Hari Santri Nasional

Hari Santri Nasional, Said Aqil: Islam Tidak Boleh Dibela Dengan Pekik Takbir di Jalan-jalan

Momen Kebangkitan Santri, KH Said Aqil Siroj Tegaskan Soal Kejayaan Islam serta Tidak Boleh Dibela Dengan Pekik Takbir di Jalan-jalan

Hari Santri Nasional, Said Aqil: Islam Tidak Boleh Dibela Dengan Pekik Takbir di Jalan-jalan
ANTARA/Muhammad Zulfikar
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj (tiga dari kanan) usai melakukan pertemuan dengan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph Donovan (jas hitam) di Gedung PBNU Jakarta, Senin (21/10/2019). 

"Demikian inilah yang dicontohkan Walisongo. Islam tidak diajarkan dalam bungkusnya, tetapi isinya. Bungkusnya dipertahankan dalam wadah budaya Nusantara, tetapi isinya diganti dengan ajaran Islam. Budaya dijadikan sebagai infrastruktur agama, sejauh tidak bertentangan dengan syariat," ungkap Said Aqil.

Islam dalam ethos santri dijelaskannya memiliki beragam arti, antara lain keterbukaan, kecendekiaan, toleransi, kejujuran, dan kesederhanaan.

Semangat inilah yang diwariskan oleh salafus shalih, yang telah mencontohkan cara bela agama yang benar. Islam katanya pernah mencapai zaman keemasan pada abad ke-7 sampai dengan abad 13 M dengan ilmu dan peradaban.

Ini Fakta & Penyebab Utama Bus Sudiro Asal Ponorogo Bisa Masuk Jalan Sempit di Tengah Hutan|

Para filsuf dan ulama tersebut seperti Jabir ibn Hayyan (721-815 M), Al-Fazari (w. 796/806 M), Al-Farghani (w. 870 M), Al-Kindi (801-873 M), Al-Khawarizmi (780-850 M), Al-Farabi (874-950 M), Al-Mas’udi (896-956 M), Ibn Miskawaih (932-1030 M), Ibn Sina (980-1037 M), Al-Razi (1149-1209 M), Al-Haitsami (w. 1039 M), Al-Ghazali (1058-1111 M), dan Ibn Rushd (1126-1198 M)

"Mereka telah berjasa kepada dunia dkarena melahirkan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Manfaatnya lintas zaman, melampaui sekat agama dan bangsa," jelas Said Aqil.

Selain itu, terdapat sejumlah santri yang menjadi tokoh nasional di antaranya Abdul Hamid Pangeran Diponegoro.

Jauh sebelum dikenal sebagai panglima perang era kolonialisme Belanda, Pangeran Diponegoro merupakan santri tulen yang mondok pertama kali kepada KH Hasan Besari Tegalsari, Jetis, Ponorogo untuk mempelajari kitab Fathul Qorib, kitab kuning pada KH Taftazani Kertosono, Tafsir Jalalain kepada KH Baidlowi Bantul-Jogjakarta, dan hikmah kepada KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang.

Hong Seok Cheon Sebut Sulli Pernah Buat Akun Instagram Pribadi dan Ungkap Depresinya

Tidak hanya Pangeran Diponegoro, terdapat pula figur tokoh nasional lainnya yang merupakan santri, yakni Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara alias Suwardi Suryaningrat yang membaca Al- Qur’an kepada Romo K. Sulaiman Zainuddin Kalasan-Prambanan serta penggubah lagu 'Syukur' yakni Habib Husein Muthahar.

"Dunia berterima kasih kepada Islam karena ilmu pengetahuan. Itulah cara bela Islam yang benar. Islam tidak boleh dibela dengan pekik takbir di jalan-jalan, dengan kerumunan massa yang mengibar-ngibarkan bendera, dengan caci maki dan sumpah serapah. Islam harus dibela dengan ilmu pengetahuan dan peradaban. Itulah cara bela Islam yang benar," ungkapnya.

"Benarlah peringatan Imam Ghazali dalam kitab Tahâfutul Falasifah, 'kehancuran agama dari para pembela yang tidak tahu caranya membela itu lebih besar daripada kehancuran agama dari para pencela'. Santri mewarisi legacy yang ditinggalkan oleh para ulama di abad keemasan Islam. Karena itu, kebangkitan Islam akan sangat ditentukan oleh kiprah dan peranan kaum santri. Selamat Hari Santri 2019. Santri Unggul Indonesia Makmur," tutupnya.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved