Selasa, 14 April 2026

Pendidikan

Ikut Bimbel Demi Diterima Perguruan Tinggi Negeri Dianggap Tidak Mendidik, Ini Alasannya

Banyak orang memanfaatkan bimbel agar bisa tembus ke PTN. Namun, belajar di bimbel tidak sesuai dengan misi pendidikan menciptakan SDM unggul.

Penulis: Muhammad Azzam |
Wartakotalive.com/Theo Yonathan Simon Laturiuw
Ilustrasi korban yang tertipu bimbel bodong di kantor Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Rabu (27/5/2015). 

WARTAKOTALIVE.COM, BEKASI - Lembaga bimbingan belajar (bimbel) dicari para lulusan SMA dan sederajat dalam mempersiapkan diri mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri (PTN).

Lembaga bimbel juga terus bermunculan dan menawarkan janji kepada pesertanya bisa tembus PTN.

Namun, untuk bisa menjadi peserta bimbel, Anda harus merogoh kocek dalam-dalam karena biayanya tak murah, bahkan terbilang hingga puluhan juta rupiah.

Terkait banyak lulusan SMA yang tertarik mengikuti bimbel demi menjadi mahasiswa PTN, pemerhati dan praktisi pendidikan Indra Charismiadji mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia  tertinggal dibanding negara lain.

Alasannya,  bimbel muncul karena masuk PTN menggunakan sistem day test yang tidak sesuai dengan sumber daya manusia (SDM) unggul.

Padahal di negara lain, bahkan belum lama ini Amerika Serikat sudah meninggalkan sistem tes untuk warga negaranya yang akan masuk PTN.

Tak Sekadar Bimbel Karantina, Ini Supercamp Karantina Bertapa, Biaya Rp 28 Juta 100 Persen Masuk PTN

Bimbel Karantina Lavender di Hotel Mewah Capai Rp 60 Jutaan, Tak Lolos PTN Uang Kembali Rp 12,5 Juta

"Tidak lagi pakai tes itu, standar penilaian masuk PTN itu. Itu juga tidak sesuai dengan SDM unggul yang digaungkan pemerintah," kata Indra ketika dihubungi, Selasa (30/6/2020).

Indra menilai bahwa sistem bimbel merusak pendidikan di Indonesia.

Alasannya, bimbel hanya mengajarkan anak untuk bisa mengejarkan tes bukan belajar mengusai ilmunya.

"Mengusai ilmunya sama tes itu kan beda, apalagi tes modelnya adalah obyektif pilihan ganda. Nah itu sebetulnya merusak," ucapnya.

Apalagi saat ini, muncul fenomena bimbel metode karantina hingga pesertanya harus menginap dalam jangka lama. Harga untuk masuk bimbel itu pun sangat tinggi.

"Model-model bimbel apa pun itu adalah merusak karena itu mendorong ke nalar rendah," katanya.

Dia meminta pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dapat mengubah pola kebijakannya agar sesuai visi misi Presiden Joko Widodo menuju SDM unggul.

Mulai Rp 53 Juta Bimbel Karantina Lavender di Hotel Mewah, Gagal Masuk PTN Uang Kembali Rp 12,5 Juta

Siswa Ikut Bimbel Rp 89 Juta Demi Masuk FK UI, yang Lagi Tren Bimbel Model Karantina

Menurut dia, untuk menciptakan SDM unggul harus lebih mengedepankan penilaian pada karya dan prestasi anak itu. Bukan diukur hanya dalam satu hari tes saat masuk perguruan tinggi negeri.

"Artinya kalau kita dihubungkan dengan pembangunan SDM unggul kan harusnya unggul dari negara lain," katanya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved