Gunung Anak Krakatauu Erupsi
Gunung Salak Jadi Trending Menyusul Dugaan Asal Dentuman Bukan dari GAK, Tapi dari Gunung Salak
Kini muncul kemungkinan asal dentuman, bukan dari GAK, namun dari Gunung Salak. Sebab pada saat bersamaan terjadi hujan petir di sekitar Salak
Untuk itu, PVMBG mengimbau masyarakat di Pulau Jawa dan Sumatera untuk tidak khawatir terhadap kemungkinan dampak erupsi GAK.
Tentang Gunung Salak
Sekadar catatan, Tahun 1600-an Gunung Salak pernah meletus beberapa kali hinga terakhir tahun 1938.
Menurut Wikipedia, Gunung Salak merupakan gunung api strato tipe A.
Puncak tertinggi (Puncak Salak I) menurut Hartmann (1938) adalah puncak berusia tertua.
Puncak Salak II berketinggian 2.180 m dpl. dianggap yang tertua kedua.

Selanjutnya muncul Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m dpl.
Terdapat sejumlah kawah aktif yang tidak berada di puncak.
Kawah terbesar, Kawah Ratu, merupakan kawah termuda. Kawah Cikuluwung Putri dan Kawah Hirup merupakan bagian dari sistem Kawah Ratu.
Semenjak tahun 1600-an tercatat terjadi beberapa kali letusan, di antaranya rangkaian letusan antara 1668-1699, 1780, 1902-1903, dan 1935.
• Waspada Pandemi Covid-19, Ada 894 Kasus Virus Corona Ditemukan di Tangsel Hingga Sabtu (11/4/2020)
Letusan terakhir terjadi pada tahun 1938, berupa erupsi freatik yang terjadi di Kawah Cikuluwung Putri.
Menurut catatan PVMBG, erupsi terbesar pernah terjadi pada tahun 1699, yang bersifat erupsi magmatis dan bersifat merusak, catatan korban tidak diketahui.
Secara morfologi, Gunung Salak memiliki banyak jurang curam dan dalam. Karena seluruh tubuh gunung sampai puncak tertutup hutan lebat, kontur gunung ini tidak mudah terlihat.
Hal ini sering kali menipu pendaki maupun penerbang yang melewati kawasan pegunungan ini.