Perbankan Mengoptimalkan Pendapatan Berbasis Biaya dan Komisi
Bank terus berupaya mengoptimalkan pendapatan berbasis biaya dan komisi atau fee based income (FBI).
Tahun ini, BNI menargetkan FBI bisa meningkat sekitar 10 persen-13 persen.
• Negara Tetangga Cemburu dengan Pasar Modal Indonesia, Berikut Penjelasan OJK
Untuk mendorong pertumbuhan itu, perseroan akan mengoptimalkan trade finance, memperbanyak portofolio dari BUMN dan infrastruktur, dan menggarap bisnis konsumer lewat produk-produk berbasis teknologi.
"Upaya-upaya ini diharapkan mendorong FBI," kata Rico baru-baru ini.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) pun mencatatkan pertumbuhan fee based income cukup bagus.
Pada kuartal III 2019, bank ini membukukan pendapatan fee dan komisi sebesar Rp 9,74 triliun atau tumbuh 13,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Hingga akhir tahun, BRI mematok target FBI tumbuh sekitar 12 persen-14 persen.
Direktur Keuangan BRI, Haru Koesmahargyo, mengatakan, pertumbuhan itu akan digenjot lewat transaksi berbasis fee seperti trade finance dari segmen korporasi.
"Lalu dari e-channel yang tidak hanya bersumber dari fee ATM, mobile/internet banking melainkan juga dari 390.000 agen Brilink yang dimiliki BRI," katanya.
• Satu di Antara Rest Area Baru di Tol Pemalang-Batang Bakal Dijadikan Tempat Transit Bus
FBI bank berkode emiten BBRI ini terutama ditopang dari fee yang berkaitan dengan trade finance dan bisnis internasional yang tercatat tumbuh paling tinggi yakni 24,7 persen yoy menjadi 1,25 triliun serta fee yang berkaitan dengan e-channel yang tumbuh 24,5 persen yoy menjadi Rp 2,97 triliun.
Fee dari non e-channel tumbuh 19,5 persen jadi Rp 638 miliar, fee kartu kredit tumbuh 11,6 persen menjadi Rp 202 miliar, administrasi deposito tumbuh 2,7 persen menjadi Rp 2,99 triliun, dan dari lain-lain tumbuh 4,7 persen.
Transaksi e-channel banking BRI memang terus meningkat terutama lewat internet banking dan mobile banking tumbuh sangat signifikan.
Masing-masing meningkat 124,6 persen menjadi 865,2 juta transaksi dan 25,7 persen menjadi 285 juta transaksi per September 2019.
Sedangkan transaksi ATM hanya naik 4,4 persen jadi 1,71 miliar.
• Berlaku 2 November 2019, Ini Tarif Anyar Tol Tangerang-Merak
PT Bank Pembangunan Jawa Timur Tbk juga menorehkan pertumbuhan FBI sebesar 15,8 persen yoy menjadi Rp 425 miliar.
Pertumbuhannya tersebut jauh lebih tinggi dari kuartal III 2018 yang hanya tercatat naik 9,26 persen yoy.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/kesiapan-uang-tunai___98989.jpg)