Minggu, 7 Juni 2026

Perbankan Mengoptimalkan Pendapatan Berbasis Biaya dan Komisi

Bank terus berupaya mengoptimalkan pendapatan berbasis biaya dan komisi atau fee based income (FBI).

Tayang:
thinkstockphotos
Ilustrasi. 

WARTA KOTA, PALMERAH--- Bank terus berupaya mengoptimalkan pendapatan berbasis biaya dan komisi atau fee based income (FBI).

Hal itu dilakukan di tengah tren penurunan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) seiring pemangkasan suku bunga acuan.

FBI ini diharapkan masih bisa menopang pertumbuhan perolehan laba hingga ujung tahun.

Upaya-upaya yang sudah terbukti berhasil mendorong pertumbuhan pendapatan non bunga sejumlah bank hingga kuartal III 2019.

Tren Suku Bunga Terus Turun, Reksadana Terproteksi Menjadi Pilihan: Berikut Alasannya

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), misalnya, mampu mencatat FBI sebesar Rp 8,13 triliun sepanjang Januari-September tahun ini.

Capaian ini meningkat 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2018 (year on year/yoy).

Sementara pada kuartal III 2018, FBI bank ini hanya tumbuh sebesar enam persen secara yoy.

Performa pendapatan fee dan komisi yang cukup bagus ini turut membantu perolehan laba bersih BNI tetap tumbuh 4,7 persen di tengah perlambatan pertumbuhan net interest income (NII).

Pendapatan bunga bersih hanya tumbuh 3,3 persen, lebih rendah dari 10,6 persen pada triwulan III tahun lalu.

Pertumbuhan FBI BNI ini didorong dari pendapatan recurring fee.

Ekonomi Dunia Melemah, Ini Penjelasan BEI dan OJK soal Proyeksi Pertumbunan Pasar Modal Tahun Depan

Adapun sumber pendapatan fee dan komisi perseroan berasal dari pemeliharaan account sebesar Rp 1,41 triliun (naik 16 persen), bisnis kartu Rp 1,18 triliun (naik 12,6 persen).

Kemudian ATM sebesar Rp 926 miliar (naik 16,5 persen), pemeliharaan kartu debit Rp 326 miliar (naik 57,5 persen).

Dari remitansi sebanyak Rp 172 miliar (naik 7,6 persen), trade finance Rp 909 miliar (meningkat 9,4 persen), marketable securities Rp 680 miliar (naik 58,1 persen), sindikasi Rp 325 miliar (naik 81,6 persen), pendanaan pensiun Rp 125 miliar (naik sembilan persen).

Direktur Manajemen Risiko BNI, Rico Rizal Budidarmo, mengatakan, FBI sangat penting untuk dijaga dalam jangka panjang.

Ini akan menjadi strategi bank menjaga laba di tengah NIM yang semakin menantang dan likuiditas yang kian ketat.

Tahun ini, BNI menargetkan FBI bisa meningkat sekitar 10 persen-13 persen.

Negara Tetangga Cemburu dengan Pasar Modal Indonesia, Berikut Penjelasan OJK

Untuk mendorong pertumbuhan itu, perseroan akan mengoptimalkan trade finance, memperbanyak portofolio dari BUMN dan infrastruktur, dan menggarap bisnis konsumer lewat produk-produk berbasis teknologi.

"Upaya-upaya ini diharapkan mendorong FBI," kata Rico baru-baru ini.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) pun mencatatkan pertumbuhan fee based income cukup bagus.

Pada kuartal III 2019, bank ini membukukan pendapatan fee dan komisi sebesar Rp 9,74 triliun atau tumbuh 13,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Hingga akhir tahun, BRI mematok target FBI tumbuh sekitar 12 persen-14 persen.

Direktur Keuangan BRI, Haru Koesmahargyo, mengatakan, pertumbuhan itu akan digenjot lewat transaksi berbasis fee seperti trade finance dari segmen korporasi.

"Lalu dari e-channel yang tidak hanya bersumber dari fee ATM, mobile/internet banking melainkan juga dari 390.000 agen Brilink yang dimiliki BRI," katanya.

Satu di Antara Rest Area Baru di Tol Pemalang-Batang Bakal Dijadikan Tempat Transit Bus

FBI bank berkode emiten BBRI ini terutama ditopang dari fee yang berkaitan dengan trade finance dan bisnis internasional yang tercatat tumbuh paling tinggi yakni 24,7 persen yoy menjadi 1,25 triliun serta fee yang berkaitan dengan e-channel yang tumbuh 24,5 persen yoy menjadi Rp 2,97 triliun.

Fee dari non e-channel tumbuh 19,5 persen jadi Rp 638 miliar, fee kartu kredit tumbuh 11,6 persen menjadi Rp 202 miliar, administrasi deposito tumbuh 2,7 persen menjadi Rp 2,99 triliun, dan dari lain-lain tumbuh 4,7 persen.

Transaksi e-channel banking BRI memang terus meningkat terutama lewat internet banking dan mobile banking tumbuh sangat signifikan.

Masing-masing meningkat 124,6 persen menjadi 865,2 juta transaksi dan 25,7 persen menjadi 285 juta transaksi per September 2019.

Sedangkan transaksi ATM hanya naik 4,4 persen jadi 1,71 miliar.

Berlaku 2 November 2019, Ini Tarif Anyar Tol Tangerang-Merak

PT Bank Pembangunan Jawa Timur Tbk juga menorehkan pertumbuhan FBI sebesar 15,8 persen yoy menjadi Rp 425 miliar.

Pertumbuhannya tersebut jauh lebih tinggi dari kuartal III 2018 yang hanya tercatat naik 9,26 persen yoy.

Direktur Keuangan Bank Jatim, Ferdian Timur, mengatakan, pertumbuhan FBI tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK).

"FBI kami didominasi oleh biaya administrasi DPK dan kredit," katanya.

Hingga akhir tahun, Bank Jatim menargetkan pendapatan non bunga tumbuh sekitar 12 persen.

Untuk mencapai itu, bank daerah ini akan terus berupaya menggenjot kredit serta penghimpunan DPK terutama giro dan tabungan.

Perseroan juga akan meningkatkan transaksi e-channel dan menjalin kerjasama dengan fintech.

Perusahaan E-Commerce Akan Mulai Mendapatkan Laba

Berita ini sudah diunggah di Kontan dengan judul Fee Based Income (FBI) bank melaju kencang

Sumber: Kontan
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved