Kamis, 7 Mei 2026

Kesehatan

Ranitidine Penyebab Risiko Kanker Ditarik dari Pasaran Dianggap Tak Banyak Berdampak di Indonesia

Nitrosamine adalah senyawa karsogenik (penyebab kanker) yang terdapat pada makanan yang diawetkan oleh nitrit.

Tayang:
Penulis: |
Warta Kota/Lilis Setyaningsih
Prof Aru Wisaksono Sudoyo 

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menarik obat asam lambung Ranitidine.

Pasalnya, obat tersebut tercemar nitrosamine yang dikaitkan dengan risiko penyakit kanker.

Buntut ditariknya Ranitidine oleh BPOM, Ketua Yayasan Kanker Indonesia Prof Dr Aru Wisaksono Sudoyo SpPD KHOM FACP mengatakan, efek samping obat asam lambung itu kecil.

Apalagi, kata Aru Wisaksono, pengobatan menggunakan Ranitidine juga tidak banyak.

Menurut dia, Raditine yang ditarik itu merupakan kontaminasi atau kecelakaan produksi oleh bahan yang dianggap pemicu kanker.

Di Indonesia penggunaan Ranitidine pun tidak dalam jangka panjang. Biasanya dokter memberikan Ranitidine ketika dirawat 5 hari. Ranitidine yang ditarik dalam bentuk infus.

4 Alasan Tubuh Anda Mengalami Peningkatan Berat Badan Tanpa sengaja

Cara Menghadapi Ketakutan dan Membangun Percaya Diri Untuk Meraih Kesuksesan

"Karena ada kabar terkontiminasi semua Ranitidine ditarik sampai seluruhnya semua diperiksa," kata Aru Wisaksono disela pelatihan 'Patient Journey in Oncology Total Solution di Hotel Rancamaya, Selasa (8/10/2019).

"Dan itu kontaminasi atau kecelakaan produksi bukan bahan utamanya yang menyebabkan kanker," ujarnya lagi.

Dia menjelaskan, jika ada pasien mengonsumsi Ranitidine yang tercemar, dampaknya tidak besar karena tidak digunakan jangka panjang dan harus resep dokter.

Prof Aru mengatakan, masyarakat juga sebenarnya sudah terpapar nitrosamine tanpa sadar dan paparannya diduga lebih tinggi daripada Ranitidine.

Nitrosamine adalah senyawa karsogenik (penyebab kanker) yang terdapat pada makanan yang diawetkan oleh nitrit.

Nitrit sering digunakan untuk mengawetkan daging, ikan, keju agar bakteri pembusuk tidak dapat berkembang biak.

Ubah Pola Pikir Untuk Meningkatkan Optimisme dan Mengurangi Kecemasan Setiap Hari

Hidup Hanya Sekali, Barbie Kumalasari Habiskan Rp 200 Juta Untuk Perawatan Kecantikan

Contoh makanan yang mengandung nitrosamine diantaranya kornet dan ikan asin.

Prof Aru membandingkan dampak lebih besar mengonsumsi ikan asin pada kanker nasofaring.

Biasanya mengonsumsi ikan asin lebih sering dianggap berisiko kanker nasofaring.

Alasannya,  pada proses pembuatan ikan asin mengandung nitrosamine.

Begitu juga karsinogen terkandung di kornet.

Namun, sekecil apa pun pencemaran karsinogen, memang harus dihindari dan penarikan Ranitidine yang tercemar harus dilakukan.

Kekasih Bule Ikut-ikutan Dihujat Warganet, Dihasut Untuk Tinggalkan Nikita Mirzani

Seperti diketahui, Ranitidine ditarik dari pasaran karena hadirnya N-nitrosodimethylamine (NDMA), yang diklasifikasikan sebagai karsinogen manusia pada level rendah.

Ranitidine umumnya digunakan sebagai obat untuk heartburn atau refluks lambung.

Sakit maag biasanya disebabkan oleh regurgitasi asam lambung (gastric reflux) ke kerongkongan dan  gejala utama GERD atau penyakit refluks gastroesofagus.

Penarikan BPOM ini dilandasi keputusan badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat (FDA) yang menarik Ranitidine.

Namun, FDA juga hingga kini tidak tahu dari mana kontaminasi NDMA di ranitidine berasal.

5 Sayuran Terbaik untuk Jus yang Menyegarkan dan Menyehatkan Tubuh

Namun, pada Agustus  lalu, FDA menyetujui pabrik India yang membuat beberapa bahan obat.

Diperkirakan bahwa 80 persen bahan yang digunakan dalam obat-obatan Amerika Serikat diproduksi di luar negeri, terutama di India dan Cina.

Pernyataan BPOM itu diumumkan melalui laman resmi pom.go.id dan akun instagram bpom_ri.

BPOM meminta industri farmasi pemegang izin edar produk tersebut agar berhenti produksi dan mendistribusikan, serta melakukan penarikan kembali seluruh batch produk dari peredaran. 

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved