Hari Santri Nasional

Hari Santri Nasional, Said Aqil: Islam Tidak Boleh Dibela Dengan Pekik Takbir di Jalan-jalan

Momen Kebangkitan Santri, KH Said Aqil Siroj Tegaskan Soal Kejayaan Islam serta Tidak Boleh Dibela Dengan Pekik Takbir di Jalan-jalan

Hari Santri Nasional, Said Aqil: Islam Tidak Boleh Dibela Dengan Pekik Takbir di Jalan-jalan
ANTARA/Muhammad Zulfikar
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj (tiga dari kanan) usai melakukan pertemuan dengan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph Donovan (jas hitam) di Gedung PBNU Jakarta, Senin (21/10/2019). 

PERINGATAN Hari Santri Nasional dinilai Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), KH Said Aqil Siroj sebagai momen kebangkitan santri dan pesantren di Indonesia.

Kebangkitan yang menurutnya dapat mengembalikan kejayaan Islam seperti pada masa keemasannya, bukan pembelaan lewat pekik takbir di jalan, mengibar-ngibarkan bendera atau caci maki dan sumpah serapah.

Hal tersebut disampaikan Said Aqil lewat situs resmi (NU), www.nu.or.id; pada Selasa (22/10/2019).

Lewat peringatan Hari Santri, Saiq Aqil berharap agar santri dapat berperan aktif dalam pembangunan bangsa dan negara melalui fungsi pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat, terlebih Undang-undang (UU) Pesantren telah disahkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia pada tanggal 24 September 2019 lalu.

https://www.nu.or.id/post/read/112442/amanat-ketum-pbnu-pada-hari-santri-22-oktober-2019"

"Hari ini tahun keempat Keluarga Besar Nahdlatul Ulama dan seluruh rakyat Indonesia memperingati Hari Santri. Setelah sebelumnya peran kaum santri diakui negara melalui Kepres Nomor 22 Tahun 2015 tentang Penetapan Tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri, tahun ini kaum santri kembali mendapat penguatan negara melalui pengesahaan UU Pesantren," ungkap Pengasuh Pesantren Al-Tsaqofah Ciganjur, Jakarta Selatan itu.

Pada era revolusi 4.0, santri katanya harus kreatif, inovatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman sekaligus teguh menjaga tradisi.

Santri pun ditegaskannya tidak boleh kehilangan jati diri sebagai muslim yang berakhlakul karimah, menjunjung tinggi ajaran agama, terutama metode dakwah dan pemberdayaan Wali Songo.

Seluruh santri yang disatukan dalam asasiyat atau dasar dan prinsip perjuangan, khalfiyat atau sejarah dan ghayat atau tujuan itu ditegaskannya harus memperjuangkan ajaran Islam berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu Islam bermazhab.

Kim Yoon Seo dan Do Sang Woo Putus Setelah 4 Tahun Berpacaran

Sehingga santri harus cerdas dalam mengembangkan argumen Islam moderat yang relevan, kontekstual, membumi, dan kompatibel dengan semangat membangun simbiosis Islam dan kebangsaan di tengah maraknya kampanye Islam anti-mazhab saat ini.

Halaman
12
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved