Sabtu, 18 April 2026

Virus Corona

Polusi Udara juga jadi Penyebab Penyebaran Covid-19, Pemerintah Diminta Bertindak

Penyakit kronis akibat polusi udara dapat memicu komorbiditas keparahan penderita Covid-19.

Editor: Mohamad Yusuf
Koalisi Ibukota
Koalisi Ibukota 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Studi terbaru dari Universitas Harvard memastikan bahwa orang-orang yang sudah lama terpapar polusi udara menjadi kelompok yang paling rentan terkena Covid-19.

Penelitian tersebut mendapati adanya kaitan antara peningkatan 1 μg/m3 PM2.5 dengan kualitas udara saat ini, dapat berdampak pada 15% tingkat kematian akibat Covid-19.

Guru Besar Universitas Indonesia dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Prof. Dr. Budi Haryanto, menjelaskan bahwa gangguan kesehatan atau penyakit akibat pencemaran udara dapat menyebabkan kondisi akut seperti ISPA, asma, dan juga kronis.

Untuk polusi udara yang menyebabkan kondisi kronis, kata Prof Budi, umumnya berasal dari emisi BBM kendaraan bermotor, industri, dan juga kebakaran hutan.

Kemenhub akan Izinkan Transportasi untuk Mengakomodir Kebutuhan Masyarakat yang Penting dan Mendesak

 Meski Terimbas Pandemi Corona, Para Driver Ojol ini masih Menyisihkan Penghasilannya untuk Berbagi

 Peringatan untuk Perokok! 2 Karyawan Sampoerna Positif Corona, 9 PDP, 100 Orang Diisolasi

 Ini Rahasia Rasulullah SAW Menjaga Jantungnya tetap Sehat

Hal itu dinyatakannya dalam media briefing virtual “Pandemi Korona dan Polusi Udara, Bagaimana Keterkaitannya?” yang digelar oleh Koalisi Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta (Ibukota), Kamis (30/4/2020).

“Jika sudah masuk ke dalam tahap kronis, biasanya seseorang akan mengalami iritasi saluran napas, gangguan fungsi paru, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), penyakit jantung, hipertensi, diabetes, gangguan ginjal, dan lain-lain,” ujar Prof Budi.

Dalam penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, Prof Budi menemukan bahwa 57,8%
dari populasi Jakarta telah menderita berbagai penyakit terkait polusi udara pada tahun 2010.

Paparan Greenpeace Indonesia
Paparan Greenpeace Indonesia (Greenpeace Indonesia)

Merujuk pada situasi saat ini dan juga hasil-hasil penelitian kesehatan terbaru, Prof Budi meyakini,
penyakit kronis akibat polusi udara dapat memicu komorbiditas keparahan penderita Covid-19.

“Tingkat fatalitas kasus (CFR) di Indonesia 8%, sedangkan untuk global adalah 3%,” imbuh Prof Budi.

Menegaskan penelitian Universitas Harvard yang menemukan bahwa risiko kematian akibat
Covid-19 mencapai 4,5 kali lipat pada wilayah dengan polusi PM 2.5 yang tinggi, dibandingkan yang
berpolusi rendah.

 Ini Skenario Kemendagri jika Pandemi Covid-19 masih Berlangsung hingga 2021

 Aa Gym Unggah Video Siapa Bodyguard Petinju Muhammad Ali, Jawabannya Bikin Merinding

 Mengenal Sosok Jerinx SID, Drumer Penuh Kontroversi yang Pernah Ribut dengan Para Publik Figur Ini

Prof Budi pun menyebut, “artinya, Covid-19 sangat mampu memperparah dampak kesehatan akibat perubahan iklim,” tutur dia.

Dengan latar belakang berbagai riset tersebut, Koalisi Ibukotayang merupakan gabungan individu maupun organisasi yang memperjuangkan hak atas udara bersih, meminta kepada pemerintah Indonesia untuk berani segera membuka data sumber emisi.

Hal itu ditujukan untuk dapat mengetahui sumber emisi apa saja yang hingga kini masih
menyebabkan angka pemantauan Indeks Kualitas Udara tetap terbilang buruk.

Polusi udara yang setiap tahun bisa menyebabkan kematian hingga jutaan jiwa di seluruh dunia,
seharusnya sudah sejak lama membuat pemerintah menyusun strategi untuk segera menyelesaikan masalah pencemaran udara.

Pemerintah memang telah mengeluarkan imbauan bekerja dari rumah (WFH) hingga
memberlakukan peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak pekan pertama April 2020.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved