Virus Corona

Indonesia Negatif Virus Corona Atau Tak Mampu Deteksi Penyakit Itu? Begini Penjelasan Ahlinya

Indonesia Negatif Virus Corona Atau Tak Mampu Deteksi Penyakit Itu? Begini Penjelasan Ahlinya

Dok. AP II
Simulasi penanganan, dan karantina penumpang pesawat terjangkit virus Corona dijalankan oleh PT Angkasa Pura II dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kementerian Kesehatan. Indonesia masih diragukan bisa deteksi cepat virus corona, faktanya negeri ini negatif Virus Corona 

Kasus baru ini hampir 10 kali lipat dari jumlah yang dilaporkan sehari sebelumnya, 1.638 kasus.

Sementara, laporan angka kematian pada Rabu (12/2/2020), mencapai 242 orang.

Sehari sebelumnya, angka kematian tercatat 94 orang. Mengapa tiba-tiba ada lonjakan angka kasus baru yang sangat tinggi?

Lonjakan angka ini disebut terjadi setelah adanya perubahan dalam kriteria diagnostik.

Awas, Sisa Kanopi Beton yang Roboh Masih Tergantung di Gedung PPKD Jakarta Utara

Bagaimana penjelasannya? Perubahan cara diagnostik Mengutip South China Morning Post, Komisi Kesehatan Hubei menyebutkan, mereka mengubah kriteria diagnostik yang digunakan untuk mengkonfirmasi kasus.

Perubahan tersebut berlaku efektif per Kamis. “Mulai hari ini dan seterusnya, kami akan memasukkan jumlah kasus yang didiagnosis secara klinis ke dalam jumlah kasus yang dikonfirmasi sehingga pasien dapat menerima perawatan tepat waktu,” kata otoritas kesehatan setempat.

 Sebelumnya, pasien hanya dapat didiagnosis dengan alat tes. SCMP menuliskan, saat ini alat tes itu langka di China.

Ahli dalam Kelompok Bimbingan Sentral dan Wakil Presiden Rumah Sakit Beijing Chaoyang, Tong Zhaohui, mengatakan, langkah tersebut dilakukan berdasarkan pedoman diagnostik terbaru yang dikeluarkan Komisi Kesehatan Nasional.

Komisi Kesehatan Nasional memasukkan diagnosis klinis, penggunaan CT scan, maupun tes lain sebagai kriteria.

Tarif Air Bersih di Kepulauan Seribu Hampir 10 Kali Lipat Daratan Jakarta, Warga Tuntut Kaji Ulang

“Ketika dokter mendiagnosis pneumonia, mereka hanya bisa mendapatkan etimologi penyakit 20 hingga 30 persen dari waktu. Kita harus mengandalkan diagnosis klinis 70 hingga 80 persen dari waktu. Meningkatkan diagnosa kasus klinis akan membantu kita membuat penilaian tambahan terhadap penyakit ini," kata Tong kepada penyiar CCTV, TV lokal China.

Seorang ahli medis di Universitas Hong Kong, Dr Ho Pak-leung, mendukung perubahan kriteria diagnostik di Hubei.

Menurut dia, dengan metode diagnosa sebelumnya, beberapa pasien mungkin meninggal sebelum dokter dapat melakukan tes apa pun terhadapnya.

Sementara itu, mengutip dari NY Times, pejabat Provinsi Hubei memasukkan kasus infeksi yang didiagnosis menggunakan pemindaian paru sebagai pasien bergejala.

Cara ini dinilai akan memudahkan otoritas terkait untuk memutuskan bagaimana mengalokasikan sumber daya dan menentukan tindakan perawatan.

 Dampak negatif perubahan cara diagnosis Meski perubahan cara diagnosis tersebut dianggap postif oleh sejumlah pihak, akan tetapi perubahan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran beberapa ahli.

Antisipasi Virus Corona, Ribuan Awak Kapal Tiongkok Diperiksa KKP Tanjung Priok dalam Radius 4 Mil

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved