Anies Baswedan Dibully
Anies Baswedan di Pusaran Bully, Antara Kontrasting Politik dan Teori Kepala Batu
Di akun instagram gubernur, dipenuhi kata makian. Malah ada yang mengumpat dengan kata tak sopan. Umpatan salah satu nama binatang
Penulis: Feryanto Hadi | Editor: Feryanto Hadi
Kontrasting dalam ajang Pilkada DKI dan Pilpres 2019 masih terbawa hingga kini. Yang tadinya hanya perbedaan soal pandangan politik, kini sudah masuk kepada ranah norma.
Masyarakat tak lagi melihat masalah secara obyektif. Penilaian sesuatu lebih berlandaskan suka atau tidak suka. Dari selera politik. Kadangkala benar-benar dari realitas yang dihadapi.
Pertengkaran terus terjadi, paling santer di sosial media. Demokrasi yang harusnya menjadi semangat kebersamaan, nilainya kian terkikis.
• Hasil Survey, Anies Baswedan Gubernur Paling Potensial Maju Pilpres 2024, Berani Tantang Prabowo?
• Banjir Kalahkan Anies Baswedan, Elektabilitas Melorot, Tak Cukup Jadi Capres Jika Pilpres Hari Ini
Utamanya soal bagaimana memahami moralitas politik. Atau setidaknya kesantunan sebagai orang timur.
Politik Jakarta berarti politik nasional. Segala yang terjadi di Jakarta, mendapat sorotan. Gorengan isu SARA pada Pilkada yang dimenangkan Anies-Sandi masih juga terlekat di hati dan kepala sebagian orang.
Angggota DPRD DKI dari Gerindra, Syarif mengatakan, pelaku penggoreng isu SARA itu seperti hantu. Mengadu domba.
Protes kepada Ahok soal Al-Maidah yang harusnya jadi persoalan hukum biasa, digoreng, digiring dan dibelokkan jadi isu persatuan nasional dan rasial. Ini yang kemudian menyebabkan orang-orang luar Jakarta jadi "ikut campur".
Pihak pro dan kontra luar Jakarta seperti bersatu dengan kekuatan yang sudah ada. Kekuatan netizen yang dahsyat dan kadang bermulut pedas.
Masyarakat dibenturkan. Kata Syarif, saat itu spanduk-spanduk berisi ujaran kebencian SARA dipasang orang-orang misterius. Seolah-olah menyerang Ahok.
"Pemasangnya saja tidak jelas. Tujuannya, biar kontrasting makin jauh. Biar orang-orang antipati terhadap Anies-Sandi kala itu. Yang pasti bukan dari kami atau pendukung Anies-Sandi," ujar Syarif belum lama ini.
• Mengaku Kerap Dituding Gunakan Isu SARA, Prabowo Subianto Merasa Lebih Pancasilais dari yang Lain
• Prof Mahfud MD Jelaskan Makna Sumpah Pemuda Isu SARA dan Masyarakat Adil Makmur
Menurut Syarif, Anies yang disasar jadi kambing hitam. Orang-orang yang terpancing isu rasial, membenci Anies.
Justru mereka sendiri yang kemudian terjebak menjadi "pelaku SARA". Menyinggung Anies keturunan arab, memanggilnya Wan Abud. Belakangan, menyebut Anies dan pendukungnya sebagai Kadrun atau kadal gurun.
Gubernur Anies Rasyid Baswedan dibully dalam berbagai kesempatan. Termasuk saat Jakarta dihantam banjir akhir-akhir ini. Ada yang membully lalu memberi solusi. Tapi ada yang benar-benar bullyan. Nadanya penuh kebencian.
Di akun instagram gubernur, dipenuhi kata makian. Malah ada yang mengumpat dengan kata tak sopan. Umpatan salah satu nama binatang.
Warga Jakarta yang kebanjiran mengeluh. Wajar. Tapi hatter lainnya seperti ingin memanfaatkan momen dengan menghujat habis-habisan sosok gubernur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/anies-baswedan-kerja-bakti-di-kelurahan-makasar.jpg)