Kolom Trias Kuncahyono
Bersama Melukis Wajah Dunia
Ada keyakinan bahwa pandemi Covid-19 akan mengubah wajah dunia. Meskipun tidak ada yang tahu kapan krisis kemanusiaan dahsyat ini akan berakhir.
Tiga ciri utama populisme, yakni anti-kemapanan, cenderung otoriter, dan nasionalisme sempit. Ini berarti bahwa populisme adalah pandangan khusus tentang bagaimana masyarakat itu dan harus disusun, tetapi hanya membahas bagian terbatas dari agenda politik yang lebih besar.
Sebagai contoh, populisme tidak banyak berbicara tentang sistem ekonomi atau politik ideal yang harus dimiliki oleh negara (populis). Ciri-ciri dasarnya adalah: moralitas dan monisme ( Cas Mudde, 2015).
Akibat krisis keuangan global, terjadi pergeseran kekuatan global dari Barat ke Timur (Kishore Mahbubani, 2008).
Ada dua perubahan besar: pertama, berakhirnya era dominasi Barat dalam sejarah dunia. Namun, tidak berarti berakhirnya Barat.
Kedua, Asia kembali ke tengah panggung dunia yang pernah didudukinya selama delapan belas abad sebelum munculnya Barat.
Dari tahun pertama Masehi hingga 1820, China dan India secara konsisten menjadi dua ekonomi terbesar dunia.
Dan, mereka akan kembali lagi menjadi pemain utama dunia serta memunculkan apa yang disebut sebagai “Asian century”, Abad Asia.
Dan, pandemi Covid-19 ini, menurut Stephen W Malt (Foreign Policy, 2020) akan mengakselerasi pergeseran kekuatan dari Barat ke Timur itu.
China adalah negara yang pertama kali menjadi korban pandemi Covid-19 (malahan sebagai asal muasal Covid-19); dan pertama kali pula keluar dari “kekuasaan” Covid-19, meskipun beberapa hari lalu diberitakan muncul serangan baru di Beijing.
Namun, China menjadi negara pertama yang “menghidupkan” kembali kegiatan bisnisnya setelah di-shutdowns untuk memotong perluasan pandemi.
Sebagai gambaran bahwa China akan menjadi yang terdepan terlihat dari proyeksi terakhir Dana Monter Internasional (IMF).
Yakni, perekonomian China tumbuh lebih dari 1 (satu) persen pada tahun 2020 ini; sementara AS kemungkinan akan mengalami kontraksi hampir 6 (enam) persen tahun ini – lebih buruk daripada penurunan pertumbuhan global 3 (tiga) persen (CNBC, Mei 2020).
Kerja Sama Global
Sejarah juga mencatat bahwa ada yang tidak berubah meskipun dunia sudah mengalami peristiwa besar dan tragik. Hal itu adalah sifat politik dunia yang pada dasarnya konflik.
Misalnya, wabah-wabah yang sebelumnya telah menyapu dunia, tidak mengakhiri persaingan kekuatan besar atau mengantar lahirnya era baru kerja sama global.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/melukis01.jpg)