Marak Pencurian Data, Begini Solusi Tingkatkan Keamanan Sistem

Akibat penyebaran Covid-19 yang terjadi sejak Desember 2019, roda ekonomi maupun kebiasaan orang perlahan berubah.

Pixabay
Ilustrasi keamanan siber 

Kebocoran atau pembobolan akses keamanan dan database konsumen akan membahayakan bisnis serta reputasi perusahaan.

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Akibat penyebaran Covid-19 yang terjadi sejak Desember 2019, roda ekonomi maupun kebiasaan orang perlahan berubah.

Berbagai sektor industri mengalami kemacetan, namun tidak dengan bisnis e-commerce.

Bahkan di Indonesia, aplikasi e-commerce merupakan aplikasi yang paling banyak diunduh oleh masyarakat, yakni sebesar 48,9 %, hal ini merupakan salah satu indikasi kebiasaan masyarakat berubah.

UPDATE Kasus Covid-19 di Indonesia 18 Mei 2020: 18.010 Pasien Positif, 4.324 Sembuh, 1.191 Meningal

Namun seiring dengan gencarnya belanja melalui daring, keamanan data pribadi masyarakat dipertanyakan.

Pada prinsipnya konsumen memiliki berbagai opsi keamanan ketika mengakses akun mereka, dari sidik jari, PIN, hingga OTP.

Namun kasus yang baru terjadi beberapa waktu lalu tetap saja membuat masyarakat was-was.

UPDATE Kasus Covid-19 di DKI 18 Mei 2020: Pasien Positif Tambah 88 Jadi 6.010 Orang, 1.301 Sembuh

Insiden kebocoran data pada beberapa perusahaan e-commerce hanyalah satu contoh, karena sesungguhnya belakangan ini kebocoran data atau security breach makin sering terjadi.

Sejak beberapa tahun terakhir, diperkirakan lebih dari ratusan juta data pribadi di seluruh dunia bocor, tak hanya 15 juta akun pengguna salah satu e-commerce terkenal di Indonesia.

Kejadian demi kejadian itu mengungkapkan data pribadi yang tersimpan di platform digital saat ini sangat rentan.

Oplos Sapi dan Babi, Tersangka Bilang Daging Impor kepada Pembeli, Pakai Formalin dan Pewarna

Halaman
1234
Editor: Yaspen Martinus
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved