Kamis, 30 April 2026

Travel

Menikmati Keheningan Ala Soe Hok Gie di Lembah Mandalawangi

Lembah Mandalawangi, merupakan alun-alun Gunung Pangrango. Aktivis Soe Hoek Gie kerap menghabiskan waktu di sana ketika sedang jenuh.

Tayang:
Penulis: Feryanto Hadi | Editor: Feryanto Hadi
Warta Kota
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango 

Di tempat ini tanahnya cukup lapang. Terdapat satu shelter yang sudah dibangun serta sumber mata air.

Tidak jauh dari Kandang Badak, terdapat persimpangan.  Lurus terus menuju kawah dan puncak Gede berketinggian 2.958 Mdpl. Berbelok ke kanan, arah menuju puncak Pangrango 3.019 Mdpl.  Jaraknya sekitar 3 km atau 4 jam perjalanan. Jalur ke puncak Pangrango lebih terjal. Melewati jalan tanah yang curam.

"Puncak Pangrango ditumbuhi pepohonan, sehingga sulit mencari view. Tapi, sekitar 5 menit dari puncak itu, terdapat hamparan bunga Edelweis Jawa. Tempat itu dinamakan Alun-alun Mandalawangi, tempat dimana abu Soe Hoek Gie ditaburkan," kata Iwan (29), seorang pendaki saat berbincang dengan Warta Kota saat mendaki gunung itu, belum lama ini.

Menurutnya, banyak pendaki tertarik dengan Pangrango karena keheningannya. "Seperti apa yang dikatakan Gie," ujarnya.

Lembah Mandalawangi, merupakan alun-alun Gunung Pangrango. Tempat itu, legendaris. Aktivis Soe Hoek Gie kerap menghabiskan waktu di sana ketika sedang jenuh.

Kami memutuskan menuju ke Lembah Mandalawangi. Butuh waktu dua jam untuk menggapai puncak Pangrango dari pos pendakian Kandang Badak. 

Gerimis masih turun dari langit ketika kami sampai di sana sore itu. Pekatnya awan, membuat suasana lembah menjadi begitu mencekam. Tubuh kami menggigil saat kabut mulai menutup. Hamparan edelweis pun memutih sedikit mengabur. 

Saya diam. Saya menghikmati Soe Hoek Gie. Di manakah dulu dia duduk lalu membuat puisi-puisi indahnya? pandangan saya menyebar, menerka-nerka atau sesekali membayangkan sosok Gie sedang duduk di dekat saya sambil matanya menatap nanar, menghayati suasana sepi.

Sosok Gie

Gie , lahir di Jakarta pada 17 Desember 1942 dan meninggal di Gunung Semeru pada 16 Desember 1969. Ia adalah salah seorang aktivis Indonesia, penyair muda .

Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius dan selanjutnya menjadi mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.

Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin. Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari Provinsi Hainan, Cina.

 Nama Gie begitu tenar di kalangan aktivis, bahkan di masyarakat luas. Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya, idealismenya . Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved