Virus Corona
Siasati Social Distancing Akibat Virus Corona, Perusahaan Bisa Terapkan Pemasaran Berbasis Komunitas
Social Distancing tak berarti pola marketing berubah. Perusahaan justru harus menyiasatinya agar bisnis tetap berjalan, misalnya community marketing.
Penulis: Hironimus Rama | Editor: Fred Mahatma TIS
Community marketing tidak selalu terkait dengan pertemuan (gathering) atau penyelenggaraan event, terlebih untuk saat ini ketika social distancing penting untuk dilakukan dalam upaya mencegah adanya penularan COVID-19 di masyarakat.
PAMDEMI Corona Virus Disease (COVID-19) atau virus corona di Indonesia telah berdampak pada berbagai sektor di Indonesia.
Pemerintah dan sektor swasta juga mengambil langkah-langkah strategis untuk mencegah imbas virus tersebut terhadap dunia usaha maupun masyarakat secara menyeluruh.
• Ini Langkah Antisipasi Pelaku Industri MICE untuk Minimalkan Kekuatiran Klien Terhadap Virus Corona
• Pameran Otomotif IIMS 2020 Ditunda Akibat Virus Corona, 100 Persen Uang Peserta Pameran Dikembalikan
• Belasan Event Ditunda dan Dibatalkan Terkait Virus Corona, Kerugian JIExpo Kemayoran Capai 25 Persen
Gangguan wabah Covid-19 terhadap proses pemasaran cukup signifikan karena telah terjadi pembatasan pergerakan masyarakat serta banyaknya karyawan yang diminta bekerja dari rumah.
Namun ini tidak berarti pola marketing berubah.
Saat ini dibutuhkan strategi yang tepat dan sesuai khususnya dalam pengelolaan dengan menggunakan medium komunikasi community marketing selama masa pandemi COVID-19.
Community Marketing
Pakar marketing dan CEO DT Group Mia Lukmanto menjelaskan bahwa community marketing selalu memiliki kaitan dengan upaya mendengarkan, memberikan, dan tumbuh bersama, lebih lagi peranannya menjadi semakin penting di saat krisis melanda.
Bagi perusahaan atau brand yang telah membina hubungan baik dengan komunitas mereka, tentunya batasan pergerakan individual bukan merupakan tantangan yang tidak bisa diatasi.
“Pemasaran berbasis komunitas memanfaatkan nilai-nilai sosial yang ada dalam setiap individu dan menggunakannya untuk menciptakan peluang bisnis yang lebih baik," tutur Mia dalam siaran resminya, Rabu (18/3/2020).
"Selain itu, strategi ini memiliki fokus pada pencarian peluang baru berdasarkan pada kebutuhan yang berbeda dari masing-masing anggota masyarakat yang tergabung dalam komunitas, sehingga walau kesannya tidak sepenuhnya personalized, namun tetap sangat relevan bagi mereka,” imbuhnya.
Media komunikasi digital
Secara rinci terkait komunikasi, Mia menjelaskan bahwa dalam masa pandemi COVID-19 pola komunikasi juga harus dibagi menjadi dua.
“Pola komunikasi ini terdiri dari tahapan saat krisis dan pascakrisis dengan didukung oleh pesan dan media komunikasi yang berbeda untuk tiap tahapannya” ungkap Mia.
Menurutnya, saat ini media komunikasi digital merupakan pilihan yang efektif dan efisien untuk berkomunikasi dengan komunitas.
Oleh karena itu, perubahan pola dan penggunaan media komunikasi yang digunakan oleh komunitas perlu dipahami dengan baik sebelum langkah-langkah penyampaian pesan dilakukan.
“Dengarkan dan pahami bantuan yang dapat diberikan kepada komunitas, berikan juga dukungan melalui berbagai inisiatif CSR yang selanjutnya diikuti dengan pola komunikasi yang komprehensif," papar Mia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/chief-strategy-officer-dt-group-richard-robot.jpg)