Kamis, 14 Mei 2026

Perbankan Mengoptimalkan Pendapatan Berbasis Biaya dan Komisi

Bank terus berupaya mengoptimalkan pendapatan berbasis biaya dan komisi atau fee based income (FBI).

Tayang:
thinkstockphotos
Ilustrasi. 

WARTA KOTA, PALMERAH--- Bank terus berupaya mengoptimalkan pendapatan berbasis biaya dan komisi atau fee based income (FBI).

Hal itu dilakukan di tengah tren penurunan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) seiring pemangkasan suku bunga acuan.

FBI ini diharapkan masih bisa menopang pertumbuhan perolehan laba hingga ujung tahun.

Upaya-upaya yang sudah terbukti berhasil mendorong pertumbuhan pendapatan non bunga sejumlah bank hingga kuartal III 2019.

Tren Suku Bunga Terus Turun, Reksadana Terproteksi Menjadi Pilihan: Berikut Alasannya

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), misalnya, mampu mencatat FBI sebesar Rp 8,13 triliun sepanjang Januari-September tahun ini.

Capaian ini meningkat 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2018 (year on year/yoy).

Sementara pada kuartal III 2018, FBI bank ini hanya tumbuh sebesar enam persen secara yoy.

Performa pendapatan fee dan komisi yang cukup bagus ini turut membantu perolehan laba bersih BNI tetap tumbuh 4,7 persen di tengah perlambatan pertumbuhan net interest income (NII).

Pendapatan bunga bersih hanya tumbuh 3,3 persen, lebih rendah dari 10,6 persen pada triwulan III tahun lalu.

Pertumbuhan FBI BNI ini didorong dari pendapatan recurring fee.

Ekonomi Dunia Melemah, Ini Penjelasan BEI dan OJK soal Proyeksi Pertumbunan Pasar Modal Tahun Depan

Adapun sumber pendapatan fee dan komisi perseroan berasal dari pemeliharaan account sebesar Rp 1,41 triliun (naik 16 persen), bisnis kartu Rp 1,18 triliun (naik 12,6 persen).

Kemudian ATM sebesar Rp 926 miliar (naik 16,5 persen), pemeliharaan kartu debit Rp 326 miliar (naik 57,5 persen).

Dari remitansi sebanyak Rp 172 miliar (naik 7,6 persen), trade finance Rp 909 miliar (meningkat 9,4 persen), marketable securities Rp 680 miliar (naik 58,1 persen), sindikasi Rp 325 miliar (naik 81,6 persen), pendanaan pensiun Rp 125 miliar (naik sembilan persen).

Direktur Manajemen Risiko BNI, Rico Rizal Budidarmo, mengatakan, FBI sangat penting untuk dijaga dalam jangka panjang.

Ini akan menjadi strategi bank menjaga laba di tengah NIM yang semakin menantang dan likuiditas yang kian ketat.

Sumber: Kontan
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved