Jumat, 24 April 2026

Kolom Trias Kuncahyono

Bersama Melukis Wajah Dunia

Ada keyakinan bahwa pandemi Covid-19 akan mengubah wajah dunia. Meskipun tidak ada yang tahu kapan krisis kemanusiaan dahsyat ini akan berakhir.

Istimewa
Ilustrasi 

Epidemi influenza 1918-1919 – tidak mengakhiri persaingan kekuatan besar.

Setelah tragedi 9/11, pemerintahan George W Bush meramalkan dalam Strategi Keamanan Nasional pertamanya bahwa Amerika Serikat dan China akan meningkatkan kerja sama dalam tantanan global.

Tetapi ternyata, prediksi tersebut salah. Kedua negara malah terlibat dalam persaingan, bahkan perang dagang do zaman Donald Trump.

Apakah pandemi Covid-19, juga tidak akan melahirkan perubahan. Yang berpandangan optimistik akan mengatakan,  krisis besar memiliki konsekuensi besar, termasuk akibat-akibat positif dan negatifnya. 

PD II, misalnya, selain melahirkan dua kekuatan besar dunia—AS dan US—juga telah melahirkan semangat kebersamaan antar-bangsa-bangsa.

Hal tersebut dimanifestasikan dengan didirikannya PBB, IMF, dan juga Bank Dunia

PBB yang didirikan pada tanggal 24 Oktober 1945 bertujuan untukmenyelamatkan generasi penerus dari momok perang, … untuk menegaskan kembali keyakinan pada hak asasi manusia yang fundamental, … untuk menetapkan kondisi di mana keadilan dan penghormatan terhadap kewajiban yang timbul dari perjanjian dan sumber hukum internasional lainnya dapat dipertahankan, dan untuk mempromosikan kemajuan sosial dan standar kehidupan yang lebih baik dalam kebebasan yang lebih besar..

Selain menjaga perdamaian dan keamanan, tujuan penting lainnya termasuk mengembangkan hubungan persahabatan antar-negara berdasarkan penghormatan terhadap prinsip-prinsip persamaan hak dan penentuan nasib sendiri rakyat; mencapai kerja sama di seluruh dunia untuk menyelesaikan masalah ekonomi, sosial, budaya, dan kemanusiaan internasional; menghormati dan mempromosikan hak asasi manusia; dan berfungsi sebagai pusat di mana negara-negara dapat mengoordinasikan tindakan dan kegiatan mereka menuju berbagai tujuan ini.

Dengan kata lain, tragedi kemanusiaan akibat perang telah membuat orang, manusia semakin menyadari betapa pentingnya kerja sama internasional.

Kiranya pandemi Covid-19 pun demikian. Meskipun, sekarang ini setelah pandemi, secara alami negara-negara akan lebih banyak melindungi diri dari risiko globalisasi; dan lebih memperkuat kemampuan nasional untuk mengurangi ketergantungan pada pihak lain.

Maka itu, Francis Fukuyama menyebutnya sebagi meningkatnya nasionalisme bahkan isolasionisme, dan xenophia.

Tetapi, setiap negara tidak juga bisa lantas menutup pintu ke luar secara total, kemudian menjadi inward  looking karena lebih menekankan pada nasionalisme dan membuang jauh-jauh globalisasi.

Kerja sama dengan negara lain, tetaplah sangat diperlukan. Misalnya, bertukar pengalaman tentang cara memutus rantai penyebaran virus, memberikan bantuan dalam memerangi pandemi Covid-19 seperti yang dilakukan China terhadap Italia.

Artinya, perlu dilakukan berbagai pengalaman dan keahlian dalam mengatasi pandemi Covid-19

ilustrasi
ilustrasi (Istimewa)

Pandemi Covid-19 ini telah menuntut negara-negara untuk bekerja sama lebih erat untuk mencari solusi global. Karena pandemi ini adalah problem, masalah global, bukan hanya problem satu negara.

Sumber: WartaKota
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved