnya, korupsi muncul di mana-mana. Ada lagi yang berpendapat, mumpung berkuasa, kapan lagi.

Dan, perlu kalian catat bahwa korupsi di negeri ini menyangkut soal mentalitas, kultur, pandangan hidup, dan bukan semata-mata urusan ekonomi belaka.

Tetapi, tetaplah korupsi adalah penyakit, kanker yang memakan struktur budaya, politik dan ekonomi masyarakat, dan menghancurkan fungsi organ vital.

Ingat, kata Guru sebelum berdiri dan masuk ke kamarnya, harta benda yang diperoleh dengan kefasikan, kesesatan, kejahatan itu tidak berguna.

Kisah Gimil-Ninurta dan wali kota dari John T Noonan (Bribes, 1987) dan kuceritakan pada kalian, adalah salah satu contohnya.

Tetapi, apakah orang masih mau mempedulikan nasihat bijaksana ini?

Bila ada yang bertanya demikian, aku hanya bisa mengatakan, hendaklah yang punya telinga mendengar, punya mata melihat,  punya hati merasakan, dan punya otak memikirkannya akibat kejahatannya.***

BACA ARTIKEL SELENGKAPNYA, KLIK: Lelaki dari Nippur

Sumber: WartaKota
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved