Pelaku E-commerce Mulai Ingin Mandiri
Berulangkali mendapatkan suntikan dana hingga jutaan dollar Amerika Serikat (AS) dari investor, para pelaku e-commerce tampaknya semakin ingin mandiri
WARTA KOTA, PALMERAH--- Berulangkali mendapatkan suntikan dana hingga jutaan dollar Amerika Serikat (AS) dari investor, para pelaku e-commerce tampaknya semakin serius ingin mandiri.
Mereka mencari aneka peluang monetisasi bisnis.
Bukalapak, misalnya, berambisi menjadi unicorn pertama yang meraih titik impas investasi alias break even point (BEP).
"Tujuan kami selanjutnya break even atau juga mulai meraih keuntungan," kata Intan Wibisono, Head of Corporate Communication Bukalapak, seperti dikutip Kontan baru-baru ini.
Selain platform dagang, Bukalapak fokus pada mitra bisnis, layanan finansial, dan beberapa program yang berkaitan dengan layanan pemerintah atau e-government.
• Ekonom INDEF: Bukalapak Alami Dotcom Bubble?
Dalam program Mitra Bukalapak, contohnya, mereka menjadi intermittent supplier atau pemasok terputus yang menyodorkan harga jual bersaing.
Target Bukalapak adalah menggaet lebih banyak mitra untuk berjualan.
Dalam catatan Bukalapak sejauh ini, ada lebih dari 2 juta warung mitra dan agen individual di 477 kabupaten dan kota seluruh Indonesia.
Setiap hari, perusahaan itu mencatatkan transaksi penjualan lebih dari 2 juta.
Iming-iming lain yakni Bukalapak memungut pajak kepada para mitra pelapak.
Namun, mereka menerapkan program Super Seller yang mengharuskan mitra pelapak untuk membayar satu peren dari hasil penjualan.
Bukalapak menjanjikan aneka fitur, bonus dan diskon atas keikutsertaan program itu.
Selain menjalankan program yang sudah ada, Bukalapak akan menyodorkan aneka produk inovatif.
Beberapa di antaranya seperti Serbu Seru, Flash Deal, dan promosi Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas).
Ada pula produk-produk virtual yakni BukaAsuransi, BukaPembiayaan, dan Tiket Kereta Bandara.
• Bukalapak Melakukan Pengurangan Karyawan, Ini Tanggapan dari INDEF
Mengintip situs Bukalapak, laba kotor hingga pertengahan 2019 naik tiga kali lipat ketimbang pertengahan 2018. Mereka telah mengurangi setengah kerugian dari pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) dalam delapan bulan terakhir ini.
Sementara dalam pemberitaan Kompas.com, Bukalapak dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) 100 orang karyawan.
Manajemen perusahaan mengaku perlu menata diri demi mengikuti kebutuhan masyarakat yang kian maju.
Pelaku e-commerce lain yaitu Tokopedia juga sudah aktif mengulik potensi pendapatan.
Mereka antara lain memiliki sumber pendapatan dari TopAds dan Power Merchant.
TopAds merupakan iklan pelapak yang menempatkan produk pelapak berada di urutan teratas dalam daftar pencarian.
Menurut penjelasan dalam situs Tokopedia, sistem pembayaran TopAds adalah cost per click.
Pelapak harus membayar setiap kali iklan diklik oleh pengunjung Tokopedia.
• Merchant di E-Commerce Mulai Dikenakan Bayaran, Berikut Penjelasan dari idEA
Sebelum mengaktifkannya, pelapak mengisi kredit TopAds terlebih dahulu dengan nilai Rp 100.000 hingga Rp 5 juta.
Risiko galang dana
Sementara Power Merchant merupakan sistem keanggotaan pelapak yang menawarkan berbagai fitur eksklusif.
"Penjual yang bergabung Power Merchant cukup membayar biaya layanan satu persen ketika produk pelapak berhasil terjual," kata Nuraini Razak, Vice President of Corporate Communications Tokopedia melalui Antonia Adega, Public Relations Specialist Tokopedia.
Indonesian E-Commerce Association (idEA) tak kaget mendengar semakin getolnya para pelaku e-commerce mencari sumber pendapatan sendiri.
Pelaku usaha rintisan yang sudah memiliki basis pasar yang kuat dan valuasi besar akan beranjak untuk memonetisasi bisnis.
Tujuan monetisasi bisnis untuk menghindari risiko kegagalan dalam penggalangan dana baru.
Adapun semakin besar nilai valuasi perusahaan, kebutuhan biaya investasi juga semakin banyak.
Sementara tak mudah mencari investor yang bisa memberikan dana sebesar yang diharapkan oleh perusahaan itu.
Ambil contoh perusahaan rintisan dengan valuasi Rp 10 triliun yang membutuhkan dana Rp 1 triliun.
"Untuk mendapatkan dana sebesar itu dia harus melepas share 10 persen, ada yang mau enggak bayar Rp 1 triliun untuk share 10 persen?" kata Ignatius Untung, Ketua Umum idEA.
• Dana Asing Keluar dari Saham Pindah ke Obligasi, Apa Penyebabnya?
Berita ini sudah diunggah di Kontan dengan judul Pelaku E-commerce Mulai Ikhtiar Menyapih Bisnis
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/e-commerce_9999.jpg)