Rabu, 15 April 2026

Menurut Analis Perusahaan Properti saatnya IPO, Ini Penjelasannya

Tren industri co-living memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan, khususnya residensial dengan harga di bawah Rp 800 juta.

thinkstockphotos
Ilustrasi. 

WARTA KOTA, PALMERAH--- Tren industri co-living memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan.

Khususnya residensial dengan harga di bawah Rp 800 juta dan memiliki pendapatan berulang atau tetap seperti passive income setiap bulannya.

Edwin Sebayang, Analis MNC Sekuritas, mengatakan, tren tersebut bagus karena backlog atau defisit ketersediaan akan tempat tinggal/rumah mencapai 300-400 ribu unit per tahun.

Sehingga, menurutnya kebutuhan masyarakat akan hunian seperti hotel maupun properti berkonsep co-living masih sangat besar.

Apakah Investor Kawakan Warren Buffett Seorang Psikopat?

“Perusahaan properti yang memiliki prospek bagus antara lain properti di sektor industri berkaitan dengan emiten properti yang mendapatkan pendapatan berulang seperti hotel, mal dan konsep co-living karena lebih stabil dibanding yang hanya khusus jual putus,” katanya, Rabu (20/11/2019).

Edwin mengatakan, apabila dilihat secara rata-rata year to date kinerja emiten properti terbilang masih lumayan bagus.

Namun, hal itu juga harus didasari oleh kinerja fundamental perusahaan tersebut.

Apabila ada perusahaan properti berencana melakukan IPO, saat ini dinilai sebagai waktu yang tepat.

Selain tren suku bunga pinjaman terus menurun, loan to value (LTV) diperlonggar dan asing makin mudah memiliki aset properti di Indonesia.

“Sektor properti ke depannya diperkirakan akan bergairah. Kalau mau IPO saat ini, sangat tepat karena kondisi ekonomi sedang stabil,” katanya.

Salah satu aspek keberhasilan dari perusahaan properti yang ingin IPO, lanjutnya, ditentukan bagaimana cara emiten tersebut mendapatkan pendapatan atau revenue saat kondisi properti sekarang sedang lesu.

Tarif Penyeberangan Merak-Bakauheni Bakal Naik Bertahap

Selain itu juga, investor melihat valuasi, besaran size IPO, portofolio proyek properti yang berada di pusat keramaian hingga harga yang dimainkan oleh pelaku industri dalam memasarkan produknya.

“Untuk hunian co-living kalau berada di daerah industri, wilayah perdagangan, dekat sekolah atau universitas itu sangat bagus," katanya.

Jadi memang beberapa emiten fokus bangun properti di industri, perdagangan dan bisnis.

"Untuk sekolah apalagi kalau dekat dengan sarana transportasi kereta api atau Transit Oriented Development (TOD) karena strategis untuk mobilitas,” katanya.

Salah satu konsep hunian dengan fasilitas komprehensif, harga terjangkau, dan lokasi strategis, seperti co-living yang banyak diminati masyarakat urban mulai banyak pengembang atau pengelola yang melirik.

Salah satunya, pemain bisnis co-living yang sudah lama berkecimpung yakni PT Hoppor International atau lebih dikenal Kamar Keluarga.

CEO Kamar Keluarga, Charles Kwok, mengatakan, ada lima pilar bisnis yang dikembangkan oleh Kamar Keluarga (KK).

Kemenristek Merilis Universitas Terbaik Bidang Penelitian

Pertama, pilar KK BOT (build operate transfer), dimana pihaknya membantu pemilik tanah membangun properti dan nantinya menggunakan sistem bagi hasil.

Pilar kedua yaitu KK Aset yang dapat membantu para mitra untuk mencari, membangun dan mengelola properti hingga menghasilkan Return of Investment (RoI) memuaskan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sektor properti di Indonesia.

Lalu yang ketiga, KK Operator dengan mengelola secara penuh seluruh lahan yang dijadikan kos maupun bisnis lainnya.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved