Rabu, 29 April 2026

Banjir Jakarta

Banjir Besar Awal Tahun Ini Ternyata Pernah Melanda Monas pada 1897 Silam

TINGGINYA curah hujan yang terjadi sejak malam pergantian tahun di Jabodetabek, mengakibatkan banjir di wilayah Jakarta dan kota penyangga.

TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Petugas mengevakuasi warga dari rumahnya di kompleks IKPN, Veteran, Jakarta Selatan, Rabu (1/1/2020). Banjir merendam beberapa wilayah di Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya, akibat hujan deras sejak malam pergantian tahun. 

TINGGINYA curah hujan yang terjadi sejak malam pergantian tahun di Jabodetabek, mengakibatkan banjir di wilayah Jakarta dan kota penyangga di sekitarnya.

Melihat bencana yang terjadi saat ini, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan, fenomena seperti ini pernah terjadi puluhan tahun hingga ratusan tahun lalu.

"Ini adalah peristiwa alam yang merupakan siklus dari sekian puluh tahun, atau sekian ratus tahun," ujarnya di Gedung BPPT 2, Jakarta Pusat, Jumat (3/1/2020).

Keteteran Cek Posko Pengungsi, Anies Baswedan Curhat Butuh Sosok Wakil Gubernur

Bahkan, di Jakarta yang merupakan ibu kota, banjir seperti ini pernah melanda kawasan Monas pada masa lampau, tepatnya tahun 1897 silam.

"Jika kita lihat pada masa lalu ternyata di Monas pernah banjir," ungkap Doni.

Untuk menanggulangi bencana seperti banjir, perlu pemahaman dari banyak pihak, baik stakeholder maupun masyarakat.

Wakil Wali Kota Depok Dukung Pernyataan Gubernur DKI yang Salahkan Air Kiriman Penyebab Banjir

Bahwa, Jabodetabek membutuhkan banyak daerah resapan yang kini mulai tergerus oleh bangunan modern dan permukiman.

Doni pun menegaskan imbauannya, agar jangan pernah menantang alam.

Karena jika alam sudah rusak, maka manusia yang akan mengalami dampak buruknya.

Salahkan Air Kiriman dari Selatan, Sekjen PDIP Nilai Anies Baswedan Cenderung Cuci Tangan

"Jika kita menghadapi upaya untuk menantang (alam), tentunya tidak (boleh) seperti itu."

"Tidak ada satu pun manusia yang dapat menaklukkan alam," tegas Doni.

Terkait tingginya intensitas hujan yang terjadi saat ini hingga mengakibatkan banjir di Jabodetabek, pemerintah pun mulai ambil tindakan.

Ketua Fraksi PDIP: Terbelenggu Janji Kampanye, Anies Baswedan Dua Tahun Enggak Ngapa-ngapain

Saat ini pemerintah melalui BNPB, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta TNI Angkatan Udara (AU), tengah melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) alias hujan buatan.

Operasi tersebut dilaksanakan oleh Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) di bawah kendali BPPT.

Sebanyak 22 ton garam atau Natrium Klorida (NaCl) digunakan sebagai bahan semai pada potensi awan hujan yang ada, agar hujan jatuh di wilayah lain sebelum sampai ke wilayah Jabodetabek.

Begini Cara Pemerintah Cegah Istana Presiden Kebanjiran

Hal ini seperti yang disampaikan Kepala BPPT Hammam Riza pada kesempatan yang sama.

"Kami sudah siapkan 22 ton bahan semai dan segera ditambah lagi stoknya," ujar Hammam.

Dalam upaya untuk melakukan penyemaian garam pada potensi awan hujan, ada empat sorti penerbangan yang dilakukan setiap harinya.

Anies Baswedan: Tidak Ada Sampah di Bandara, Menteri PUPR: Maksud Presiden di Sungai Dekat Situ

Langkah ini dilakukan agar penyemaian awan bisa dilakukan secara optimal.

Sehingga, air hujan nantinya jatuh sebelum mencapai wilayah Jakarta dan kota penyangga di sekitarnya.

Sementara, TNI AU telah menyediakan armadanya untuk kembali dipinjamkan pada operasi TMC.

UPDATE Korban Meninggal Akibat Banjir di Jabodetabek Bertambah Jadi 53 Orang, 1 Korban Hilang

Sebelumnya, TNI AU juga berkontribusi pada operasi TMC terkait penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang melanda sejumlah daerah di Indonesia beberapa waktu lalu.

Untuk kali ini, TNI AU mengerahkan dua jenis pesawatnya, yakni CN295 dan Casa.

Sedangkan satu unit Hercules disiagakan sebagai armada opsional.

Ketua DPRD DKI Bilang Normalisasi Sungai Lambat karena Anies Ogah Gusur Warga Sesuai Janji Kampanye

Operasi hujan buatan dilakukan mulai 3 Januari 2020, dan diawali dengan kegiatan monitoring pertumbuhan dan pergerakan awan.

Rencananya, hujan buatan ini akan diturunkan di kawasan Selat Sunda atau Lampung, hal ini tergantung dari arah angin.

Terkait tim yang dikerahkan untuk melakukan penyemaian garam pada potensi awan, BPPT menyiapkan 15 personelnya.

Menteri PUPR: Sungai Harus Dilebarkan, Kalau Naturalisasi Cuma Ditutup Rumput

Dalam operasi hujan buatan ini, kata Hammam, peran BMKG sangat penting dalam memberikan informasi akurat terkait cuaca hingga pergerakan angin.

"Kita perlu data-data cuaca yang akurat dari BMKG, terkait awan hujan, pergerakan angin dan lain-lain," jelas Hammam.

Melalui informasi itulah, tim BBTMC BPPT nantinya bisa menentukan langkah yang tepat dalam melaksanakan operasinya.

Nyinyir di Medsos Takkan Ubah Kondisi Jakarta, Dokter Muda Ini Pilih Aksi Nyata untuk Korban Banjir

"Sehingga ahli TMC bisa simulasi dan antisipasi," kata Hammam.

Kepala BBTMC Tri Handoko Seto menjelaskan operasi ini memang ditargetkan untuk menjatuhkan air hujan di wilayah lainnya, sebelum mencapai ibu kota dan kota di sekitarnya.

"Semua awan yang bergerak ke Jabodetabek dan diperkirakan akan hujan di Jabodetabek, akan disemai dengan pesawat menggunakan bahan semai NaCl."

Sayangkan Sikap Lembek Prabowo Soal Konflik Natuna, PKS: Bangsa Ini Bisa Semakin Direndahkan

"Diharapkan awan (hujan) akan jatuh sebelum memasuki Jabodetabek," terang Seto.

Ia menyebut operasi ini mampu mengurangi sekitar 30 hingga 50 persen potensi hujan yang akan turun di wilayah Jabodetabek. (Fitri Wulandari)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved