Virus Corona
Begini Cara Kerja Sistem Imunitas Kita, Saat Virus Corona Menyerang
Pandemi covid-19 masih berlangsung dan kita harus tetap waspada. Masihkah Anda menjalankan protokol pencegahan penularan virus ini?
Penulis: Budi Sam Law Malau |
• Terungkap, Sebelum Meninggal Henky Solaiman Sudah Pamit, Verdi Solaiman: Kami Ikhlas
"Sedangkan bagi penderita usia lanjut dan yang memiliki gangguan kekebalan tubuh (immunocompromised) terkadang gejala dan tandanya tidak khas," kata Yosef.
Bagi mereka yang memiliki riwayat sakit, misalnya pada penderita Diabetes Melitus, menurut Yosef, imun akan tergantung pada tingkat sakit sehingga pasien harus selalu mengontrol gula darah dan mengikuti petunjuk dokter.
"Perokok, juga menjadi orang yang masuk dalam kategori rentan, imun mereka cenderung rendah karena keracunan radikal bebas terus menerus," katanya.
Jika paparan virus sudah menginfeksi tambah Yosef, maka kekebalan tubuh akan fokus menangani virus dan kehabisan pasukan bila ada serangan ke-2 misalnya pneumonia.
• Habib Bahar Bebas dari Lapas Pondok Rajeg Disambut Ratusan Warga Tumpah Ruah
"Itu sebabnya, kematian akibat corona kebanyakan akibat serangan ke-2 karena tubuh sudah kekurangan pasukan imun yang bisa berperang melawan corona. Bisa kita katakan corona adalah pasukan pendobrak pertahanan untuk membuka kesempatan bagi virus dan kuman lainnya untuk melumpuhkan tubuh kita," paparnya.
Hal ini katanya, yang menyebabkan setelah infeksi pneumonia penderita akan merasa kesulitan bernapas.
Mengingat sifat imun tidak stabil atau bisa naik atau turun menurut Yosef, kita perlu menjaganya dengan menggiatkan gaya hidup bersih dan sehat.
Serta menambah asupan vitamin C, D, dan E dan dibarengi dengan vitamin K2 yang takarannya sesuai kebutuhan tubuh dan anjuran dokter karena asupan vitaminnya untuk menjaga sistem pertahanan tubuh.
• Pemkot Bekasi Larang Halalbihalal dan Minta Warga Rayakan Lebaran di Rumah
“Setiap hari tubuh kita harus melawan miliaran virus dan kuman yang masuk lewat udara, makanan, atau infeksi. Itu sebabnya, para ahli kesehatan dan gizi selalu menyarankan pola hidup bersih dan sehat pada pasiennya," kata Yosef.
Bahkan sebaiknya semua itu dilakukan bukan saat masa pemulihan saja, tetapi saat tubuh sehat dan sejak usia masih produktif.
"Caranya, konsumsi makanan bergizi, berpikir positif, cukup beristirahat, rajin berolahraga, dan berjemur matahari pagi minimal selama 15 menit, tidak merokok dan mengonsumsi alkohol serta biasakan mencuci tangan dengan sabun di air mengalir,” kata dr Yosef.
Di tengah pandemi Covid-19, kata Yosef, istilah karantina dan isolasi diri juga sering kita dengar. Keduanya dapat dilakukan sekitar 14 hari bahkan sebelum timbul gejala.
• Tagar Indonesia Terserah Viral, Dokter: Itu Sikap Ngenes Kami Lihat Warga yang Mulai Abai
Dalam kurun waktu tersebut sistem kekebalan tubuh mampu membentuk vaksin sehingga dapat menekan sebaran virus dalam tubuh penderita dan ke sekitarnya.
Isolasi adalah perawatan medis bagi yang sudah positif terinfeksi virus covid-19 dengan cara dipisahkan dari orang sehat dan yang sakit, tetapi tidak terinfeksi virus ini.
Sedangkan karantina diri berarti tinggal di rumah dan tidak berpergian untuk menurunkan resiko terinfeksi atau menjadi pembawa virus.
Karantina dilakukan jika memiliki riwayat perjalanan terutama ke Provinsi Hubei, China (termasuk Kota Wuhan) atau pernah keluar negeri sejak bulan November 2019 hingga Februari 2020 termasuk jika dilakukan oleh anggota keluarga serumah atau tetangga sebelah rumah.
• Belum Genap Dua puluh Tahun, Dul Jaelani telah Produksi Empat Belas Lagu
"Karantina diri juga harus dilakukan oleh mereka yang berisiko terpapar covid-19, seperti sedang demam, batuk, pilek, dan sakit lainnya, memiliki riwayat demam atau ISPA, ada kecurigaan melakukan kontak atau ada riwayat kontak dengan kasus terkonfirmasi virus ini, bekerja atau mengunjungi fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien yang sudah positif covid-19," ujarnya.
“Sederhananya, imun kita sedang berjuang agar tubuh dapat kembali sehat sehingga jika diharuskan isolasi diri atau karantina maka lakukan dengan serius. Saat kondisi ini, kita harus cukup beristirahat, tidak stres, tetap berolahraga ringan, mendapatkan sinar matahari pagi, dan dibantu dengan asupan makanan bergizi dan vitamin," paparnya.
"Saat Anda harus dikarantina misalnya, jangan keluar rumah karena dapat menyebabkan penularan. Jika selama 14 hari tubuh menunjukkan kemajuan, seperti tidak ada lagi gejala ISPA dan penyakit lain maka karantina atau isolasi diri dapat diakhiri,” sebut dr Yosef.
Jika selama menjalankan isolasi dalam 3 hari berturut-turut, suhu badan tetap tinggi, di atas 38oC, batuk dan sesak nafas maka harus segera mencari pertolongan medis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/dr-yosef-fransiscus.jpg)