Virus Corona

Waduh, Definisi New Normal Jokowi Berbeda dengan Profesor Hermanto J Siregar

Definisi New Normal Jokowi Berbeda dengan Profesor Hermanto J Siregar. New Normal Adalah titik keseimbangan baru, bukan menurunkan kurva covid-19

Twitter @MataNajwa
Presiden Joko Widodo (Jokowi) di acara Mata Najwa, Rabu (22/4/2020). Saat ini Jokowi memutuskan menaikkan iuran BPJS Kesehatan. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Perbedaan definisi new normal antara pemerintah dengan kalangan akademisi terlihat dari berbedanya pandangan antara Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dengan Profesor Hermanto J Siregar.

Dalam paparannya, Profesor Hermanto J Siregar yang merupakan Profesir Ekonomi IPB menjelaskan new normal merupakan titik keseimbangan baru dalam kurva pandemi covid-19.

Titik keseimbangan yang dipaparkannya muncul ketika kurva pandemi covid-19 mencapai puncaknya dan menurun.

Sehingga membentuk garis sejajar dengan garis normal sebelum covid-19 mewabah di Indonesia.

Namun, berbeda dengan Profesor Hermanto J Siregar, pemerintah justru menyimpulkan new normal merupakan upaya penyelamatan ekonomi sekaligus pencegahan penyebaran virus corona.

Sehingga, sejalan dengan membaiknya roda perekonomian, kurva pandemi covid-19 di Indonesia pun semakin menurun.

Turunkan Kurva

Harapan tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang meminta jajarannya untuk melakukan sosialisasi secara masif mengenai new normal di tengah pandemi Covid-19.

"Saya minta protokol beradaptasi dengan tatanan normal baru yang sudah disiapkan oleh Kemenkes ini disosialisasikan secara masif kepada masyarakat," kata Jokowi dikutip dari Kompas.com pada Rabu (27/5/2020).

Jokowi menyebutkan, sosialisasi yang masif akan membuat masyarakat lebih memahami apa yang harus dilakukan saat beraktivitas di luar rumah.

Halaman
1234
Editor: Dwi Rizki
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved