Kamis, 30 April 2026

Travel

Menikmati Keheningan Ala Soe Hok Gie di Lembah Mandalawangi

Lembah Mandalawangi, merupakan alun-alun Gunung Pangrango. Aktivis Soe Hoek Gie kerap menghabiskan waktu di sana ketika sedang jenuh.

Tayang:
Penulis: Feryanto Hadi | Editor: Feryanto Hadi
Warta Kota
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango 

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)

Perjalanan Gie berakhir ketika pada 15 Desember 1969, ia bersama kawan-kawannya Herman Lantang, Abdul Rahman, Idhan Lubis, Aristides Katoppo, Rudy Badil, Freddy Lasut, Anton Wiyana berangkat menuju Puncak Semeru melalui kawasan Tengger.

Gie ingin bisa merayakan ulang tahunnya yang ke-27 di atap tertinggi Pulau Jawa tersebut, ingin menciptakan cerita yang mengesankan untuk masa depan hidupnya. Tanggal 16 Desember, di tengah angin kencang di ketinggian 3.676 meter (dari atas permukaan laut), Gie, Idhan, Rahman terserang gas beracun. Gie dan Idhan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan nyawa mereka tidak tertolong.

Puncak Gunung Gede dan Surya Kencana

Usai ke Pangrango dan ke Mandalawangi, perjalanan kami lanjutkan ke Gunung Gede.

Dari persimpangan tadi, menuju ke puncak Gunung Gede, dibutuhkan waktu sekitar 3-4 jam. Trek yang dilalui menuju puncak cukup menantang.

Pendaki akan melewati jalur yang dinamakan Tanjakan Setan, dimana pendaki harus menggunakan tambang untuk bisa naik ke atas. Tetapi ada juga jalur alternatif jika merasa 'ngeri' dengan Tanjakan Setan.

Setelah jalur itu, pendaki akan bertemu dengan trek ekstrim. Jalur menanjak dengan kemiringan 70 derajat harus dilalui pendaki selama dua jam perjalanan. Beberapa pendaki menyebut, jalur ini lah yang kerap membuat pendaki frustasi.

Pepohonan semakin rendah, itu berarti semakin dekat dengan puncak. Berakhirnya dari trek ekstrim itu ditandai dengan pemandangan kawah di perut Gunung Gede. Bau belerang kadang menyengat setiap angin berhembus. Dari tempat itu, hanya butuh setengah jam untuk sampai puncak Gunung Gede.

Di puncak (2958 mdpl), pemandangan sungguh luar biasa. Keletihan menanjak, terbayar. Di puncak bisa disaksikan dengan jelas kawah semi aktif dengan dinding-dindingnya yang kokoh. Gunung Pangrango dan Gunung Gumuruh juga berdiri kokoh sejajar dengan puncak.

Beberapa gunung lain di Jawa Barat juga tampak dari sana, termasuk pemandangan kota hingga selat Sunda yang tampak menyatu dengan langit. Yang istimewa, ketika menyaksikan matahari terbit dan tenggelam di puncak ini. Atau ketika melihat awan bergulung-gulung di bawah keberadaan kita.

Turun sekitar setengah jam ke arah tenggara dari puncak Gunung Gede, terdapat area luas yang dipenuhi Edelwis. Tempat yang dinamakan Alun-alun Surya Kencana itu juga menjadi favorit pendaki untuk berkemah.

Dari Alun-alun Surya kencana, perjalanan turun bisa dilakukan menuju ke arah kiri ke Pos Gunung Putri di Cianjur atau ke arah kanan menuju Pos Selabintana di Sukabumi.

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved