Kesehatan

Awas Silent Killer, Waspadai Hiperkolesterol dan Hipertensi setelah Lebaran

Saat Lebaran, makanan yang disantap biasanya mengandung santan, lemak tinggi, dan garam. Semua ini memicu penyakit hiperkolesterol dan hipertensi.

Wartakotalive.com/Hironimus Rama
Dr Firizkita Dewi SP JP FIFA, Specialist Jantung dan Pembuluh Darah di RS Pusat Pertamina Jakarta saat Live Instagram@rspusatpertamina#TanyaDokter, Jumat (29/5/2020). 

"Kolesterol dan hipertensi itu silent killer. Jika tidak terkendali maka akan memicu stroke dan serangan jantung..."

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Setelah Hari Raya Idul Fitri, seringkali ada sejumlah keluhan kesehatan yang dialami banyak orang, terutama terkait naiknya tekanan darah dan kolesterol.

Tak dapat dipungkiri, asupan makanan yang enak saat Lebaran terkadang meninggalkan sakit pada tubuh.

Hal itu diungkapkan dr Firizkita Dewi SP. JP, FIFA, Specialist Jantung dan Pembuluh Darah di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta.

Ini Lima Manfaat Tempe Selain Murah, Cegah Osteoporosis, Kolesterol Hingga Turunkan Gula Darah

10 JENIS Makanan Penghancur Kolesterol dari Rendang dan Opor, di Antaranya Terong dan Oyong

Berikut Ini 5 Cara Bikin Jus Sehat Usir Kolesterol Jahat Usai Makan Ketupat Lebaran

"Saat Lebaran, makanan yang disantap biasanya mengandung santan, lemak tinggi dan garam. Debut saja, opor dan rendang. Makanan seperti ini berpotensi meningkatkan kolesterol dan hipertensi, " kata dr Firizkita dalam Live Instagram@rspusatpertamina#TanyaDokter pada Jumat (29/5/2020).

Menurut dia, baik hiperkolesterol maupun hipertensi sulit dideteksi karena tidak bergejala.

"Kolesterol dan hipertensi itu silent killer. Jika tidak terkendali maka akan memicu stroke dan serangan jantung. Karena itu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum fatal akibatnya, " jelasnya.

Terlanjur tinggi

Jika kolesterol dan tekanan darah sudah terlanjur tinggi, maka ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, mulai dari mengubah pola hidup sampai mengonsumsi obat.

"Saran yang diberikan dokter biasanya tergantung tingkat resiko. Kalau masih rendah hingga sedang, bisa dengan mengubah pola hidup. Jika sudah berat baru diberikan obat, " papar Firizkita.

Obat-obat yang diberikan pun pastinya yang bisa menekan rasa sakit dan menghindari resiko kematian.

2 Faktor Penyebab dan cara menghindar

Halaman
1234
Penulis: Hironimus Rama
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved