Kolom Trias Kuncahyono

Bersama Melukis Wajah Dunia

Ada keyakinan bahwa pandemi Covid-19 akan mengubah wajah dunia. Meskipun tidak ada yang tahu kapan krisis kemanusiaan dahsyat ini akan berakhir.

Istimewa
Ilustrasi 

WARTAKOTALIVE.COM - Ada keyakinan bahwa pandemi Covid-19 akan mengubah wajah dunia. Meskipun tidak ada yang tahu kapan krisis kemanusiaan dahsyat ini akan berakhir.

Meski demikian, keyakinan bahwa dunia akan berubah, berbeda dengan kondisi sebelum pandemi Covid-19, tetaplah kuat.

Sekalipun, seperti apa perubahan yang akan terjadi, masih menjadi bahan perdebatan.

Sejumlah ahli berpendapat bahwa pandemi Covid-19 telah mempercepat transisi ke tatanan dunia yang lebih terfragmentasi di mana prinsip-prinsip pengorganisasian sistem internasional di masa depan tidak jelas.

Dalam lingkungan geopolitik yang baru, semakin sulit bagi satu negara untuk melaksanakan dan mewujudkan keinginannya, karena  banyaknya  kutub persaingan dan bekerja sama.

Apalagi, sebelum pandemi Covid-19 menyapu, dunia penuh dengan berbagai masalah berat, serius.

Ketimpangan makin nyata, baik antar-negara maupu di dalam negara.

Di AS, misalnya, yang selama ini dikenal sebagai negara paling kaya di dunia, ada jutaan orang (pada tahun 2018, diperkirakan 87 juta orang ) tidak memiliki jaminan kesehatan.

Ini yang antara lain menyadi salah satu penyebab begitu banyaknya korban Covid-19. Politik anti-demokrasi sedang merebak di mana-mana.

Misalnya, di negara-negara Amerika Latin seperti Brasil dan Bolivia, atau Eropa seperti Polandia dan Hongaria atau di Asia, seperti Filipina.

Sejarah telah mencatat bahwa krisis besar memiliki konsekuensi besar; konsekuensi besar itu biasanya tidak terduga.

Depresi Hebat (Great Depression) mendorong isolasionisme, nasionalisme, fasisme, dan Perang Dunia II – tetapi juga melahirkan New Deal, bangkitnya Amerika Serikat sebagai negara adidaya global, dan akhirnya dekolonisasi.

Serangan 9/11 menghasilkan dua intervensi militer Amerika yang gagal ke Afganistan, kebangkitan Iran, dan bentuk-bentuk baru radikalisme.

Selain itu muncul kebijakan baru AS: unilateralisme, perubahan rejim, dan sekuritisasi kebijakan luar negei ke Eropa, terutama berkaitan dengan Timur Tengah dan  Dunia Muslim (Francis Fukuyama, Foreign Affairs, 2020).

Ilustrasi
Ilustrasi (Istimewa)

Krisis keuangan 2008-2009 menghasilkan gelombang populisme anti-kemapanan yang menggantikan para pemimpin di seluruh dunia.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved